Bergeminglah

image

Bergeminglah bersama suara hujan
Rinai yang dulu pernah membasahi tubuhku
Dingin yang sekali saja menyergapku
Lalu terbaringlah diantara bunyi jam

Menarilah,
Seolah dahan-dahan di depan rumahmu belum meranggas
Seolah bunga-bunga disitu tak pernah mengering
Dan engkau akan bernyanyi
Engkau akan menari lagi

Tapi jangan bersembunyi seperti tetes hujan diantara daun-daun basah
Atau menyerupai batas langit yang tak bisa kugapai

Karena aku iri,
Kepada angin yang mampu terbang menyentuh seluruh daratan
Pada hujan yang mampu mengubah gersang menjadi subur
Lalu mereka semua akan rindu
Pada desau angin
Pada rintik hujan

Namun aku tak disana
Aku bukan hujan ataupun angin
Aku hanya bayangan awan yang hilang seiring terkikisnya matahari
Dan engkaulah Bumi tempatku membayang
Sebuah bayangan terlukis di ranahmu
Namun tak pernah sekalipun menyentuhmu

Terus bergeminglah,
Karena bergeming satu-satunya jalanku untuk tahu keadaanmu

Secangkir Teh Krisan

image
Pinterest.com

Secangkir Teh Krisan lengkap dengan gula tersaji di meja. Waktu itu adalah hari ulang tahunmu yang ke-dua puluh tahun. Engkau menunggu ucapan istimewa dari seseorang yang telah berdiam lama di balik pintu. Namun pintu itu tak pernah terbuka. Dia tak pernah berkata-kata.
Mungkinkah dia lupa?
Bukannya engkau dan dia terlalu sering menduga-duga yang tiada. Padahal kalian sama-sama mencinta. Namun sama-sama lupa bahwa cinta tidak berjalan sendiri. Ia butuh dua tokoh yang berperan dan saling menyeimbangi.

Engkau menikmati hujan sore itu. Percikan air hujan sesekali menitik di tubuhmu yang terbungkus sweater tebal. Apa engkau lupa bahwa hujan pernah memisahkan kalian hingga tak bersama lagi. Hujan hanya segelintir kisah yang terurai diantara kisah-kisah sedih kalian. Masih banyak kenangan lainnya. Seperti saat kalian mengunjungi toko roti, kedai es krim, pasar bunga atau warung Kopi di pinggir jalan. Dia yang engkau sayangi kini hanya hidup dalam imaji. Dia akan selalu ada dipikiranmu namun tak selamanya bertahan dihidupmu.

Mungkinkah dia menjadi racun. Yang mengalir dalam darah menuju ke jantung hingga ke otak. Apakah itu alasanmu meminum teh Krisan setiap senja. Untuk mendetoksifikasi racun di tubuhmu. Agar dia selamanya pergi. Kalian lebih baik berpisah selamanya dan tak bersama lagi. Kalian akan baik-baik saja.
Mungkinkah engkau akan lupa?
Saat hujan berhenti dan engkau menyadari. Bahwa hujan hanya akan melintas beberapa saat saja. Berpindah ke ranah yang lain. Mengalir menuju laut, menguap, dan kembali menjadi hujan.
Ya, engkau akan lupa.

Tuhan Begitu Baik

Jangan mengira saya akan melupakan kamu begitu saja.
Kamu tetap hal paling murni yang datang dari lahir tanpa perlu jungkir-balik balik dicapai.

Iya hari ini Tuhan begitu baik. Terimakasih sudah menunjukkan bagaimana rasanya menjadi gagal, berjuang lagi untuk kemudian merasakan keberhasilan.
Tetap pada pendirian awal. Sekalipun suatu saat saya bakalan jadi psikolog. Menulis tetaplah bakat alami yang saya punya. Salah satu sarana untuk menyeimbangkan kesedihan dan kebahagiaan. Yang akan jadi media untuk bertukar sedih maupun senang.
Setelah kuliah psikologi selama setahun di Surabaya dan memutuskan mendaftar SBMPTN lagi. Hari ini saya diterima di Universitas Brawijaya Jurusan Psikologi. Ya sangat membahagiakan, tahun lalu ditolak mentah-mentah dan akhirnya hari ini berhasil diterima. Ya Tuhan begitu baik.

Membaurlah

image

Membaurlah dengan warna senja
Dan sepotong kenangan yang terlupakan
Melintas pada batas langit dan bumi
Bersama angin dan hujan

Dia,
Yang menerbangkan secarik kertas
Kepada angin yang bergerak maju
Melintasi ranah dan lautan
Demi sepotong jawaban

Lelaki itu,
Yang bertukar jawaban dengan hujan
Dengan rintik-rintik rindu yang akan bermuara ke lautan
Dengan puisi dan keheningan
Masihkah dia menunggu dan menulismu

Sepotong kenangan itu,
Masihkah ia simpan
Tentang jalan-jalan yang basah
Daun-daun rontok di sepanjang jalan
Dan luka yang merekah begitu saja

Jawaban itu,
Kemana ia hilang dan berlalu
Apakah hanya dengan puisi mereka akan menyatu
Atau hanya untaian kata-kata
Yang akhirnya lepas begitu saja

Tapi masih ingatkah lekaki itu,
Langit yang membaur dengan warna senja
Warna-warni lampu kota
Dan puisi yang mereka tulis bersama

Mimpi dan Puisi

image

Kamu ingat rambutku yang panjang. Aku yang suka minum Teh di pagi hari dan menulis puisi untukmu. Aku ingat waktu itu hujan di akhir bulan Januari hingga suhu udara disini mencapai 19 derajat Celsius. Sedikit tak wajar karena biasanya suhu terendah disini hanya sampai 25 derajat Celsius. Dan saat itu dingin menyelimuti badan. Namun aku masih enggan menarik selimut untuk tidur. Jam sembilan pagi saat hujan sesekali dibawa angin melewati jendela.
Aku tidak lupa jika aku dulu seorang penulis puisi dan bercita-cita menjadi penyair di Indonesia. Ada lima buku kumpulan puisi yang telah kutulis sejak sekolah menengah pertama. Buku yang entah dimana saat ini. Waktu itu aku tahu bahwa puisi adalah dunia lain yang membuatku nyaman dan bertahan. Satu-satunya saluran untuk mengutarakan sedih, senang, sepi dan segala jenis perasaan yang ada di kepala.

Kamu ingat puisi yang aku bawa pulang. Puisi karanganmu yang tak sengaja kubawa berlalu. Dulu kita masih sama-sama amatiran saat berkarya. Berharap menjadi penulis muda yang sukses di Indonesia. Apa ada yang lebih indah dari dua orang yang berbakat sama bermimpi sama dan saling mencintai.
Tapi sekali lagi bahwa Charles Darwin tidak berbohong tentang teorinya. Manusia berevolusi. Kita akan berubah. Entah menuju kemajuan atau kemunduran. Dan aku berharap pada poin pertamalah aku berada sekarang.

Kamu lihat aku sekarang. Rambutku tinggal sebahu dan ingin selalu tampil milenial di depan banyak manusia. Aku tidak merubah apapun. Aku masih perempuan yang menulis untukmu. Bukan puisi, hanya cerita-cerita sederhana. Meski sekarang cita-cita kita beda. Kamu bukan penulis puisi amatiran lagi. Kamu telah berevolusi. Melangkah jauh di depanku. Aku tidak melihat apa-apa melainkan hanya bayanganmu yang menjauh dan tidak pernah menoleh.
Tapi lihatlah aku, masih perempuan yang sama. Yang mengagumi keberadaanmu dan mencintai karya-karyamu.

Berbakat atau Tidak?

image

Kita mungkin akan lebih dekat dan aku bisa menjangkaumu.
Atau lebih jauh hingga mataku pun tak mampu lagi menangkap posisimu.
Tapi kamu ada. Aku percaya.
Bukankah dunia kita hanya sebatas gumpalan awan yang meledak dahulu kala. Pancaran kabut plasma yang akhirnya mendingin saat kita mengembang.
Dunia kita ada. Dan aku percaya.

Kita mungkin dua manusia yang sejenak dipertemukan waktu. Dan lupa bahwa waktu juga berbatas.
Dan ketika waktu bergulir maju. Aku masih mencarimu seperti seseorang yang kehilangan dunianya.
Aku berandai-andai, apakah udara kita sama, bagaimana langit kita, atau angin yang sesekali menerpa saat aku tiada.
Kuyakini bahwa udara tetaplah ruang kosong yang didisi gas Oksigen, Karbondioksida, dan zat lain yang sebaiknya tak dihirup.
Dan langit, ia tetaplah biru meski awan sesekali menutupi warna aslinya.
Namun aku percaya. Engkau tak lagi sama. Engkau berbeda.

Waktu akan tetap bergulir maju. Perubahan akan tetap menjadi masalah konstan yang tidak dimengerti cara terbaik untuk menghadapinya.
Hidup kita masih ada. Dan aku percaya.

🌳🌳🌳🌳🌳

Catatan singkat Juni hari pertama.
Aku masih berpikir apakah aku cukup berbakat untuk menggapai mimpi, menulis puluhan buku, puisi, dan cerita-cerita pendek?

Tentang Kota dan Sebuah Karya

image
Pinterest.com

Aku jatuh cinta pada sebuah kota. Kau tak menetap disana atau bahkan tak pernah mampir kesana. Kau membencinya dengan sempurna. Kota itu adalah daerah peninggalan Belanda yang megah di dekat laut. Sebuah kota dengan iringan lampu-lampu saat malam namun akan padam saat siang. Kota itu bukan impian semua orang tapi impianku.
Tak ada yang berharap tenang tinggal disana. Tidak akan ada seniman jalanan, toko bunga di pinggir jalan, penari-penari yang anggun atau pelukis di alun-alun. Yang ada hanya kerumunan manusia yang sibuk dengan kehidupan masing-masing. Bangunan tinggi di setiap mata memandang dan macetnya jalan saat pergi atau pulang kerja. Kota itu bukan impianmu tapi impianku.

Dari sanalah pengelana memulai mimpinya untuk berpetualang dalam hidupnya sendiri. Menimbang-nimbang yang pas dan yang tidak untuk dibawa pergi. Dia belum menyerah. Belum. Masih akan terus bermimpi. Meski kau tahu, kegagalan adalah beban di punggungnya. Satu-satunya alasan ia menangis tiap malamnya. Dan luka-luka itu pasti akan menganga lagi namun dengan pasti akan menutup kembali. Ia hanya butuh waktu dan ruang.

Dia sedang mengerjakan sebuah karya sederhana. Karya itu cuma rentetan cerita yang melibatkan dimensi khayal dan pikiran ekstra. Sederhana mungkin sangat pas dan cocok jika dijadikan bagian untuk mendefinisikan. Sebuah karya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dia ada dan bukan pecundang seperti yang mereka katakan. Sebuah karya yang lahir tanpa ada paksaan. Murni, netral dan bebas. Tak ada himpitan seperti udara di alam. Bebas.
Dan dimensi itu. Putaran waktu yang membentuk narasi dan hanya perlu sarana untuk diketahui semua orang. Tentang beban hidup dan kegagalan yang harusnya bisa membangkitkan. Sebab jatuh tak selamanya buruk. Jatuh akan mengajari bagaimana caranya bangkit. Dimensi itu melibatkan bintang-bintang di atas langit kota, juga menara-menara tinggi 50 kaki. Dia percaya jika lebih dekat dengan langit akan melebarkan dimensinya juga inspirasinya. Dan semoga karya itu adalah sebuah awal bukan sebuah akhir.
.
.
.
Aku bermimpi kita menatap bintang di Surabaya. Secangkir Kopi hangat di tangan masing-masing dan siap di hirup. Aromanya menguap bersama angin yang berembus.
Aku bermimpi kita punya rumah di menara tinggi. Dan beribu celah yang memperlihatkan langit. Langit yang merupa atap seolah rumah kita adalah seluruh ranah di Bumi.
Aku bermimpi kita punya karya bersama. Sebagai hadiah. Atau sepatah kata yang lupa terucap dan sengaja tak diucap saat tanggal dan bulannya tiba.
Aku bermimpi mimpiku bukanlah mimpi.
Catatan singkat di bulan Mei saat hujan datang untuk pertama kali.