Membicarakan Musim

image

Apa yang suka engkau temui di pagi buta,Hujan?
Mungkin bukan lagi titik-titik embun di jendela
Hanya udara dingin yang terasa begitu kering saat menghela luka. Butiran salju yang tengah turun itu terasa mengendap di dada, menjadi sesak seribu sesak mengawali kepenatan. Kadang aku rindu suara musim yang bergeming. Meranggaskan dedaunan dari ranting.
Aku suka menyaksikan pedihmu yang tertumpuk bersama kesepian. Dan angan-angan yang hilang arah bila suatu ketika rindu tak lagi rebah.

Aku tak sanggup mengerti apa yang dihempaskan butiran salju ketika pagi menyentuh kulit yang terasa beku. Kuyakin itu bukan rindu yang sedang mekar. Mungkin saja kumpulan luka yang sudah belukar.

Malam nanti bila rindu masih bernyawa, coba saja kau titipkan suara pada angin, biar lagumu tak cuma didengar musim. Letih yang sering menjamahmu itu semoga lekas bening.
Dan kesepian yang suka membisiki telinga, biar mereka segera lupa.

Aku benci menyalahkan waktu, mereka hanya keadaan yang tak berdosa. Ketika luka tumbuh dan ketika pedih mulai tersentuh. Aku juga tak mampu merubah musim, tanganku bukan tangan penyihir. Bila kemilau dingin itu menyesatkan mata, biarlah ia menyatu rindu, doakan saja agar bertemu.

Sajak yang Terluka

image
Weheartit.com

Aku ingin sekali menitip luka kepada angin, agar hilir membawanya pergi jauh. Biar luka yang sering berkelebat di kepalamu itu pergi dan supaya aku mampu kembali.
Aku ingin sekali menyiasati gundah yang tengah merekah, saat kau tahu sajak-sajak yang kutulis ini hanyalah kata berlumuran luka.

Apa yang Sanggup Aku Sematkan?

image
Weheartit.com

Apa yang bisa kusematkan pada puisi selain mengajakmu pulang kembali menelusuri seberkas kisah?
Ketika kelabu senja, mereka sendiri tak mengerti bagaimana merangkai cahaya untuk membawamu kesini
Aku melihatmu di perbatasan langit dan bumi, disana ditempat yang bahkan anginpun tak mampu menerka
Jari-jarimu yang manis sibuk merapatkan warna demi selembar kisah yang belum tentu akan engkau tempati
Aku masih mau menunggumu… Di ponselku yang sunyi ini, menanti sederetan luka yang akan kau teduhkan.
Kadang aku rindu bercengkerama denganmu di pagi buta, menyimak kembali bagaimana embun mampu menempel di dedaunan pagi. Mengkisahkan sederet sejarah yang akupun tak mengerti.

Aku rindu bagaimana luka bisa bermakna ganda, antara kenangan dan bahagia… Yang kutahu kau pernah menutup lukamu dengan seribu tetes hujan yang beku namun sejuk. Disanalah semua luka terobati seolah hujan mampu membuat kita lupa diri.

Buku-buku yang sering kita baca, mereka kini tertidur pulas tak terjamah. Tak hanya aku saja yang rindu, namun juga lembar-lembar yang kerap kau tafsirkan sebagai pilu.
Namun kau tahu, dimanapun kau kini, aku akan tetap mendoakanmu…
Sebagai hujan, engkau selalu menyejukkan

Musim yang Hening

image
Weheartit.com

Seumpama pagi ini engkau lekas pergi,
Aku tetap menunggumu pada musim yang hening
Menulis penantian sebagai alpha,
Dan menyimpan luka sebagai renta

Jangan mengulang kesedihan yang cuma bungkam
Kau tahu sebuah puisi tak akan tegar,
Untuk mengobati seribu kata yang binar
Kata yang mampu mengantarmu ke tempias lautan
Untuk melayarkan seluruh keraguan

Bila pagi ini engkau tak lagi pergi,
Jangan membuka luka yang terlanjur menganga
Seolah puisi mampu membaptis setiap kata
Menjadi rindu yang lelap, dalam kesunyian dan gelap
Aku tak cukup pantas mendamba makna

Aku harap engkau masih berumah pada musim yang hening…
Dimana rinduku, letihku disitu mereka terbaring
Terjaga merekah dunia yang asing
Dan engkau masih menjadi rinai yang bising

Tempias

image

Aku tak mampu menyebutmu, maka aku menulismu sebagai tempias, agar puisi yang kucipta selalu berbias
Kau tahu, Hujan? Kata-kata yang perdu selalu menyatu dengan rindu
Menguar bagai uap kopi di senja yang riwis, karena hanya engkaulah yang mampu kutulis