Puisi Mencari Kekasih

image
Weheartit.com

Puisi…
Ia mencari kekasih di lembaran pagi
Membuka jeda, menempel pada jendela
Menyusun rindu menjadi rima
Lalu ia tebarkan ke penjuru dunia

Puisi…
Ia mematri kisah sebagai redup
Bergulir pelan namun tetap hidup
Lalu ia coretkan nada dan irama
Menumbuhkan putih di setiap kata
Suci namun kotor oleh benci

Puisi…
Terdengar lesu namun tak layu
Kadang indah namun sebenarnya gundah
Kadang cuma kuntum luka yang merekah
Kadang juga bahasa yang lemah

Iklan

Mencatat Perih

image
Weheartit.com

Aku rindu dengan dedaunan yang ranggas dari pohon karena beku, mereka hanya luka yang belum tercatat sebagai pedih. Apalagi bila mereka jatuh bersama buih hujan yang bermuara sebagai perih.
Ini sekedar rindu, sekedar kebisuan yang berkorelasi dengan sunyi. Bukan sesuatu yang berarti.
Namun pernahkah engkau berpikir bila sebuah rindu, Hujan. Mampu mengantarmu pergi ke dalam mimpi, melampaui seluruh angan hingga pagi.

Aku lebih suka mencatat perih sebagai puisi, tenggelam ke dalam lautan sepi hingga sebuah kata datang menemuimu, menyampaikan kabar. Setelah sekian lama perih menggelegar.

Dandelion

image
Weheartit.com

Apa engkau sudah menitipkan butiran dandelion pada angin, Hujan?
Barangkali kelopaknya bisa mengobati rindu, membasuh seluruh penat agar menjauh.
Bukankah semi telah mendarat di Amsterdam, Hujan? Lalu segera tiupkanlah dandelionmu ke kotaku, agar rinduku kekal tanpa sesal

Kehilangan

image

Dan engkau benar, Hujan, aku tak paham rasanya kehilangan, kehilangan bagiku adalah perginya rintikmu yang suka aku dengungkan, ini lebih dari sekedar patah hatinya seorang pemimpi…

Berakhir

image
Weheartit.com

Ketika aku dan kamu berakhir, adakah dunia yang lebih indah dari falsafah, yang lebih teguh dari jenuh ketika ia merangkulmu dari jauh
Tangan-tanganku yang payah ini bahkan tak sanggup menarik pulang luka yang bungkam. Mungkin luka tapi mungkin juga cuma dusta.
Tubuhku sendiri, kau bilang lebih lemah dari rerantingan musim gugur,
Lebih ringan dari daunnya yang dibawa angin melebur ke angkasa.

Perihal cuaca, pikiran kita tak mampu merabai yang mesti. Yang harus terjadi saat gersang ataupun kuyup sedang menghuni. Cuaca kita seperti debu yang menyelinap ke dalam mata. Membutakan, menyiksa, meneteskan kegundahan.

Benar, kita mesti berakhir, seribu langkah untuk mengejar mimpi hanya akan hangus membelenggu, merindu, atau barangkali menipu. Aku sebut itu obsesi, yang suka mampir di kepala hanya untuk mangkir.
Kita terlampau jauh untuk saling berkejaran seperti ikan di lautan, terlalu bebas untuk tahu bagaimana sebuah rasa bisa melintas.
Dan kita memang harus berakhir…

Aku akan menyimpanmu, sebagai gelombang memori yang mengikat erat di kepala, suaramu yang lesu itu akan selalu menjadi mendung di siangku. Percayalah, lukaku ini tak akan lupa, bagaimana kenangan bisa menyiramnya seperti cuka. Perih, pedih, hanya guratan yang sedih. Selanjutnya, aku akan menandaimu seperti mengantarmu ke neraka. Kau akan tahu bagaimana rasanya bahagia!

Meringkas Jarak

image

Pukul 01:00 malam di kotamu…

Engkau tertidur pulas melupakan bahagiamu yang lepas
Mendengarkan mimpi dan mencari ruang untuk kembali, mungkin itu sunyi yang suka menepi membalut tubuhmu dengan rapi, aku tak tahu, dan aku lelah mencari tahu. Semalam engkau datang mengusik di gelap yang pengap, memasuki malam dengan langkah penuh harapan, entah itu bayangan atau tubuhmu yang mencoba datang…

Engkau menyembunyikan luka di balik tubuhmu yang lelap, aku tahu, sederetan kata itu menggoresmu dengan sakit, mungkin terlalu sibuk menggapaimu untuk sesekali menyinggahimu.

Memang tak salah bila engkau datang di tidurku semalam, sebab engkau masih menjadi doa yang aku lantunkan ketika hujan. Ketika ia menggerimisiku dengan rindu, ketika derasnya cuma bisa mewarnai kota dengan lembab, dengan keramaian yang senyap.

Bila saja aku mampu meringkas jarak, merangkum waktu agar tak terlampau jauh untuk disentuh, dan bila kita hanya sebatas dedaunan yang lepas dari pepohonan, mungkin aku akan mendatangimu setiap malam. Mengisi senyapmu dengan denting yang suka kau luapkan bersama kenangan.

Bila saja aku mampu menggapaimu dengan jemariku, sebab aku selalu menjadi perangkai kata yang dibalut rindu…