Berakhir

image
Weheartit.com

Ketika aku dan kamu berakhir, adakah dunia yang lebih indah dari falsafah, yang lebih teguh dari jenuh ketika ia merangkulmu dari jauh
Tangan-tanganku yang payah ini bahkan tak sanggup menarik pulang luka yang bungkam. Mungkin luka tapi mungkin juga cuma dusta.
Tubuhku sendiri, kau bilang lebih lemah dari rerantingan musim gugur,
Lebih ringan dari daunnya yang dibawa angin melebur ke angkasa.

Perihal cuaca, pikiran kita tak mampu merabai yang mesti. Yang harus terjadi saat gersang ataupun kuyup sedang menghuni. Cuaca kita seperti debu yang menyelinap ke dalam mata. Membutakan, menyiksa, meneteskan kegundahan.

Benar, kita mesti berakhir, seribu langkah untuk mengejar mimpi hanya akan hangus membelenggu, merindu, atau barangkali menipu. Aku sebut itu obsesi, yang suka mampir di kepala hanya untuk mangkir.
Kita terlampau jauh untuk saling berkejaran seperti ikan di lautan, terlalu bebas untuk tahu bagaimana sebuah rasa bisa melintas.
Dan kita memang harus berakhir…

Aku akan menyimpanmu, sebagai gelombang memori yang mengikat erat di kepala, suaramu yang lesu itu akan selalu menjadi mendung di siangku. Percayalah, lukaku ini tak akan lupa, bagaimana kenangan bisa menyiramnya seperti cuka. Perih, pedih, hanya guratan yang sedih. Selanjutnya, aku akan menandaimu seperti mengantarmu ke neraka. Kau akan tahu bagaimana rasanya bahagia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s