Menjadi Gerimis

image

Engkau selalu bercakap denganku tentang langit,
Mendamba matahari untuk kembali, namun tiap kali harapmu tumpah
Hanya gerimislah yang singgah…
Musim-musim ini telah lama menetap, sekian lama di kotamu enggan lagi beranjak.
Engkau kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan, namun matamu memantulkan jiwa yang menggigil sepanjang pagi ketika gerimis dengan anggun melukai semesta. Engkau selalu tak peduli namun musim-musim ini menghalangimu pergi kemana saja.

Akulah yang ingin menjadi gerimis, merangkulmu lewat deretan musim yang panjang. Mendekapmu bersama sebaris doa yang lebih dulu aku jatuhkan sebelum senja. Aku tak akan membuatmu menggigil sendirian. Pada tubuhmulah aku ingin bertahan.

Kita sepakat, tak lagi membicarakan musim. Ternyata matahari sering menutup cahayanya yang hadir pada langit mega. Membuat kita lupa bahwa dari awal memang beginilah, tentang luka-luka yang berjatuhan tiap kali musim gugur, bunga-bunga yang mekar namun tak mampu kau kirimkan ketika semi karena jarak yang panjang. Dan perapian yang kau ciptakan setiap pagi dari ranting-ranting pucat yang menjadi api.

Sederhana

image
Weheartit.com

Namaku Linda dan aku suka menatap bintang. Ada kehidupan yang mampu aku terka dalam kegelapan. Aku Kerap kali mendatangi malam ketika disana tidak ada gemercik hujan, dan langit yang muram karena mendung. Bukan berarti aku tak suka hujan, hujan tetap menjadi bagian terpenting dalam larik-larik puisiku. Karena disanalah luka-lukaku luntur terbawa oleh rintiknya yang mengalir hingga bermuara menjadi hening, dingin namun tetap sejuk ketika bertemu pagi. Disanalah ribuan bahkan milyaran kata mampu keluar ikut merayakan tetes-tetesnya yang jatuh. Aku percaya cinta tak butuh suara. Cukup satu orang yang mampu menjagamu dalam doa. Itu lebih berguna.

Jenuh, terkadang itulah satu-satunya keadaan yang berkuasa penuh. Aku begitu menikmati sunyi yang datang menghampiri. Disana aku menidurkan letih-letihku,jenuh-jenuhku. Aku tak butuh ruang lebih untuk berpura-pura bahagia karena disanalah aku menjadi ada.

Aku selalu ingin terlahir sebagai penyair, mampu menulis kata tanpa cacat. Namun kadang yang aku tulis cuma luka-luka yang berkarat. Berlebihan,mungkin, dan selebihnya kosong. Tak ada makna yang mampu kau temukan karena sebenarnya itu cuma khayalan.

Aku percaya pada mimpi, aku mengejarnya hingga terlampau jauh. Dalam mimpi aku menemukan kata-kata yang menguar kembali ke udara lalu tertulis sebagai bahagia. Aku percaya mereka semua akan menjadi nyata. Hanya lepaskan, biarkan mereka ada untuk menggenapi bahagia.

Dan aku masih suka menatap bintang, mengharapkannya untuk jatuh setiap kali malam menyelimuti kota. Aku percaya aku tak lagi sendiri sebab mereka datang untuk menyinggahi.

Dan aku percaya suatu ketika aku akan menjadi psikolog

Suatu Saat Bila Kita Dekat

image
Weheartit.com

April tanggal dua puluh empat,
Aku yakin sekarang wajahmu sedang berbinar menyaksikan puluhan manusia yang berlalu-lalang. Kaki yang melangkah lebih jauh, menelusuri jalanan kota disana. Aku akan bahagia melihat senyummu yang sering menjelma rindu di pikirku. Aku pikir lembaran ini sudah berakhir. Ternyata belum, masih ada kekosongan yang harus dipijaki. Luka-luka yang harus diobati.
Keretamu sudah melesat jauh, meninggalkan aku namun kita tidak pernah berakhir, selalu ada kita di dalam narasi.

Aku hanya iri dengan semuanya, dengan buku-bukumu,dengan kamarmu, dengan kasurmu, aku selalu ingin berkunjung kesana, diam-diam berada di bantalmu, aku ingin tahu bagaimana rasanya digenggam dan dipeluk. Merasakan pertemuan yang hangat. Aku selalu ingin dekat, aku ingin menjamah duniamu yang sebenarnya hanya rindu yang berkolaborasi dengan luka. Ini bukan buaian, aku telah berjanji untuk menulismu hingga renta, hingga tanganku keriput,hingga tua.

Suatu saat bila kita dekat ada banyak hal yang ingin aku lakukan, aku ingin menulis puisi, bermain game, membaca komik,menonton film, menatap bintang, mengunjungi Eiffel, belajar aksen Perancis dan banyak lagi. Banyak hal klise menjadi istimewa saat denganmu. Aku ingin terlelap di dekatmu hingga aku lupa bangun. Karena sebenarnya aku tidak ingin pulang. Hanya ada jemariku yang engkau genggam. Tidak ada yang lain.

Aku bahagia bila selalu suaramu yang berdengung dalam diam. Dalam ponselku, aku selalu ingin engkau berada disana tanpa lenggang tanpa lekang. Engkau selalu ada disana barangkali semenit atau dua menit menyampaikan kabar. Karena aku percaya suatu saat kita akan benar-benar dekat.

Beberapa jam lagi adalah saatku untuk pejam, jangan lupa mengirimkan rindu karena percayalah aku akan selalu ada untukmu.
Meski kita jauh namun rindu ini kuyakin selalu memiuh.

Sebelum Pejam

image
Weheartit.com

Aku selalu meringkasmu bersama doa-doa
Dan tumpukan kesepian, serta bait-bait rindu yang hidup dalam cakrawala
Dan suara malam yang mengetuk masuk bersama gulita
Terlelap, aku tak peduli, wajahmu lebih dahulu hidup di dalam gelap
Pikiran yang menyala, seperti lentera yang menggapai cahaya
Dan kesepianku semakin menumpuk, hari demi hari
Luka dan rindu ini tak lagi engkau jenguk
Mereka semua meringkuk, pada kasur yang rapi dan tertindih oleh sunyi

Sebelum pejam aku selalu ingin menulismu,
Bila bisa aku ingin melarung rindu bersama puisi
Melayarkan jauh pada samudera, bergegas kembali lalu tiada
Tak ada lagi dusta yang membayang-bayang sebagai kasih
Tak ada malam yang kosong dan keheningan yang bungkam

Sebelum pejam,
Biarkan puisi ini terlebih dahulu menguar
Sebagai uap lalu menjelma embun ke dalam pagi, mendatangimu
Meski dalam hampa udara namun terasa sejuk di dalam jiwa
Biarkan kata yang berguguran ini singgah
Karena tak ada kesombongan yang mampu ia sanggah

Batas Langit

image

Temaram sunyi…
Kegelapan membelenggu abu-abu
Alunan lugu diperaduan mentari senja
Menutupi langit senyap tak bertuah
Menduga-duga yang tiada, berkisah pada yang tak bersahaja

Gulita mulai menerkam dalam tangis kecil
Menjelajahi semesta sunyi,
Engkau terjaga dalam malam yang tak berpenghuni
Bersama tempias kecil, titik pada langit
Bintang…

Kulihat ragamu masih disana
Di batas langit senja, menunggu kejora datang
Lalu mulai menulis ribuan puisi
Dan kembali abadi seperti horizon

Waktu ini terlalu cepat, Tuan
Lantaran puisi lama yang kita cipta
Tak akan mampu mencukupi dahaga
Lantas irama yang berdendang
Tertilas oleh suara gerimis yang menyela datang

Disana kita terpisah, tak lagi bertemu
Ketika batas langit terbagi dua
Menjemput gelap bersama luka dan cahaya yang menggurat malam
Lalu luka ini menyayat sekujur tubuh
Tak lagi hidup, kaku, beku…

Ini puisiku, Tuan…
Dari sekian imaji yang terkuak olehmu
Yang membentuk delusi dari sepersekian mimpi
Mereka tak lagi cukup untuk memulai pagi
Namun aku masih menulisnya, Tuan
Syair kecil dalam buta dan berkabut
Yang setiap pagi rindu selalu menjemput

Engkau semanis yang kuceritakan pada hujan
Yang tampak dari siluet hitam senja
Ketika mentari mulai kehilangan silaunya

Engkau masih di batas langitku
Saat remang-remang puisiku mengintip bayangmu
Engkau yang kuteduhi seperti alamanda
Ketika mereka bermekaran ,penuh kehidupan

Ini bukan tentang akhir yang bahagia, Tuan
Ini tentang sebuah kisah, 
Ketika rinai hujan selalu datang
Dan wajahmu selalu terbayang sebelum pejam

Jam Dinding

image
Weheartit.com

Kau tahu? Detak yang menguasai kamarmu itu bukan sembarang detak. Karena dalam setiap detak, disana aku yakin selalu ada ragamu yang beringsut menjauh. Aku ingin menyamar menjadi jam dinding yang menghitung tiap menit di hidupmu. Yang mencuri perhatianmu, yang tiap detik selalu kau tatap. Menjadi jam dinding bukan sekedar meramal waktu yang tahu kapan engkau datang maupun pergi. Ini perihal aku yang selalu ingin meluangkan segenap hariku merangkai puisi manis, namun aku bukan pujangga. Aku tak pandai menyihir kata-kata menjadi rima.

Betapa ingin aku memasuki mimpimu setiap malam. Menyelinap masuk lebih jauh. Mencari tahu, apakah aku pernah singgah dalam kerisauan. Tidak, ini terlalu berlebihan. Aku tetap ingin menjadi jam dinding yang terusik dalam hening. Yang selalu mengingatkanmu tentang perihal penting.

Detak jam di kamarku masih bergema sama, pertanda bahwa kita memang jauh tak mampu melipat jarak. Perangaimu di pikiranku semakin kusam saja. Ini sudah delapan bulan aku menyimpanmu dalam pikiranku. Dan delapan bulan sudah engkau memberikan nyawa pada puisi-puisiku. Seperti memberi kehidupan pada kemustahilan meski itu hanya sekadar angan.

Aku selalu ingin menjadi buku atau pena yang sering kau rabai untuk menulis puisi. Aku tahu, mereka mampu merapal gundahmu melebihi aku yang cuma membisu. Atau sihir saja aku menjadi sebuah metafora dan tempatkan aku pada jeda untuk setiap kata yang menjadikannya lekang. Namun aku takut menjadi spasimu, aku takut puisimu tak lagi bermakna seperti kehadiranku yang menganggumu sekian lama.

Mendekati Sunyi

image
Weheartit.com

Mendekati sunyi,
Tubuhmu jatuh jauh ke kedalaman
Begitu lihai meramal mimpi yang bungkam
Penat-penat yang berteriak hanya sebatas sunyi
Lalu tenggelam lagi dalam memori

Menangis dalam teduh,
Engkau menjatuhkan cahaya bintang-bintang setiap malam
Sebagai air mata yang luka namun lega
Perihal ketakutan yang menggapaimu
Engkau tutup sebagai rahasia yang dijaga oleh petang

Engkau datang, kembali mendekati sunyi
Ada lagi bilur yang membiru karena pilu
Membisiki telinga dengan lantang
Dengan nyanyian merdu yang bukan hujan
Bukan bintang-bintang yang berjatuhan
Namun sunyi, yang selangkah mendekat
Membawa wajahnya semakin dekat, dengan luka
Yang telah bersemayam sekian lama