Sebelum Pejam

image
Weheartit.com

Aku selalu meringkasmu bersama doa-doa
Dan tumpukan kesepian, serta bait-bait rindu yang hidup dalam cakrawala
Dan suara malam yang mengetuk masuk bersama gulita
Terlelap, aku tak peduli, wajahmu lebih dahulu hidup di dalam gelap
Pikiran yang menyala, seperti lentera yang menggapai cahaya
Dan kesepianku semakin menumpuk, hari demi hari
Luka dan rindu ini tak lagi engkau jenguk
Mereka semua meringkuk, pada kasur yang rapi dan tertindih oleh sunyi

Sebelum pejam aku selalu ingin menulismu,
Bila bisa aku ingin melarung rindu bersama puisi
Melayarkan jauh pada samudera, bergegas kembali lalu tiada
Tak ada lagi dusta yang membayang-bayang sebagai kasih
Tak ada malam yang kosong dan keheningan yang bungkam

Sebelum pejam,
Biarkan puisi ini terlebih dahulu menguar
Sebagai uap lalu menjelma embun ke dalam pagi, mendatangimu
Meski dalam hampa udara namun terasa sejuk di dalam jiwa
Biarkan kata yang berguguran ini singgah
Karena tak ada kesombongan yang mampu ia sanggah

Advertisements

4 thoughts on “Sebelum Pejam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s