Menjadi Gerimis

image

Engkau selalu bercakap denganku tentang langit,
Mendamba matahari untuk kembali, namun tiap kali harapmu tumpah
Hanya gerimislah yang singgah…
Musim-musim ini telah lama menetap, sekian lama di kotamu enggan lagi beranjak.
Engkau kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan, namun matamu memantulkan jiwa yang menggigil sepanjang pagi ketika gerimis dengan anggun melukai semesta. Engkau selalu tak peduli namun musim-musim ini menghalangimu pergi kemana saja.

Akulah yang ingin menjadi gerimis, merangkulmu lewat deretan musim yang panjang. Mendekapmu bersama sebaris doa yang lebih dulu aku jatuhkan sebelum senja. Aku tak akan membuatmu menggigil sendirian. Pada tubuhmulah aku ingin bertahan.

Kita sepakat, tak lagi membicarakan musim. Ternyata matahari sering menutup cahayanya yang hadir pada langit mega. Membuat kita lupa bahwa dari awal memang beginilah, tentang luka-luka yang berjatuhan tiap kali musim gugur, bunga-bunga yang mekar namun tak mampu kau kirimkan ketika semi karena jarak yang panjang. Dan perapian yang kau ciptakan setiap pagi dari ranting-ranting pucat yang menjadi api.

Advertisements

One thought on “Menjadi Gerimis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s