Menunggui Pagi

image
Weheartit.com

Rindu suka berkeliaran ketika pagi,
Menceritakan pertemuan yang tiada
Dan uap kopi yang bercengkerama bersama angin
Mengatakan tentang abu-abu,
Yang sembunyi di redup matamu

Sebelumnya rindu pernah singgah pada detak jam
Menunggui pagi,
Sebelum berjumpa dengan kehidupan
Dan jatuh cinta pada keadaan

Lalu udara yang menawarkan kehangatan
Dari uap kopi,
Tempat rindu melarutkan kelelahan
Dan rindu itu masih suka berkeliaran
Menunggui pagi,
Menjemput senyummu bersama matahari

Kesedihan Bermuara di Tubuhku

image
Weheartit com

Ketakutan ini bermuara pada tubuhku
Ketika malam menggigil bersama tetes hujan yang tak ada habisnya
Doa-doa yang menguar ke udara,
Seperti hampa yang mengalir pelan menjadi dahaga
Dan ketika pagi bersemi bersama kabut yang mengaburkan mata

Ketakutan ini menjelma ke dalam waktu
Menjadi antah-berantah yang bergelantungan seperti pilu
Menebar air mata setiap kehilangan,
Seolah Tuhan tiada datang memberi pertolongan

Kesedihan ini tak mau beringsut dari kasur
Masih tertidur pulas enggan menarik selimut
Ketika hujan menggema bersama malam
Dan doa-doa yang berjatuhan,
Ku yakini kembali mengudara menuju Tuhan

Kesedihan ini mengikis tubuhku
Semakin ringkih terbawa waktu
Dan kehilangan yang menjadi luka,
Tentang harapan yang berjatuhan dari nirwana
Hanyalah delusi yang berlinang dari dalam mata

Ketakutan ini menggenang seperti air
Ketika hujan datang dan doa yang tiada mengalir

Sebelum Menjadi Candu

image
Weheartit.com

Sebelum menjadi candu, engkau pernah melangkah begitu dekat namun tak pernah rapat
Sebelum menjadi luka, kita pernah berbahagia membagi kenangan seperti bulan yang membagi cahaya kepada malam
Sebelum menjadi perih, luka ini sebelumnya tak terasa, karena sebenarnya ia tak bernyawa
Sebelum menjadi gelap, kehidupan pernah mengalami siang yang panjang bersama cahaya yang menyengat menjadi terik
Sebelum menjadi embun, malam pernah melewati rintangan bersama hujan deras yang tak segera reda
Dan sebelum menjadi candu, engkau lebih dulu berlalu meninggalkan bekas yang tak akan membekas, membuang rindu yang tak akan terbalas…

Tahun Ke-6…

image
Weheartit.com

Aku ingin menulismu dengan ketukan nada-nada yang indah…
Sepertimu yang  selalu melagukan aku dengan runcing suara pagi di waktu subuh
Pikiranku telah lama mengapung-apung di atas angin, membiarkan desaunya menghilir sebab,
Tak ada kemunafikan yang mampu diciptakan rerumputan menari di padang sabana ketika angin membawanya untuk bahagia
Namun kita, semakin tersesat dan mungkin tak lagi kembali setelah jauh melangkah, setelah jauh melagukan suara-suara pendoa

Ini sudah tahun ke enam, ketika tiba-tiba langkahmu mengusik tidurku yang panjang. Dan disana kau temukan namamu masih rapi pada deretan panjang doa-doa…
Masih ada sebaris namamu yang tak pernah putus dari cerita, yang terekam dari setiap beku malam. Setiap lilin dinyalakan, disanalah jemariku percaya. Engkau akan selalu ada. Meski mustahil untuk teraba.

Angin Tak Bertanya

image
Weheartit.com

Angin tak akan bertanya pada dedaunan sebelum menjatuhkannya kepada tanah.
Dan ranting akan selalu pasrah ketika kepingan tubuhnya jatuh membaur bersama debu.
Yang tersisa hanya kenangan yang abadi meski melapuk diguyur musim.
Perihal kehilangan, takdir masih mampu berserakan setelah lukanya semakin lebar.
Hanya ada tubuh-tubuh yang ikhlas, karena kepedihan itu menguatkan akar, menyajikan dimensi baru untuk menumbuhkan dedaunan yang lebih rindang.
Tak ada yang perdu, tak ada yang ranggas, tak ada yang rapuh kecuali kepingan yang memang tak pantas. Tak seharusnya ada sebab menjadikan keblingsatan.

Tak ada yang gagal, yang ada hanya keberanian yang harus dipulihkan…

Diam

image
Weheartit.com

Denting-denting piano ini tiba-tiba diam, untukku yang tak pandai menulis rindu di kertas, yang tak pantas menulis ketabahan di dada, katamu selalu.

Cuma aku yang berharap gerimis semakin keras tiap malam, menutupi tangis yang mendera. Yang ingin menghadirkan hujan di kotamu setiap pagi. Agar kau tak pergi lagi. Hanya berdiam diri di rumah, tak mampu kemana saja. Karena begitulah kesedihanku bisa reda.

Biarlah rindu-rindu ini menderas menjadi hujan, yang ku mau engkau selalu ada. Engkau tak perlu keluar rumah, cukup aku saja yang menghuni rindu di dada. Cukup aku yang tabah menunggumu hingga renta.

Cukup aku saja…

Rindu Tak Sengaja Bertebaran

image
Weheartit.com

Aku bercerita tentang bintang jatuh dan malam yang memaksaku mengunjunginya.
Malam yang panjang mengingatkanku tentangmu. Mendatangi malam-malam untuk merajut kenangan bersama cahaya.

Menyembunyikan luka tidak selalu mudah, tiap kali kenangan berputar kembali di kepala, rindu-rindu bertebaran. Wajah yang telah usang dan kemarau yang tak lagi pulang. Begitu saja bergema, seolah engkau masih bersamaku disana.

Ia hanya tak sengaja datang, malam yang panjang menariknya pada kekosongan yang rumit. Sebuah rindu yang tak akan selesai. Dan jarak yang begitu jauh. Jemari yang selalu digenggam oleh kesedihan.

Engkau hanya diam, hanya ada aku,kamu dan kesedihan yang tak teraba. Terasa ketika luka menidurkan kita pada kota yang berbeda. Dan setiap minggu ketika kakimu melangkah menuju gereja.

Hanya doa-doa yang tahu, dan rindu yang bertebaran. Membawa kita mengunjungi malam untuk bercerita tentang bintang jatuh,tentang kehilangan yang utuh