Terimakasih Untuk Tiga Tahun Terindah

image

Malam-malam kita habiskan. Berpaket-paket tawa, cerita terbentang ke udara. Sebelum langkah terhenti dan perjalanan panjang nan perih terbuka.

Kisah-kisah manis terurai, sebelum kita dahaga pada pertemuan. Menanti perjalanan perih ini habis. Mungkin kita tak bertemu lagi.
Hanya ada kita, lautan kata-kata. Kerlip bintang berselimut hujan. Dan kita masih menanti ribuan mimpi menjadi nyata. Segala keluh kesah tak lagi terbalas oleh resah.

Masihkah kau merinduiku nanti? Karena halaman ini sebentar lagi tamat, cerita telah tuntas,lantas kita masih belum mampu membiarkan dendam-dendam tak terbalas. Sebentar lagi tahun-tahun lalu kandas.

Karena sejauh kau pergi, engkau selalu pulang pada kenangan. Menyelami memori di masa lalu. Dan luka purba, maafkan aku yang pernah mengguratnya. Aku berusaha lihai membungkus kenangan, agar ia tetap hidup meski terlampau lama redup. Semoga kita tak lupa bahwa cerita indah ini pernah bernyawa. Tak lupa tahun-tahun singkat yang mendatangkan rindu sekaligus penat.

Terimakasih untuk tiga tahun terindah di SMA

Iklan

Maladaptive Daydreaming

Namaku Linda, dan aku pengidap maladaptive daydreaming. Aku punya kebiasaan aneh sejak kecil. Menghayal yang berlebihan, berfantasi dengan duniaku sendiri. Kadang bila kenyataan di duniaku tidak sesuai dengan harapan, akan selalu berakhir dengan khayalan. Aku merasa hidup dalam khayalanku, merasa menjadi diriku sendiri. Bahkan ketika aku membaca novel, mendengarkan musik, menonton film. Aku ikut menyeret hal-hal yang aku alami ke dalam fantasiku.

Aku bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk berkhayal, bahkan di dalam khayalanku segala sesuatu memiliki alur. Dan semua terasa nyata. Aku kesepian, itulah salah satu penyebabnya. Aku tidak punya ibu yang menyayangiku. Ataupun keluarga yang bisa aku jadikan tempat berbagi segala keluh kesahku. Aku hanya punya diriku sendiri.

Hal-hal yang aku lamunan selalu tentang sesuatu yang sempurna. Keluarga yang bahagia, kehidupan yang mewah, orang-orang yang selalu peduli. Dan hal-hal lain yang terasa bahagia.

Sekarang, aku masih pengidap maladaptive daydreaming. Dan anehnya lagi aku bercita-cita menjadi psikolog sejak kecil. Tidak tahu harus bagaimana tapi selalu berniat untuk sembuh.

Debur Ombak

image

Di mataku engkau adalah debur ombak, kisah beriak di mulut pantai. Perjalanan sunyi, menembus mentari pagi.
Lalu kembali, bergegas melayari lautan, menyusuri sepi di tepi batu-batu karang. Mengikis buih-buih ilusi yang melayang seperti ancaman. Menanggalkan luka yang tergeletak sembarangan.

Serupa lautan, hadirmu sejuk mengantar hujan. Meruap kepada langit, menepikan awan-awan hitam. Menepis kehilangan.

Seperti juga pasir pantai, butirmu berpendar bagai permata, kilauan dari kepalsuan mata. Bersama pasirmu aku membingkai ribuan kenangan.
Padamu aku rebah mengamati rindu. Bertebaran seperti awan. Rindu berkilauan mengisi langit malam.  Dekat dengan kegelapan.

Kekasih Hujan

image
Weheartit.com

Kau datang, ingatan tentang puisi-puisi yang tergeletak diam, tentang hujan badai, dan kekasih yang hilang.

Siapa yang mau datang di pagi yang sembab dengan halimun dan udara sedingin ini. Hanya kamu

Dan sekali lagi aku ingin amnesia agar tak lagi mengingat ketakutan yang selalu dikirimkan hujan setiap malam. Langkahmu mulai memudar Karena sesak oleh jenuh. Puisi yang tak selesai ditulis.

Nanti bila rinduku datang lagi, biarkan aku menjumpaimu dalam kisah yang tak akan tamat. Mengingatmu sebagai kekasih hujan, tinggal pada ingatan yang tak akan padam.

Alunan Photograph

image
Weheartit.com

Dan rindu itu kembali mengalir bagai air,
Ketika alunan photograph berdenting di tengah kesunyian
Kenangan seperti kata-kata yang berdarah, dan rindu berputar menghidupkan kembali memori-memori yang telah lama tersapu angin…

Loving can hurt, loving can hurt sometimes….
Photograph by Ed Sheeran

Bulan-bulan Kehilangan Kemarau

image

Kau selalu menjelma hujan sore, menabuh dedaunan rapuh yang rindang di pucuk pepohonan. Diantara helai-helai yang akan jatuh.
Hadirmu merinai merdu tanpa takut disalahkan rerantingan.
Menyapa serpih debu yang kesepian.

Aku tak pernah takut memasuki labirin kata-katamu. Seperti memaksaku tersesat, menelusuri lorong-lorong dengan sepi berkepanjangan. Aku tidak takut.

Tapi bulan-bulan ini seperti derap langkah yang tersisa dari kata-kata jahat. Kesepian merambat tembok-tembok bahasa. Merangkaklah pada temaram cahaya, jeda yang melegakan. Mataku,rinduku dan lukaku.

Bagaimana bila engkau menemukan pagi tanpa matahari, kabut seperti hembusan nafas sisa. Menghembus pikiran yang kesepian dan hujan merinai perlahan.
Tersisa pertanyaan yang tak berjawaban. Bunyi piano di malam buta seperti denting-denting sepi. Dari bulan-bulan kehilangan kemarau, yang perihnya melebihi dedaunan rapuh yang meluruh.