Terimakasih Untuk Tiga Tahun Terindah

Malam-malam kita habiskan. Berpaket-paket tawa, cerita terbentang ke udara. Sebelum langkah terhenti dan perjalanan panjang nan perih terbuka.

Kisah-kisah manis terurai, sebelum kita dahaga pada pertemuan. Menanti perjalanan perih ini habis. Mungkin kita tak bertemu lagi.
Hanya ada kita, lautan kata-kata. Kerlip bintang berselimut hujan. Dan kita masih menanti ribuan mimpi menjadi nyata. Segala keluh kesah tak lagi terbalas oleh resah.

Masihkah kau merinduiku nanti? Karena halaman ini sebentar lagi tamat, cerita telah tuntas,lantas kita masih belum mampu membiarkan dendam-dendam tak terbalas. Sebentar lagi tahun-tahun lalu kandas.

Karena sejauh kau pergi, engkau selalu pulang pada kenangan. Menyelami memori di masa lalu. Dan luka purba, maafkan aku yang pernah mengguratnya. Aku berusaha lihai membungkus kenangan, agar ia tetap hidup meski terlampau lama redup. Semoga kita tak lupa bahwa cerita indah ini pernah bernyawa. Tak lupa tahun-tahun singkat yang mendatangkan rindu sekaligus penat.

Terimakasih untuk tiga tahun terindah di SMA

Debur Ombak

image

Di mataku engkau adalah debur ombak, kisah beriak di mulut pantai. Perjalanan sunyi, menembus mentari pagi.
Lalu kembali, bergegas melayari lautan, menyusuri sepi di tepi batu-batu karang. Mengikis buih-buih ilusi yang melayang seperti ancaman. Menanggalkan luka yang tergeletak sembarangan.

Serupa lautan, hadirmu sejuk mengantar hujan. Meruap kepada langit, menepikan awan-awan hitam. Menepis kehilangan.

Seperti juga pasir pantai, butirmu berpendar bagai permata, kilauan dari kepalsuan mata. Bersama pasirmu aku membingkai ribuan kenangan.
Padamu aku rebah mengamati rindu. Bertebaran seperti awan. Rindu berkilauan mengisi langit malam.  Dekat dengan kegelapan.

Kekasih Hujan

image
Weheartit.com

Kau datang, ingatan tentang puisi-puisi yang tergeletak diam, tentang hujan badai, dan kekasih yang hilang.

Siapa yang mau datang di pagi yang sembab dengan halimun dan udara sedingin ini. Hanya kamu

Dan sekali lagi aku ingin amnesia agar tak lagi mengingat ketakutan yang selalu dikirimkan hujan setiap malam. Langkahmu mulai memudar Karena sesak oleh jenuh. Puisi yang tak selesai ditulis.

Nanti bila rinduku datang lagi, biarkan aku menjumpaimu dalam kisah yang tak akan tamat. Mengingatmu sebagai kekasih hujan, tinggal pada ingatan yang tak akan padam.

Alunan Photograph

image
Weheartit.com

Dan rindu itu kembali mengalir bagai air,
Ketika alunan photograph berdenting di tengah kesunyian
Kenangan seperti kata-kata yang berdarah, dan rindu berputar menghidupkan kembali memori-memori yang telah lama tersapu angin…

Loving can hurt, loving can hurt sometimes….
Photograph by Ed Sheeran

Bulan-bulan Kehilangan Kemarau

image

Kau selalu menjelma hujan sore, menabuh dedaunan rapuh yang rindang di pucuk pepohonan. Diantara helai-helai yang akan jatuh.
Hadirmu merinai merdu tanpa takut disalahkan rerantingan.
Menyapa serpih debu yang kesepian.

Aku tak pernah takut memasuki labirin kata-katamu. Seperti memaksaku tersesat, menelusuri lorong-lorong dengan sepi berkepanjangan. Aku tidak takut.

Tapi bulan-bulan ini seperti derap langkah yang tersisa dari kata-kata jahat. Kesepian merambat tembok-tembok bahasa. Merangkaklah pada temaram cahaya, jeda yang melegakan. Mataku,rinduku dan lukaku.

Bagaimana bila engkau menemukan pagi tanpa matahari, kabut seperti hembusan nafas sisa. Menghembus pikiran yang kesepian dan hujan merinai perlahan.
Tersisa pertanyaan yang tak berjawaban. Bunyi piano di malam buta seperti denting-denting sepi. Dari bulan-bulan kehilangan kemarau, yang perihnya melebihi dedaunan rapuh yang meluruh.

Seharusnya

image
Weheartit.com

Seharusnya cinta tak perlu lahir dari percakapan, kata-kata yang tumbuh dari dusta dan puisi yang sepi pembaca.

Seharusnya kita tak dipertemukan keadaan. Tak perlu menamatkan patah hati. Tak harus merasakan perihnya luka yang dibalur cuka. Dan rindu yang di rentangkan oleh jarak.

Harusnya kita tidak menikmati pertemuan. Kemudian tenggelam bersama rindu di hati. Rindu bermekaran seperti duri-duri tajam. Menyakiti,menusuki, dan melukai dirinya sendiri.

Menulis Puisi

image
Weheartit.com

Karena aku tak bisa bernyanyi, maka aku belajar menulis puisi
Sajak-sajak yang kupunguti dari guyur hujan
Bulir huruf yang bertebaran hingga kesedihan
Tersusun rapi seperti buku baru yang hilang di pertokoan
Tak terjamah oleh pembaca bagai untaian kisah yang tak berarah

Karena aku tak pandai melukis wajahmu, mempermainkan kuas
Aku belajar menulis kepedihan, hingga yang tergurat pada kertas tinggal kebahagiaan yang membekas.
Aku menghangatkanmu dari gigil pagi, dari perihnya terluka
Kau bilang puisiku mampu menyembuhkanmu dengan segera

Namun ketika aku semakin mahir menulis puisi, engkau tak lagi hadir untuk membaca. Puisi-puisi yang tercipta dan kisah yang tak pernah tepat untuk mengobati, katamu lagi. Dan engkau memintaku berhenti berpuisi.
Seolah huruf-huruf yang lahir dari rindu dan sajak yang berlinang dari hujan. Adalah puisi tak bertuan

Dan engkau berlalu, sesal tumbuh dari udara yang beku. Aku kembali menulis puisi. Merangkum kesedihan yang mulai tak beraturan. Engkau menamaiku sebagai yang tak pernah hadir.
Perempuan kehilangan harapan. Yang tak pernah hadir membawa kerinduan.
Akulah perempuan banjir airmata setiap malam

Barangkali Rindu…

image

Barangkali rindu, jika yang mengunjungimu sebelum pejam adalah genggamanku yang kian pudar. Jemari yang tak sanggup mengeratkan kepastian.

Barangkali rindu, jika yang kau lihat setiap jam adalah bahasa indah yang berguguran, seperti hujan di tengah keramaian, dan orang-orang sibuk berteduh dengan angkuh menemui kerinduan.

Barangkali rindu, jika perempuan yang berkejaran dengan waktu di mimpimu masih aku. Dan tanganku sesekali menggapaimu dengan puisi-puisi mati, dan kata-kata yang melukai dirinya sendiri.

Barangkali rindu, bila pada setiap huruf yang kau baca mengingatkan luka yang enggan pergi setelah perih sekian lama. Lalu hujan menawari kepastian, tentang jatuh yang indah, meski selamanya gundah.

Barangkali rindu, jika aku masih menulismu. Tentang huruf-huruf yang mulai sekarat. Karena merindukanmu cuma mendatangkan penat.

Jangan Pernah

image
Weheartit.com

Jangan pernah takut sekalipun yang berjatuhan dari langit adalah luka,
Bahkan ketika butir-butir itu mampu mengikutimu hingga menua
Jangan pernah gelisah sekalipun resah mampu menjamahmu dengan piawai
Karena kakimu mampu melangkahi dunia dengan seribu kata, dengan puisi-puisi yang akan abadi setelah matahari menemui pagi

Jangan bersedih ketika harapanmu terurai menjadi duka, tanganmu mampu menggapai kehidupan, mampu menciptakan keabadian

Disini, ketika kakimu berpijak pada kota-kota yang malang,
Ketabahan tercipta dari langkah, dan wajahmu akan selalu dihujani kehangatan…