Menulis Puisi

image
Weheartit.com

Karena aku tak bisa bernyanyi, maka aku belajar menulis puisi
Sajak-sajak yang kupunguti dari guyur hujan
Bulir huruf yang bertebaran hingga kesedihan
Tersusun rapi seperti buku baru yang hilang di pertokoan
Tak terjamah oleh pembaca bagai untaian kisah yang tak berarah

Karena aku tak pandai melukis wajahmu, mempermainkan kuas
Aku belajar menulis kepedihan, hingga yang tergurat pada kertas tinggal kebahagiaan yang membekas.
Aku menghangatkanmu dari gigil pagi, dari perihnya terluka
Kau bilang puisiku mampu menyembuhkanmu dengan segera

Namun ketika aku semakin mahir menulis puisi, engkau tak lagi hadir untuk membaca. Puisi-puisi yang tercipta dan kisah yang tak pernah tepat untuk mengobati, katamu lagi. Dan engkau memintaku berhenti berpuisi.
Seolah huruf-huruf yang lahir dari rindu dan sajak yang berlinang dari hujan. Adalah puisi tak bertuan

Dan engkau berlalu, sesal tumbuh dari udara yang beku. Aku kembali menulis puisi. Merangkum kesedihan yang mulai tak beraturan. Engkau menamaiku sebagai yang tak pernah hadir.
Perempuan kehilangan harapan. Yang tak pernah hadir membawa kerinduan.
Akulah perempuan banjir airmata setiap malam

Advertisements

16 thoughts on “Menulis Puisi

  1. Bodoh !!!

    Kenapa menulis puisi utk seseorang yang tak prnh menganggapmu ada ? Merepotkan saja.

    Mengapa tak kau campurkan mesiu didalam balur rindu itu ? Biar sekaligus meledak dan menyisahkan puing” yang tak akan pernah kau pungut.

    Hujan terlalu lemah dihadapan durjana, jika tanganmu lemas, lantas kakimu terasa keluh untuk melangkah, mau kau terhanyut didalamnya ? sampai kapan ? Atau membiarkanya begitu saja menanti sang pencerah nirwana yang entah kapan datangnya.

    Hatimu terlalu rapuh utk terhanyut, pikirmu terlalu lemah utk mengikuti kejamnya peradaban,

    ayolah…
    kita menengadah bersama..
    senja telah berlalu, setidaknya masih ada fajar yang menunggu.
    Jangan hanya diam disitu..

    Emosiku untuk puisimu ^ ^

    Liked by 2 people

      1. Ough sakit ya *kedengeranya*

        Tp akan biasa saja kalau sudah terlatih. Hihiii.

        Ak dulu juga pernah beberapa kali begitu, karna ak ga biasa menyalakan orng lain, apalagi orng yg pnrh memberi arti, jadi aku menyalakan diriku sendiri.

        “Dia pantas dapat yg lebih baik”

        Dengan begitu, bisa menyulut semangatku utk lbh baik lg dr sebelumnya, ya sekalipun pasangan selanjutnya setelah kita, aslinya ga baik” amat, cuma itu cara terdangkal sekaligus terefektif utk menghilangkan rasa patah hati dengn cara yang positif.

        Sudah jgn sedih, apa mau kopi ?
        Ini ak baru bikin ^ ^

        Liked by 1 person

  2. Hahaa, ya seenggaknya biar netralah, pahit ketemu pahit, ibarat ( – ) x ( – ) pasti plus..^ ^

    Sebenarnya jauh lebih manjur getirnya whiskey tpi berhubung km cengeng dan termasuk kaum hawa yang akan menjadi seorang ibu, jadi aku tawarkan kopi saja ^ ^

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s