Bulan-bulan Kehilangan Kemarau

image

Kau selalu menjelma hujan sore, menabuh dedaunan rapuh yang rindang di pucuk pepohonan. Diantara helai-helai yang akan jatuh.
Hadirmu merinai merdu tanpa takut disalahkan rerantingan.
Menyapa serpih debu yang kesepian.

Aku tak pernah takut memasuki labirin kata-katamu. Seperti memaksaku tersesat, menelusuri lorong-lorong dengan sepi berkepanjangan. Aku tidak takut.

Tapi bulan-bulan ini seperti derap langkah yang tersisa dari kata-kata jahat. Kesepian merambat tembok-tembok bahasa. Merangkaklah pada temaram cahaya, jeda yang melegakan. Mataku,rinduku dan lukaku.

Bagaimana bila engkau menemukan pagi tanpa matahari, kabut seperti hembusan nafas sisa. Menghembus pikiran yang kesepian dan hujan merinai perlahan.
Tersisa pertanyaan yang tak berjawaban. Bunyi piano di malam buta seperti denting-denting sepi. Dari bulan-bulan kehilangan kemarau, yang perihnya melebihi dedaunan rapuh yang meluruh.

Advertisements

2 thoughts on “Bulan-bulan Kehilangan Kemarau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s