Crux

image
Weheartit.com

Apa yang sebenarnya kutunggu dari cahaya Crux yang mampu menyatukan kotamu dan kotaku. Ia cuma bintang yang menari-nari di sebelah selatan. Lalu kau bilang tanyaku membuatmu lupa bila di mataku ada cahaya lebih terang dari sekedar rayuan.

Engkau pergi dengan meninggalkan selembar puisi yang masih kusimpan rapi. Ia kurawat seperti bunga-bunga yang pasti mekar pada waktunya. Keyakinan mengalahkan kenyataan bila bunga-bunga mampu layu. Hingga akhirnya Crux tak mampu lagi mencahayai ingatan-ingatan tentangmu. Bunga yang tak mekar dan cahaya yang gagal.

Kutanyai pada setiap malam apakah itu yang ditunjuk oleh rasi kesukaanku. Kekasih yang sekian lama senyap di dalam dada. Aku cuma mau bilang. Aku merindukannya. Tiap hening dan bising aku masih mengingatnya.

Iklan

Kisah Yang Tak Mampu Tamat

image
Weheartit.com

Bukannya telah kukirimkan berpuluh-puluh puisi. Yang mungkin tak seanggun ribuan metafora yang pernah kau baca. Namun puisiku selalu melewati kedip malam, hangatnya pagi dan perpisahan kelam dengan senja.

Kau hanya cukup membacanya dan tak perlu paham. Cukup lelaplah saja pada mimpimu yang bukan aku. Akulah penyair yang buruk. Tiap kali kau sebut bintang pagi di langit timur akan menghidupi puisi. Aku tak sanggup terjaga seperti nyala mata perempuanmu. Dan lihatlah kaki langit yang lebih bercahaya daripada puisiku.

Aku hanya ingin lupa. Itu saja. Tentang harapan yang ikut meluncur bersama redup bintang jatuh kemarin malam. Tentang kilaunya yang kau bilang mampu menghidupi mimpiku,mimpimu dan mimpi semua orang.
Tolong aku.

Serupa Pohon

image

Kau memintaku bermimpi yang melangit seperti bintang. Ia tetap berpendar meski banyak lainnya juga berkilauan disana-sini. Namun sekalipun tinggi bintang tetap mampu jatuh membumi. Hilang dan tak menyisa.

Namun bagiku mimpi harus serupa pohon sekalipun ia perdu akarnya mampu mencapai tanah. Meskipun kau tebang dengan ketabahan dan daunnya berguguran, akarnya tetap kuat menancap tanah. Ia diam namun tak mati. Mimpi yang diam kadang kala mampu mencapai apa saja.

Surat

image
Weheartit.com

Menulislah selalu agar aku tahun keadaanmu. Aku meminta padamu sebelum engkau pergi. Biarkan puisi sebagai penarik jarak agar lebih dekat. Dalam semestaku yang sepi kadang rindu dan pertemuan pun tak mampu meramaikannya. Kaulah yang bisa. Sebelum jarak membuat kita beratus kilometer jauhnya.

Aku selalu menulismu. Lihatkah kata-kata yang selalu menderas rindu. Salamku untuk setiap kenangan. Semoga ia tetap merekat pada jarak yang makin jauh. Sebenarnya aku kecewa pada awan yang tak lagi mengantar gerimis. Kau pun tahu bila gerimis adalah kata-kata yang membumi pada kertas. Tapi biarlah, biar sejuk kudapat dari hiruk-pikuk kota yang sering menggangguku malam-malam buta.

Aku tak begitu tahu untuk siapa tulisanku tertuju. Juga tak paham dengan puisi yang enggan padam. Sempatkanlah untuk membaca. Mungkin saja seluruh rinduku kepadamu lah bermuara. Pahamkan lah bila terkadang kata-kata menjadi anafora dari kenangan yang berkesudahan. Tentangmu-tentangku-bintang-gerimis-dan rindu yang kesepian.

Kereta Yang Salah

image
Weheartit.com

Bukannya kita selalu menuju stasiun. Menunggu kereta yang tepat untuk datang. Hingga memulai perjalanan pagi. Namun kadang kita harus berhenti. Bukan karena perjalanan telah berakhir. Namun di suatu episode ada kisah yang harus dilupakan. Dan kaki kita terpisah dengan langkah yang menuju harapan.

Bukankah kita selalu berada di kereta yang salah. Sebab perjalanan ini tak sekalipun melukis bahagia di bibirmu. Teriakanku memanggil dengan putus asa. Mimpiku memburam. Dan tanganku masih saja kuat menggenggam kepingan harapan yang tersisa. Aku tak bisa lupa.

Bukankah harusnya kita berada pada kereta yang tepat. Yang mampu menuju kelegaan. Perjalanan yang membuncah di kepala hingga tak ada lagi kesedihan yang tertinggal. Namun Tuhan kadang Ia tak seperti harapan. Ada juga perjalanan yang berujung duka. Lalu kita harus ikut melesat menjauhinya.

Dan bodohnya kita tak mampu menengok ke belakang lagi. Padahal ada ribuan mimpi yang tertinggal disini.

Bintang Ikut Meredup

image

Di kota ini, Tuan. Kota Surabaya
Bintang ikut meredup bersama malam,
Pecahan matahari yang berkilau disana-sini
Sehingga kita tak perlu takut melangkah sebab tak akan salah arah
Tak juga perlu berkilah karena sama-sama salah
Tak perlu keresahan yang menduga-duga percikan rindu
Sebab rasi salib kita selalu menununjuki arah untuk pulang ke rumah
Bukankah kita telah berdiskusi tentang sepenggal kisah yang indah
Tentang malam dan fragmen bintang.

Apa yang kau temukan pada sebelah selatan.
Cuma anak-anak bintang yang tak ikut terlelap ketika malam
Tak lelah setelah semalaman menjaga rahasiamu dari peningnya siang
Dan malam yang begitu mahir menyembunyikan perasaan.
Gagu, menebak-nebak esok putih, hitam ,atau abu-abu