Surat

image
Weheartit.com

Menulislah selalu agar aku tahun keadaanmu. Aku meminta padamu sebelum engkau pergi. Biarkan puisi sebagai penarik jarak agar lebih dekat. Dalam semestaku yang sepi kadang rindu dan pertemuan pun tak mampu meramaikannya. Kaulah yang bisa. Sebelum jarak membuat kita beratus kilometer jauhnya.

Aku selalu menulismu. Lihatkah kata-kata yang selalu menderas rindu. Salamku untuk setiap kenangan. Semoga ia tetap merekat pada jarak yang makin jauh. Sebenarnya aku kecewa pada awan yang tak lagi mengantar gerimis. Kau pun tahu bila gerimis adalah kata-kata yang membumi pada kertas. Tapi biarlah, biar sejuk kudapat dari hiruk-pikuk kota yang sering menggangguku malam-malam buta.

Aku tak begitu tahu untuk siapa tulisanku tertuju. Juga tak paham dengan puisi yang enggan padam. Sempatkanlah untuk membaca. Mungkin saja seluruh rinduku kepadamu lah bermuara. Pahamkan lah bila terkadang kata-kata menjadi anafora dari kenangan yang berkesudahan. Tentangmu-tentangku-bintang-gerimis-dan rindu yang kesepian.

Advertisements

24 thoughts on “Surat

  1. Tentangmu-tentangku-bintang gerimis-dan rindu yang kesepian.

    Ni kl dibuat prosa jd gini kali yah dek….karena rindu yg dalam, trlampau dalam, aku merasa kesepian, hingga hanya malam-malam kelam, bintang, dan gerimis saja yang mengerti rasaku. Ya, rasaku yang kian membuncah tentang sebuah kisah…tentangmu- tentangku-tentang kita!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s