Belum Tuntas

Ketika kita benar-benar sudah melangkah. Mungkin ada beberapa kisah yang masih tertinggal. Yang belum tuntas, atau belum tamat untuk diputar lagi.
Ketika kita sudah sama-sama pergi. Mungkin ada salah satu dari kita  yang tak pernah punya waktu untuk saling melupa. Tak pernah ada orang yang sanggup menutup ingatan-ingatan tentang sakitnya kehilangan.
Dan akulah yang masih tertinggal ketika kakimu sudah melangkah jauh. Ketika tanganmu telah menggenggam jemari yang lain.
Ada seseorang yang lebih baik yang engkau rindukan. Yang bisa engkau hujani puisi setiap waktu. Dan malam kala hujan engkau tak perlu lagi disibukkan untuk menidurkan ketakutanku.
Menghitung jarak yang jauh. Aku tak akan mampu. Kakiku juga harus ikut melangkah. Sama sepertimu.

Menjenguk Bunga-bunga

image
Weheartit.com

Saat pulang aku butuh waktu untuk menjenguk bunga-bunga, menenangkan rindu yang terlanjur menggebu-gebu di dalam jiwa. Sembari mendengarkan lagu Closer dari The Chainsmokers, agar perpisahan kita yang kelam tetap mampu kuabadikan sebagai kerinduan, lagu ini, kamu tahu liriknya benar-benar tentangmu.

Dan tunas-tunas bunga yang telah tumbuh mengembang serupa harapan yang harus digantungkan ketika langkah telah begitu jengah.
Mimpi tetap harus diukir meski kepulangan kita tak pernah terpikir.

Di Kedai Kopi

Di Kedai Kopi

Kami berdua duduk di meja paling pojok sebuah kedai. Kedai kopi tepatnya. Banyak meja yang masih kosong. Tapi pojok adalah tempat kesukaannya. Selang beberapa menit sebuah buku menu diantar oleh pelayan yang masih muda. Dia memesan kopi tubruk yang ia sebut kopi dua satu. Dua sendok kopi dan satu gula. Kopi yang sedikit pahit membuatnya merasa aman dari keramaian. Ditambah keheningan sebab kami duduk paling pojok dan setelah beberapa menit disini tak satupun dari kami membuka sesi perbincangan yang hangat.

Pelayan menghampiriku menanyakan pesananku. Dari sekian banyak menu kopi disini yang kupilih malah segelas perasaan jeruk nipis hangat. Kedai ini tak hanya menjual kopi. Ada beberapa varian minuman selain kopi yang sengaja disediakan untuk menghangatkan badan. Bukan. Bukan karena aku tak suka kopi. Aku begitu menyukainya, apalagi rasa Vanilla. Namun bagiku kopi adalah obat untuk seorang yang patah hati. Kopi adalah untuk mereka yang butuh inspirasi.Kopiadalah puisi. Aku tak sedang membutuhkannya saat ini. Dan meski aku sedang Flu dan hipotesis membuktikan Jeruk Nipis mampu menyembuhkan sakitku. Sebenarnya bukan itu alasannya. Aku hanya butuh diam. Diam mampu menghilangkan sosok yang duduk di hadapanku sekarang.

Hujan di luar masih mengguyur deras, aku tak tahu harus bahagia atau sedih. Aku tak merasakan apapun. Kami berdua sama-sama diam. Dia sibuk dengan ponselnya. Aku introvert, dan benar-benar tak pandai membuka sesi percakapan yang hangat. Kami berdua berbeda 180 derajat. Hingga saat ini aku tak tahu mengapa ia masih mempertahankanku. Yang kupikir kami harusnya telah usai beberapa bulan lalu. Dia baik. Baik yang bukan relatif. Saking baiknya terkadang aku tak tega menolak seluruh ajakanya untuk pergi. Termasuk ke kedai kopi ini. Dia bukan penyair yang pandai merayu. Namun seluruh perkataannya sudah cukup untukku. Sudah cukup membuatku kenyang. Ia sosok yang hebat, yang diinginkan semua perempuan. Tapi mengapa harus aku.

“Kenapa jeruk nipis?” kalimat pertama akhirnya keluar. Pertanyaan yang jawabanya telah aku pikirkan beberapa menit sebelumnya. Pertanyaan yang tak ingin kujawab karena akan menimbulkan kebohongan.

“Aku kena flu, kemarin kehujanan” kebohongan melucur dengan sempurna serupa jatuhnya hujan dari langit.

“Kamu baik-baik saja kan? Maaf mengajakmu kesini, harusnya kamu istirahat di rumah.”

“Tidak apa”

Dia tidak bersalah, kebohonganku lah yang membuatnya bersalah. Aku hanya muak. Tak ada lanjutan ataupun episode baru dari perbincangan kami. Keheningan seolah menciptakan penghakiman atas keputusannya yang mengajakku jalan sore ini. Selepas meneguk habis minuman ia mengantarku pulang. Senja itu masih gerimis di kota dan kami sama-sama pulang. Ada kelegaan luar biasa setelah berada di rumah.
Hujan kembali menderas. Gemanya di teras seolah mebujukku untuk melepasnya, membiarkannya.

Aku tidak mencintainya.
.
.
.
.

Aku bukan penulis ataupun penyair yang mahir. Seperti penulis-penulis lainnya aku juga masih belajar. Ini cerpen pertama yang aku tulis di blog. Semoga kalian suka.

Sesak Di Dada

image

Bukannya kita bergerak sama seperti kepadatan kendaraan di jalanan. Selalu ada saja yang berlalu kemudian yang baru menggantikan. Ada yang terhenti atau membalik melawan arah.
Selalu ada ruang yang mampu kita tempati. Hanya kadang orang lain terlalu beruntung sebab bisa merebutnya.

Laju kendaraan tak pernah sama. Yang duluan akan terbebas, yang lambat akan terbelenggu. Hanya terkadang aku begitu tak paham tentang kehilangan ruang. Tentang sesaknya jalanan. Sesak yang sama seperti ketika sakit di dadamu terlalu penuh tak bisa mengeluh.

Pada Tiap Langkah

image

Tahun-tahun kita berlalu seperti derai hujan
Kunjungan dari ingatan-ingatan yang menggenang
Hingga musim usai, langit yang tak lagi bermendung
Aku tak pernah tahu apakah rinaimu bertahan hingga nanti
Atau kenangan tentangmu yang membuyar tak lagi terisi
Pada tiap langkah, selalu ada saja setapak yang membuat rinduku ingin kembali.
Mengulangnya, merinduinya lalu membiarkan ia pergi.

Teruslah berjalan, meski ia tak lagi engkau temukan.
Teruslah mencipta langkah. Ia tak lagi berumah.

Menulis Puisi Bersama

image

Tolong jangan jatuh kepada yang lain.
Rintikmu telah dulu jatuh sebagai kata yang kumaknai sebagai rindu.
Engkau alasanku mencintai puisi dan kopi, hujan dan senja, serta embun dan halimun.
Tolong jangan menunggu yang lain. Tahukah tentang perjumpaan cahaya antara kendaraan. Seperti dua orang yang bertahan mengisi pertemuan.
Aku tengah menantimu dalam kebisingan yang diciptakan detak jam dan suara kereta.
Tolong kembalilah, aku tak mau engkau berlalu sekejap saja.
Mari menulis puisi bersama.

Tentang Bintang Dan Keramaian

image

Bicara tentang bintang, aku seperti diajak lagi membuka halaman purba tentang kita yang masih jenaka. Dan benar 16 tahun bukan usia yang dewasa untuk belajar mengartikan rasi ataupun belajar memaknai setiap pantul cahaya di langit.

Aku ingin bicara sedikit tentang ketersesatan. Seperti ketika halaman bukumu tak sengaja berbalik tersebab angin. Atau kata-kata manis pada puisimu tak lagi tercipta mahir. Tentangku yang begitu jauh dari genggammu. Bagaimana bila 360 kilometer terlampau jauh untukku?

Dewi Lestari bilang bukankah kita baru bisa bergerak bila ada jarak, baru bisa menyayang bila ada ruang. Namun segala tentang Dee tak lagi berlaku untukku, untukmu. Ada cemburu yang diam-diam ingin kulempar dari langit mengingat rindu yang jauh dari pertemuan.

Jangan berlagak Aleksia dan tak membaca kata-kata yang telah aku luruskan. Engkau yang mahir dalam setiap hal, membuatku lupa bila mengikat rindumu begitu mustahil. Lelaplah dalam keramaian yang diam-diam menjagamu dari kehidupan. Aku ingin merindumu bukan berarti harus menemuimu tiap waktu.
Aku hanya ingin engkau terjaga sebabku. Sebab rindu puisiku yang tak berkesudahan. Bukan karena keramaian kota tempatmu bersinggah sekarang.