Tentang Bintang Dan Keramaian

image

Bicara tentang bintang, aku seperti diajak lagi membuka halaman purba tentang kita yang masih jenaka. Dan benar 16 tahun bukan usia yang dewasa untuk belajar mengartikan rasi ataupun belajar memaknai setiap pantul cahaya di langit.

Aku ingin bicara sedikit tentang ketersesatan. Seperti ketika halaman bukumu tak sengaja berbalik tersebab angin. Atau kata-kata manis pada puisimu tak lagi tercipta mahir. Tentangku yang begitu jauh dari genggammu. Bagaimana bila 360 kilometer terlampau jauh untukku?

Dewi Lestari bilang bukankah kita baru bisa bergerak bila ada jarak, baru bisa menyayang bila ada ruang. Namun segala tentang Dee tak lagi berlaku untukku, untukmu. Ada cemburu yang diam-diam ingin kulempar dari langit mengingat rindu yang jauh dari pertemuan.

Jangan berlagak Aleksia dan tak membaca kata-kata yang telah aku luruskan. Engkau yang mahir dalam setiap hal, membuatku lupa bila mengikat rindumu begitu mustahil. Lelaplah dalam keramaian yang diam-diam menjagamu dari kehidupan. Aku ingin merindumu bukan berarti harus menemuimu tiap waktu.
Aku hanya ingin engkau terjaga sebabku. Sebab rindu puisiku yang tak berkesudahan. Bukan karena keramaian kota tempatmu bersinggah sekarang.

Advertisements

29 thoughts on “Tentang Bintang Dan Keramaian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s