Untuk Seseorang Yang Menunggu

Sebenarnya kamu tak perlu lelah ataupun jengah terhadap yang tak usai. Bukankah sebelum kita memutuskan melangkah sudah banyak pertimbangan yang tergerai. Dan meskipun nanti bila hasil masih saja  menghianati usahanya. Bukankah ada aku yang senantiasa memelukmu dengan hangat.

Suatu saat kita akan mulai percaya pada hal-hal yang tak semestinya ada. Pada harapan yang membungkam lama karena takut jika terungkap. Sebelum engkau lepas setiap mimpi ke daratan. Pastikan terlebih dahulu jika akarnya telah kuat di dalam tanah. Sehingga bila ia ditebas oleh kegagalan tetap ada yang kembali bertunas.

Memang tak ada dari kita yang bisa memastikan kebahagiaan. Segalanya memang harus ditunggu dan butuh waktu. Dan engkau tak perlu cemas jika aku meninggalkanmu. Sebab sejauh aku pergi aku tetap ada untukmu disini.

Advertisements

Maaf

Dan jika aku kembali sekarang, sungguh aku tidak berniat untuk kembali menjadi bagian dari masa depanmu. Bukankah aku terlebih dulu menjadi masa lalu yang berlalu. Tersapu musim gugur menjadi ingatan yang terlupakan. Dan aku tidak sekalipun bermaksud melukaimu saat itu .

Aku benci hari dimana segala tentang Prancis hanya mengingatkan tentang luka bukan tentangmu. Aku benci mengakhiri semua tanpa sepatah kata. Aku bungkam bukan. Aku benci tak bisa menghapus kata-kata kasar yang keluar begitu saja.
Aku benci menghapus semua tentang Prancis karena aku suka. Aku benci segala tentangmu saat ini.

*****
Aku si bodoh yang masih percaya jika hujan mampu menghapus kenyataan. Masih berlarian kedinginan dengan harapan segala yang buruk terhapus begitu saja. Aku benci mengingatmu, saat ini, nanti atau esok lagi. Bagaimana bila aku si bodoh yang tak pernah sanggup melupa?
Aku bukan orang yang engkau harapkan. Hari ini engkau lebih dulu memutuskan untuk melupakanku. Kau bilang aku tak bisa begitu saja datang sebagai masa depan. Aku terlanjur menjadi bagian lalu yang telah berlalu.

Sekarang aku masih si bodoh yang percaya jika tetes hujan mampu memberi makna dalam setiap kata. Kenapa selalu saja hujan yang menderas, senja ,serta perdebatan yang kita buka. Dan mengapa dengan mudahnya segalanya berakhir begitu saja. Ada episode yang diulang terus-menerus. Aku bosan.

*****

Aku tak pernah mau menjadi si bodoh jika aku mampu memilih, tapi aku juga tak mampu menarikmu kembali. Segala yang kuucapkan hari itu seolah jatuh begitu saja seperti tetes hujan yang akan kita lupakan.
Dan maaf jika memang aku bukan si baik yang bisa membahagiakanmu.

Kisah Yang Tak Selesai

image

Pagi disini tak akan memangkas sepinya
Begitu juga menyingkat waktu, tak akan bisa
Pagi selalu bagian awal yang kunikmati sembari menjeda

Kita bangun menatap halimun,
Pekat dan buta, jalan mana yang teraba
Adakah setiap rindu membawa pulang pada pertemuan
Adakah segala resah memohonmu untuk selalu berkisah
Kepada Tuhan, pada tunas-tunas yang mengembang rupa

Segelintir cerita telah aku lunasi
Ribuan narasi,
Segenap manusia telah tamat membacanya
Namun masih ada saja kisah yang tak selesai kutulis
Episode-episode yang bersimbah tangis

Masih ada saja perempuan yang duduk di bawah mendung
Menunggu hujan, menggenapkan rindu yang tak selesai

Memutar Ulang Memori

Memutar Ulang Memori

Aku kerap mendengar suara langkah laki-laki itu. Gemanya berdesir seperti angin yang selalu menghembus di padang pasir. Ia selalu tergesa tiap jejaknya seolah waktu sebentar lagi selesai dan dia tak punya kesempatan untuk mengulang segalanya. Aku melihat langkah yang tak seiring dengan jalannya pikiran. Ia tak punya hipnosis untuk mengendalikan tiap tindakan yang selalu berakhir mengenaskan.Tak punya cukup waktu untuk memikirkan lebih detail tentang kehidupan sebab segalanya ringkas. Tak pernah merenung dan menguatkan sugestinya tentang cinta atau hal lain yang tidak berguna.

Deru kereta dari kejauhan terdengar jelas. Suara kereta tak pernah sekalipun bergema lebih keras dari alunan musik yang terdengar melalui headset yang ia kenakan. Ia tak bosan meski lagu yang diputar itu-itu saja. Udara di Rennes memang selalu dingin seperti biasa. Lebih dingin dari sekedar butir hujan yang turun saat senja di Indonesia. Jaket tebal yang ia gunakan seolah memanipulasi semua orang. Ia terlihat hangat walaupun sebenarnya hatinya dingin dan beku.

Sekian banyak langkah yang ia tinggalkan membawanya sampai pada ruangan. Sebuah ruangan di apartemen lantai dua. Hening, sunyi, tak ada kebisingan lain kecuali detak jam yang menghitung detik. Ruangan itu dipagari oleh tembok putih yang mulai mengusam karena usia. Sudut-sudut ruangan seolah bicara padanya untuk mengajak kembali perempuan itu untuk pulang, menghabisi kesepian atau untuk singgah barang sekali saja. Namun terkadang kesibukan merenggut segalanya. Ego membuat cinta yang ia bangun bertahun-tahun luruh begitu saja seperti cat tembok yang mengelupas dengan mudah.

“Aku mencintaimu, selamanya selalu begitu. Cintaku bukan kereta yang begitu mudahnya meninggalkan penumpang yang telat meski cuma semenit. Cintaku selalu mencarimu seperti pengembara mencari oase di padang pasir dan penyair mencari konotasi yang tepat untuk mengabdikan makna”.

Puisi dari perempuan itu masih menggema di telinganya, di lantai dan sudut-sudut ruangan seolah tak mau hilang. Ia rindu perempuannya mengirim surat atau sekedar menelpon untuk saling bertukar kabar. Kebodohanlah yang membuatnya kalut dan melepas perempuan itu begitu saja. Dan sekarang segala yang ia tawarkan tak mampu menarik perempuan itu kembali.
***

Aku menatap langkah laki-laki itu setiap pagi. Sesorang yang memutar ulang memori-memori dalam hidupnya. Langkah, jalanan dan ruangan yang diputar berkali-kali. Serta laki-laki yang berlari menerjang halimun.Tanpa seseorang yang berujar puisi atau merayunya untuk kembali. Laki-laki itu, yang matanya abu-abu seperti pekatnya embun. Yang teduh seperti langit mendung. Dia menunggu deru kereta yang sampai namun tak membawa apa-apa.
***

Aku tak punya hadiah selain cerita ini Ar. Dan barang kali disana telah banyak yang menghadiahimu dengan kado special, bunga ataupun doa. Selamat ulang tahun Ar dan selamat menutup September, selamat merengkuh Oktober. Ada langkah baru yang harus engkau ciptakan di depan. dan semoga doaku mampu menjelma kehangatan yang mendekapmu. Maaf tidak tepat waktu mengirimkannya, karena sibuk mampu membuatku lupa. Aku mencintaimu.