Di Kursi Pojok Sebuah Kafe

image

Jari-jarimu masih sibuk mengetik pada keyboard sebuah laptop yang terletak persis di hadapanmu. Engkau selalu teliti layaknya seorang penulis tengah merangkai huruf menjadi kalimat indah. Pekerjaan membuatmu larut pada keheningan. Cuma ada dirimu, beberapa tumpuk file yang harus selesai dan sebuah laptop yang kau bilang adalah sahabat sejati. Sahabat identik dengan manusia namun bagimu benda mati justru memiliki eksistensi lebih dan menyumbang banyak jasa dalam hidupmu. Semua sukses ini, kesibukan ini, engkau peroleh dari hal-hal yang tidak pasti namun engkau pastikan ada. Semua larut membawamu sampai pada kebahagiaan di dalam keheningan.

Aku melihatmu setiap senja datang mengunjungi kafe ini. Memesan makanan sembari menghampiri kasir dan beberapa langkah pasti menuju tempat favorit. Kursi pojok sebuah kafe. Bagimu hening adalah tempat istimewa layaknya surga. Engkau mampu bergerak bebas dan berudara ditempat yang dijauhi semua orang saat mereka makan. Banyak pengunjung datang untuk sekedar berbincang-bincang, makan, atau befoto dan berpose. Tentu mereka memilih dekat dengan cahaya, di tengah keramaian. Namun engkaulah yang beda. Bagimu pojok adalah ruang bebas untukmu tetap fokus menatap layar monitor dan melahap makanan untuk menggenapkan tenaga sebelum beranjak pulang ke rumah.

Aku menyaksikanmu setiap hari datang berulang-ulang di kafe ini. Engkau adalah penggemar keheningan karena tiap kali datang tak pernah sempat aku melihatmu mengajak seseorang. Dan tak juga memilih kursi lain. Pilihanmu tetaplah sama. Engkau selalu  menunjukkan independensi, bagimu orang-orang kadang hanya datang untuk merepotkan bukan untuk mengobati kesepian.
Kehadiranku di tempat ini ibarat malaikat yang selalu datang mengawasimu. Tak pernah berhenti menatapmu yang sibuk dengan keheninganmu tanpa sekalipun terusik.

Pukul lima sore, setiap engkau pulang kerja. Aku yang lebih awal menantimu tiba. Untuk alasan yang jelas, semua orang berargumen tentang cinta. Bila cinta adalah menunggu, bila cinta adalah luka, cinta adalah kesetian, cinta adalah ini, cinta adalah itu. Mereka tak salah hanya saja bagiku cinta adalah sebuah kafe dengan seseorang yang nyaman di kursi paling pojok. Disana seseorang tengah disibukkan dengan dunianya yang hening. Dan seseorang mengamatimu berhari-hari tanpa kau tahu. Dan engkau tetap orang yang sama, duduk, bermain dengan huruf lalu pergi dan datang lagi esok hari .
.
.
.
.
.
.
Untuk Kamu
Suatu saat kita akan menemukan inspirasi lebih baik daripada duduk di sebuah kafe yang sama berhari-hari tanpa percakapan.

Iklan

Membekukan Waktu

Jika saja manusia diberi kesempatan untuk membekukan waktu. Mungkin sejak berabad-abad kemudian kita tak akan lahir dibungkus rasa percaya. Kita akan tetap stagnan pada ruang yang membuat kita bergerak bebas mengangkasa. Menemukan caranya kembali memecahkan, memungut ulang dan membenarkan ribuan mimpi yang terjatuh dan tak terwujud. Beku ibarat sesak oleh pengharapan. Penuh oleh perbaikan.
Dan keinginan serta kemungkinan yang tak terwujud tidak akan menjadi fosil begitu saja. Barangkali kita bisa sebentar saja mewujudkan semua sebab kita mampu mengulang waktu, membenahinya lalu kembali membangun harapan yang dulu tak ada.

Beku ibarat sesuatu yang tak akan mati, dingin oleh hati. Setiap kesempurnaan diinginkan semua yang hidup. Kita tak perlu merasakan pedihnya kehilangan cinta, harapan, terlebih kehilangan orang-orang yang kita sayang. Dan manusia yang akan tetap stagnan Tanpa perlu repot-repot memikirkan dinamisasi. Membekukan waktu untukku adalah terus berjuang pada titik yang sama tanpa menghasilkan garis. Menulis huruf-huruf dengan lihai tanpa membentuk paragraf. Terus melangkah pada jalan yang sama tanpa perlu jungkir-balik melewati tikungan. Bahwa setiap guratan dalam hidup semacam makna untuk menganalogikan yang abadi.

Dan suatu saat kau akan percaya jika manusia bisa stagnasi melanjutkan hidup ini. Percaya jika kehidupanmu dimulai bukan saat tangismu pecah ke dunia melainkan saat senyummu mengembang ke udara. Bahwa semua yang remeh adalah signifikansi dari harapan yang rumit. Jika segalanya yang belum ada bisa terus kau usahakan agar terpantau oleh setiap orang. Percaya jika mimpimu suatu saat akan mengangkasa seperti lempeng besi yang didorong oleh Avgas. Dan setiap langit menyaksikanmu. Setiap awan mengilhamimu.

Jangan Membagi Kesedihanmu Padaku

image
Weheartit.com

“Aku benci berbagi kesedihan apalagi melihat atau mendengarkan orang lain yang membagikan kesedihannya. Kesedihan mudah merambat dari orang satu ke yang lain. Dan tidak etis melihat orang lain sedih karena hidupmu.”

Kehidupan selalu merupa pohon yang menjulang tinggi. Tak semua bagiannya mampu abadi hingga nanti. Selalu ada dahannya yang berjatuhan. Rantingnya yang patah atau bagian lain yang rusak karena terinjeksi kuman maupun kekurangan nutrisi. Sebuah pohon meskipun terlihat tenang namun akarnya diam-diam telah jauh menyusup ke tanah menggapai apapun yang bisa ia gapai. Kesedihan adalah daun-daun pohon yang jatuh serta ranting yang patah. Mungkin saja meratapi kesedihan bukan hal yang baik sebab kau tahu jika Tuhan akan mengganti hidupmu dengan hal yang lebih baik. Kadang aku tak percaya itu, tapi hidup menuntutku untuk percaya.

Mereka bilang waktu akan menyembuhkan luka, time is supposed to heal you. Tapi tak ada luka yang bisa sembuh karena waktu. Yang ada adalah luka yang terlupa oleh waktu. Dan lupa tidak berarti sembuh.

“Jangan membagi kesedihanmu denganku, aku bukan pendengar yang baik. Aku pelupa, aku ceroboh. Dan jangan mencintaiku karena cukup aku saja yang bodoh dengan imajiku diam-diam masih mengharapkan seseorang datang membawa berpaket-paket bunga lalu puisi. Untuk dibuang percuma.”

Dan kau percaya jika sebuah pohon meski ia kokoh tak selamanya kuat menahan beban. Ada banyak alasan yang membuat seseorang tumbang. Dan sebuah pohon meski ia kerdil bukan berarti lemah. Kadar kekuatan kita untuk hidup tak diukur dari ketampakan fisik semata. Aku percaya.

Hatilah yang harus dirawat. Hati-hati dengan perasaanmu. Ia berkecamuk tiap kali kegagalan adalah debar yang membuatmu kehilangan. Tak ada korelasi dengan cinta atau hal melo lain. Tapi percayalah jika sebenarnya perjuangan harus serupa pohon. Akarnya yang kasat mata dan diam-diam bekerja di bawah tanah menghasilkan pohon yang kokoh menghalau kegagalan serta berkontribusi dalam membangun keberhasilan.

.
.
.
Untuk Devi….
Jika setiap mimpi harus diucapkan, aku memilih menulis…

Tak Ada Kesedihan

image

Pada jarak yang jauh telah kurekatkan mimpi-mimpi
Bumi memberi kita spasi
Agar tahu rasanya percaya, agar tahu rasanya kecewa
Pada langit yang jauh
Tuhan memberi ruang untuk berteduh
Bintang-bintang menjelma ribuan cahaya disana
Agar kau percaya jika kebahagiaan itu bisa datang kapan saja

Dan kehadiranmu adalah langit
Aku gantungkan tinggi-tinggi seluruh harapan
Semoga tak ada lagi kesedihan yang kau jatuhkan bersama hujan

Ribuan Titik Di Langit

“Aku sudah tidak mencintaimu saat ini, aku jatuh cinta pada orang lain sekarang. Tapi dengan bodohnya aku masih mengirim puisi, tak absen bercerita tentangmu kepada semua orang, tahu kenapa?”

Dari kejauhan samar-samar masih terlihat bintang di ufuk barat yang tak pernah jatuh. Suara kendaraan di luar memecah keheningan. Ia masih duduk di dekat jendela menulis puisi untuk dirinya sendiri. Ribuan titik di langit mulai memadam karena mendung. Suara musik menyerupa soundtrack sebuah film berdurasi panjang yang disingkat tiga menit. Film yang berkisah tentang dia dan ribuan titik di langit yang tak lupa bercahaya ketika gelap. Musik ini mengajak semua orang untuk kembali mengulang ingatan. Bukan. Bukan karena tak mampu melangkah ke depan. Sebuah kenangan biasanya harus diputar ulang untuk melihat sejauh mana perjalanan telah dilakukan. Sejauh mana sebuah kisah telah berlalu indah.

Do you ever wonder if the stars shine out for you…

Lirik lagu terdengar lirih. Ia kehilangan kendali, air mata perlahan turun. Jatuh entah sebagai rindu atau kekecewaan. Pernahkah kau berpikir jika bintang-bintang bercahaya untukmu? Untuk setiap hati yang luka.

“Aku mungkin tak akan bertemu denganmu lagi, tapi biarkan kita tetap merasa dekat saat duduk di bawah langit malam menyaksikan ribuan titik. Bukankan kau bilang jika bintang-bintang akan membawa kita pulang?
Aku masih berharap kau juga sedang mencintaiku saat ini, di setiap puisimu ada aku yang selalu ditulis manis. Kisah-kisah yang kau rangkai mengukir namaku sebagai tokoh. Dan aku berharap kita hanya selekang spasi antar huruf, bukan ratusan kilometer.”

Lagu tentangmu telah diputar habis. Tidak. Perempuan itu hanya butuh jeda untuk mengusap air mata. Luka-luka beserta kenangan telah ia kemasi untuk kembali disimpan rapi, agar esok hari segala tentangmu masih ada dan kembali ia ingat. Kau tahu segala yang kau bawa pergi. Mimpimu, harapanmu telah luruh berbaur dengan suara kendaraan di luar. Seperti tak ada apapun diantara hiruk-pikuk kehidupanmu dan dia. Tapi untuknya semua tentangmu adalah langit. Cahayamu berasal dari titik yang berderet indah. Engkau tak terabaikan meski cuma semenit dari ingatan.
.
.
.
.
Selamat tanggal tiga, selamat membaca….
Karena setiap rindu harus ditulis….