2016

image

Sebentar lagi tahun kita berganti, Desember segera menutup pintunya. Tak akan diizinkan kita mengulang hari kemarin namun kita masih bisa menemuinya tahun depan.

Tahun kemarin benar-benar tahun dimana saya diuji. Ada banyak kekeliruan, kegagalan juga kesedihan datang. Bahkan hingga sekarang semuanya masih belum selesai.
Tahun ini saya lulus SMA dan untuk pertama kalinya menjadi mahasiswa. Sungguh tidak mudah rasanya jauh dari ayah, ibu, keluarga dan beberapa teman yang terlanjur jadi sahabat. Namun di tahun ini juga saya menemukan tujuan saya, hidup saya dan segala yang harus terwujud. Dan menyudahi hal-hal kemarin itu tidaklah mudah. Mungkin di pertengahan tahun nanti baru bisa memulai lagi. Seperti inilah siklus hidup. Ada kegagalan, tangis, kesedihan, luka. Namun segala momen memang membekali hal baru sebagai patokan untuk berjalan ke momen berikutnya.

Menyerupai kupu-kupu memang hidup adalah metamorfosis dari hal buruk ke baik. Sedang kita sendirilah yang harus membangun dan merevolusi hidup itu.
Tahun depan yang segera datang memang tidak bisa diramalkan. Namun ada bertubi-tubi harapan yang harus diwujudkan. Agar mimpi tak selamanya jadi mimpi.
Harapan saya, semua fase yang akan datang nanti semoga membawa ke hal yang baik dan progres dalam berbagai hal.

Advertisements

Selamat Natal

image
Weheartit.com

Pohon abadimu berkerlap-kerlip di pojok ruangan. Tembok putihnya terlihat kontras dengan gemerlap pohon Natal yang kau persiapkan sepuluh hari sebelumnya. Kini semuanya abadi. Engkau datangi setiap toko pernak-pernik Natal untuk mencari pohon yang paling tepat. Semua pohon imitasi telah kau coba padukan dengan segala warna, dengan lampu-lampu hias juga satu bintang yang akan berada di puncak sebagi pelengkap.
Pilihanmu ternyata tak terduga. Engkau bahkan memilih sebuah Pohon Cemara asli. Original dari pegunungan jauh, dibeli dari toko bunga. Pohon yang dirawat oleh petani gunung, yang ia sirami dengan kasih sayang sehingga tumbuh subur dan masih pantas dibawa pulang lalu jadi pajangan. Selain simbol kesetiaan iman, engkau percaya Cemara adalah satu-satunya pohon abadi yang tak akan rontok daun ataupun beku sekalipun musim salju seribu tahun.

Kulihat wajahmu begitu berseri. Engkau bahkan tak bisa tidur nyenyak menantikan besok pagi tiba. Dalam doamu aku selalu tau tak ada aku disana bahkan meskipun hanya terselip di awal kata. Esok hari langkahmu pasti menuju gereja yang sama. Dimana dulu kita dipertemukan saat mengikuti kebaktian. Dan disanalah doa-doa kupercayai juga kau yakini akan Tuhan kabulkan. Dan biarkan malam ini aku menjelma temaram dalam rumahmu, di sekitar tembok putih. Agar gemerlap Cemaramu juga ikut memeriahkan kesepianku.

Aku menduga engkau masih sibuk mendekorasi pohon Natalmu. Kau memuja kesempurnaan. Bagimu setiap hal yang lahir di dunia punya kesempatan untuk menjadi sempurna. Meski berjam-jam habis kau gunakan untuk sekadar menatap pohonmu. Segalanya sebentar lagi abadi. Sebenarnya engkau tak percaya tradisi namun pohon Natal telah melekat seperti penyembuh luka diakhir tahun. sebentar lagi loncengmu akan berdenting. Acaramu segera dimulai. Aku tak lagi mampu hadir disana, namun doaku untukmu akan tertulis sepanjang masa.

Selamat hari Natal.

Seperti Langit

image
Weheartit.com

Entah dari arah barat, timur atau utara, belum pernah sekalipun aku lihat bintang berjejeran disana. Dan bintang seolah tak mau singgah di kotaku lagi. Sekalipun engkau memohon pada langit yang pekat. Tak ada pilihan kecuali menatap hitam yang rumit atau gelap. Dan sekalipun aku penderita Miopi. Masih mampu kulihat dari sepersekian jarak tahunan cahaya, jika bintang yang kau puja berkilauan disana. Namun tak pernah sempat kulihat bintang datang dengan cahaya seterang ini sebelumnya.
Sekali lagi aku bukan penulis hebat yang memukau pembacanya dengan puisi atau rayuan. Begitu saja. Yang kubisa adalah mengirimimu cinta seminggu sekali. Lewat langit, aku bisikkan padanya untuk mendatangkan bintang. Agar engkau tak lupa arah untuk pulang.

Entah mengapa, bintang dan langit yang kau bilang perpaduan metafora paling menginspirasi tak datang lagi disini. Hanya gelap dan hitam. Semenjak kau tinggalkan tempat ini berbulan-bulan yang lalu. Bintang yang kau puja tak lagi menunjukimu arah pulang. Mungkin saja mereka ikut bermigrasi bersamamu. Pindah ke kota lain mencari keberuntungan hingga lupa bila kedatangannya membaur bersama harapan. Harapan yang menggugah mimpi, mendorongnya untuk terbang melampaui cakrawala lalu menemuimu seperti malam-malam sebelumnya dan melambungkanmu hingga lupa diri.

Bagiku engkau adalah langit. Perihal bintang entah terang ataupun redup bukan masalah besar bagiku. Presensimu adalah langit yang biru ataupun abu-abu namun selalu jelas untuk dilihat, selalu rindu bila lama tak ditatap. Maka janganlah menjadi gelap. Aku tak bisa begitu saja buta karena engkau terlalu luas. Cintaku untukmu tak terbatas. Mengertilah.

Desember Belum Menutup Kalender

image
Weheartit.com

Selamat malam,

Hari ini aku pulang untuk menjenguk rinduku yang diam-diam telah mengakar jauh. Ratusan kilo meter yang terbentang masih saja tak mampu mereka capai melalui tanah. Satu-satunya sarana yang aku punyai sekarang adalah langit. Sejak kehilanganmu bertahun-tahun yang lalu. Langit adalah konotasi yang aku kumiliki tentang hilangmu. Langit satu-satunya yang mampu menyatukan kita dan sedikit menyingkat jarak, tak terlalu banyak. Lewat langit engkau kukirimi puisi seterang bintang, serapuh awan. Aku tak terlalu suka dengan pesawat, kereta atau hal lain yang membawamu dekat. Sebab kukira semahal apapun tiket untuk pergi tak akan membawamu kembali.

Saat kepindahanmu ke tempat lain. Aku tak memiliki malam lain yang lebih manis dari ceritamu. Dan narasi yang kususun dengan susah payah selama ini adalah untuk membuatmu mengerti jika kepergianmu berhasil membuatku patah hati. Kumohon mengertilah. Aku suka caramu berjuang, caramu menari, dan caramu menginspirasi.
Aku tak terlalu pandai menyusun kata-kata. Entah biru, entah putih yang kutahu langit membentang hingga ke kotamu. Aku selalu mengirim isyarat selembut cahaya bintang. Berdoa semoga Tuhan mengembalikanmu padaku. Sungguh aku ingin sekali lagi berjuang.
Tak mudah. Sungguh. Sulit dijelaskan bila aku masih saja mengingatmu tanpa lekang sebelum pejam. Berharap esok pagi ketika mataku terbuka ada engkau disini.

Entah esok atau lusa, Desember belum menutup kalender. Masih tersisa untuk kita kembali bersama, menutup luka. Aku mau jika hilangmu bukan sebatas langit yang tak mampu kujangkau. Kembalilah jatuh padaku seperti hujan. Aku tak lagi peduli tentang kedinginan. Tolong kembalilah.
.
.
.
Sebuah surat untuk dia yang entah kemana.

Toko Vintage

image

Engkau pasti sedang menebak-nebak pekerjaan apa yang akan aku ambil enam tahun mendatang. Rupanya enam tahun menjadi singkat setelah rencana dan harapan menyesaki papan mimpi. Profesi yang mapan, karier yang diimpikan semua orang mampu ditulis mahir. Namun percayalah tidak semua hal mampu kita capai. Kalenderku penuh oleh rencana-rencana yang buram. Mimpi memiliki eksistensi tersendiri dan lebih teguh bila ditulis. Tapi bagiku semua profesi di dunia ini sama, hanya saja mungkin ketidakpastian seringkali membayang. Takut tak mampu mewujudkan.

“Aku tetap suka menulis”, kataku setiap engkau bertanya hal apa yang mampu membuat nyaman.
Menulis sama seperti datang ke toko vintage setiap akhir pekan. Membeli benda klasik untuk dibawa pulang. Menulis adalah membuka ingatan yang telah menjadi sejarah dalam hidup. Kau tahu, di toko vintage rindu bisa engkau beli. Tak murah memang tapi memilikimu lewat barang antik adalah kebahagiaan tersendiri.
Toko vintage adalah rumah untuk kenangan-kenangan, harapan yang terlewati dan juga mimpi yang belum terbeli. Kau tak harus membeli kenangan, cukup berkunjung saja. Ada banyak hal yang perlu diingat namun tak harus diperjuangkan. Disana setiap rindu bisa engkau obati tanpa perlu membayar mahal.

“Pengunjung toko itu tentulah orang yang tak bisa pergi dari masa lalu”, engkau menambahi. Seolah setiap orang disini tak mampu datang ke masa depan menjemput harapannya. Bukan. Bukan begitu. Bukankah setiap detik berlalu kita telah melangkah ke hal baru. Setiap detik yang ditunggu dengan was-was menghadirkan hal yang berbeda. Hanya saja terkadang waktu begitu saja bermetamorfosis menjadi hal klasik. Bermetamorfosis menjadi barang antik.

Kau sering bertanya kenapa aku begini sekarang. Entah. Hidup membawaku terdampar pada keberuntungan yang menyakitkan. Sakit sekali. Seperti menahan nyeri yang selalu kambuh dan tak kunjung sembuh. Namun aku tak selalu mendapat yang kusuka maka aku belajar mencintai hidupku apa adanya.
Jika engkau bertanya aku akan jadi apa suatu saat nanti. Aku sungguh tak pernah tahu jawabannya. Tak ada jaminan kehidupanku di masa depan. Aku hanya mengunjungi hal klasikku setiap saat. Bercengkerama dengan pena, dengan harapan yang belum sempat kubawa pulang, lalu membeli harapan-harapan baru.
.
.
.
Ketika semua sudah tertulis kenapa harus khawatir?
Semua akan baik-baik saja, percayalah.

Kepingan Kolase

image

Aku mencari diriku sendiri beberapa tahun ini. Kepingan kolase yang hilang padahal mampu menggenapkan. Setiap ada jeda tiap keping dariku mencari kepingan yang lain. Namun tak ada yang berhasil menemukannya. Waktu membawanya terbungkus oleh sejarah. Kenangan-kenangan dalam buku catatan, surat dan beberapa penggal puisi yang belum terselesaikan.

Kolaseku hampir terbentuk sempurna. Satu keping yang tanggal mampu memulihkan semua. Namun hilangnya satu membuat sebuah mimpi tak terangkai rapi. Harapan bisa mudah hancur begitu tersentuh.
Aku mencari diriku pada halaman-halaman kenangan. Siapa tahu jika masih ada yang terbaca memulihkan semua dari awal. Tak ada tentangmu, tentang hujan atau tentang kehilangan. Semuanya tersegel seperti tak mau dibuka kembali.

Ada kamu disana. Barangkali engkau sebenarnya keping kolase yang selama ini kucari. Namun kebencian telah terangkai sempurna. Kita tak bisa begitu saja menjadi sejarah yang suatu ketika akan ditertawakan. Atau sebuah bacaan yang menyenangkan namun tak mampu disatukan.

Kepingan kolaseku telah gagal kucari. Aku menyerah. Waktu membiarkannya menjadi mimpi yang luka. Semuanya raib begitu saja.

Karena kau tahu, yang terbaik akan pergi. Jika engkau terlalu lama menanti.