Coklat Panas Dikala Hujan

image
Pinterest.com

Coklat panasmu sudah tandas. Senja belum menghilang dari langit bahkan baru saja dimulai. Hujan yang sedari tadi berisik di luar tak mengecohmu yang sedang keasyikan memikirkan seseorang. Seseorang yang tak ingin kau miliki. Hari ini adalah perayaan jatuh cintamu yang sudah berlangsung lima bulan lamanya, hampir genap enam bulan dan cuma kurang dua puluh hari. Sengaja kau persiapkan coklat panas dikala cuaca tak bersahabat dengan kita. Harusnya sekarang engkau duduk di bangku taman sambil mencicipi buku-buku tentang jatuh cinta atau romansa sejenisnya. Namun cuaca hari ini memang keparat. Pengharapanmu berakhir dengan secangkir coklat panas dan duduk di teras sembari sesekali merasakan butir-butir hujan yang menerpa kulitmu karena dihilir angin.

Coklat panas yang tinggal cangkirnya itu tak pernah lekang dari upacara jatuh cintamu tiap tanggal empat, bulan ini engkau sedikit terlambat. Coklat minuman segala jenis manusia dari berbagai bangsa. Tak peduli esok berat badanmu akan bertambah atau tidak. Setidaknya coklat bisa menambah sedikit angka di timbangan meskipun cuma setengah atau seperempat angka. Karena tubuhmu memang tak seideal artis-artis terkenal. Namun kau percaya bahwa setidaknya engkau manusia berbakat yang beruntung telah lahir ke dunia meski tak memiliki tinggi badan dan berat badan yang sempurna. Dan kau akui jika engkau bukanlah manusia yang akan ia pilih jika dia punya kesempatan memilih. Dia akan memilih orang lain yang sesuai dengan hidupnya. Bukan manusia unik sepertimu yang kadang tampak kadang transparan.

Tak ada buku baru hari ini, namun sengaja kau ambil koleksi lamamu yang telah tinggal di rak selama lima tahun. Buku yang menguning dimakan usia, halamannya yang sudah tak sebagus dahulu kala tapi masih bau toko buku dimana dulu engkau membelinya. Perayaanmu selalu begini, selalu ada sepasang mata yang siap sedia membaca memorabilia. Kisah-kisah yang pantas diingat. Jatuh cinta tak selalu cocok bila berakhir bahagia, kadang cinta yang cuma mampu melambai tanpa perlu kepala yang menengok terasa lebih mewah dari pada cinta yang berakhir dengan kebahagian.

Aku tahu, engkau selalu bahagia meskipun hujan melanda dan tak ada buku baru. Aku ingat kisahmu tentang jatuh cinta yang terasa lebih manis saat tak mampu memiliki. Aku ingat dia yang membelikanmu segelas Teh tawar hangat yang ternyata tak mampu memaniskan hidupmu. Aku ingat dia yang mengantarmu pulang tanpa bertanya apakah engkau baik-baik saja saat itu. Lalu kau memutuskan untuk cukup jatuh cinta saja. Tak perlu ada ucapan rindu dan sayang yang dihantarkan. Percuma saja jika kalian berdua bersama dan hanya bisa berucap maaf setiap akhir pekan.

Aku ingin memujamu atas sederetan kata yang membuatku berkecukupan. Jatuh cinta lebih indah daripada cinta antara dua orang. Tepatnya aku ingin bernasib sama sepertimu yang mampu mencintai tanpa perlu kerepotan memiliki. Dan kau begitu mahirnya melaksanakan upacara perayaan jatuh cintamu hanya dengan buku dan secangkir coklat panas dikala hujan.

Ternyata coklat panas lebih bisa memaniskan hidupmu daripada Teh tawar hangat. Selamat merayakan jatuh cinta…

Advertisements

Pengelana

image

Cuacaku selalu berhujan akhir-akhir ini. Aku ingin memastikan jika engkau tak kedinginan. Aku baik-baik saja. Aku hanya pergi sebentar menengok hutan yang semakin sepi dari pengunjung. Aku janji akan mengajakmu kesini jika kau pulang nanti. Kita bisa menikmati pepohonan yang tumbuh besar di pinggir jalan, memetik bunga-bunga, mencari jalan tanpa perlu merasa tersesat. Aku janji akan mengajakmu ke hutan suatu saat.

Alamanda

image

Aku melihat Alamanda tumbuh di tubuhku sendiri. Sedikit demi sedikit telah kutemukan kebahagiaan yang menyembul keluar. Jujur, aku tak lagi menghitung keberadaanmu di duniaku kini. Tak ada lagi langit dan bintang-bintangnya. Sekarang cuaca sedang tidak mendukung, sayang…

Aku tak ingin bercerita tentang kesedihanku namun aku ingin kau mengenal sahabat baikku dari Surabaya. Sahabat yang kukenal dengan baik beberapa hari ini. Kau akan jatuh cinta saat pertama bertemu dengannya. Manusia berkulit putih dengan hati selembut bunga Alamanda. Bunga yang setahun terakhir ini kucari-cari namun tak berhasil kutemukan. Dialah obat penenang yang kutemukan saat posisiku di dasar jurang. Tangannya datang mengulurkan bantuan dengan segera. Lihat aku tak membutuhkanmu lagi seperti dahulu kala.

Kau lihat, kini aku telah tumbuh tanpa ada kata-kata yang bisa menjelaskan. Aku tak lagi butuh dedikasimu untuk setia membantuku. Janji-janji yang keluar  tanpa ada perhitungan. Sudah berapa saja kata-kata terulur dan hangus jadi abu. Sudah, cukup, berhentilah berjanji. Mungkin kau lihat aku tak sama lagi. Aku beberapa kali dihantam kecewa lebih dari sebelumnya aku lebih mahir bermimpi sekarang. Perasaanku tak keruan saat itu dan hanya aku sendiri yang tahu. Aku menjadi konselor untuk diriku sendiri lantas kemudian aku sadar jika memendam iri tak semudah memendam cinta.

Kau harus tahu bahwa kau manusia paling beruntung yang lahir ke dunia. Keluargamu begitu baik dengan deretan kasih sayang yang tak henti menyambangi hidupmu. Tak perlu lagi kau bandingkan hidupmu dengan aku yang cuma  punya diriku sendiri.

Tapi sekarang lihatlah, aku temukan Alamanda tumbuh ditubuhku sendiri. Kau mungkin tak percaya jika aku bisa menjadi apapun. Alamanda tumbuhan langka berbunga kuning seperti terompet. Ia siap berbunyi merdu bagai terompet tahun baru nanti jika kebahagiaan melingkupiku. Aku tidak takut lagi. Aku adalah Alamanda yang hidup di kebunku sendiri.

Lagu Tentangmu

image
Pinterest.com

Lagu tentangmu kuputar berkali-kali. Cukup hari ini. Setelah ini semua akan kukemasi lagi. Beberapa hari lagi aku akan pergi. Aku tak lagi butuh ucapan selamat tinggal, ataupun kenang-kenangan. Segalanya akan kutinggalkan di rumah, biar kenangan-kenangan itu tak menjumpaiku ketika aku sibuk. Sebab aku tak lagi punya waktu untuk mengingat-ingat hari kemarin yang diliputi kesedihan.
Kau lihat, tanpamu aku masih baik-baik saja.

Berlabuh

image
Pinterest.com

Aku adalah anak kecil yang penasaran kemana hujan itu akan berlabuh. Jatuh meresap di dalam tanah, tidakkah ia kesepian. Ia terus menyusup untuk menemukan kawannya yang lain. Kadang jika ia beruntung, ia akan kembali mengalir dan menemukan jalan menuju samudra. Jika tidak ia hanya akan menguap ke langit berkondensasi jadi awan untuk kemudian jatuh lagi.
Apakah hujan tak pernah merasa kesakitan tiap kali ia jatuh ke tanah. Berapa kilometer saja jarak yang ia tempuh untuk sampai ke bumi. Hujan adalah pengelana, ia lewati ranah-ranah mulai dari benua, samudra, pulau-pulau, kota-kota. Hingga ia kelelahan dan tak kuat menopang tubuhnya lalu jatuh satu-persatu ke bumi.

Kutahu hujan tak pernah takut untuk jatuh. Keyakinannya, suatu ketika ia akan menemukan tempat yang tepat untuk bermuara. Ia terus berlabuh melewati apa saja. Hujan cuma analogi yang klise. Telah banyak kudengar puisi-puisi, prosa-prosa, juga kisah-kisah tentang hujan. Aku tak bosan. Hanya saja aku tak akan seheboh dahulu kala saat rintik itu turun. Aku tak akan bernyanyi lagi.

Aku tak ingin menjadi hujan yang jatuh berkali-kali.

Bunga Meja

image
Pinterest.com

Masih kuingat malam-malam kau lewat depan rumahku yang sepi. Lalu telepon berdering mengirimkan pesan bahwa kau pulang. Daun-daun meranggas di halaman depan seperti perasaan yang berjatuhan kali ini. Perasaanku tak merupa hujan namun berupa daun-daun jatuh.
Kerap juga kulihat foto-fotomu di Instagram, atau statusmu di Facebook. Aku diam-diam berprofesi jadi pengintai. Dan kau sasarannya. Engkau bukan alasanku bertanya-tanya tapi engkaulah alasanku mencintai semesta.

Wajahmu dulu sembab. Air mata kerap hinggap tanpa permisi. Mereka dengan sengaja membasahi pipi. Agar kau kenal dan mengerti jika hujan bisa saja terbit dari matamu yang sayu. Mata yang kehilangan warnanya.

Kali ini kau ajak aku menghampiri kedai di pinggir sungai. Dimana banyak manusia menghabisi kesedihannya juga ikut mengalirkan air matanya jadi air sungai. Supaya bisa bermuara ke samudra katanya. Sehingga mereka bisa berbagi kesedihan dengan ikan-ikan, karang laut, atau makhluk setengah hewan setengah tumbuhan.
Kau ajak aku kesini bukan untuk alasan itu. Di kedai yang cuma buka dari senja sampai tengah malam. Ini markas populer kita, tak ada kursi spesial ataupun alat-alat penyerang musuh. Kau duduk bersebelahan denganku namun tak dekat. Seperti ada tembok penghalang diantara kita. Jarak satu metermu membuatku gila.
Disini raut wajahmu yang sebelumnya sembab akan berubah jadi matahari. Akan ada dua matahari terlihat dari kedai ini. Satu dari raut wajahmu dan yang kedua matahari yang mulai menyisih ke kaki langit barat.

“Aku suka bunga meja”, percakapan kita dimulai, mulutmu membuka mengulurkan kata-kata.
“Kenapa?”
“Bunga meja memancarkan keindahan di kamarku. Satu-satunya bunga yang bisa kubawa kemana-mana. Sebab ia akan menetap di meja, dimanapun itu. Bunga meja akan kubawa sejauh apapun aku pergi.” Kata-katamu berhasil terulur sampai ke telingaku. Kata-kata itu merambat bagai aliran listrik yang mampu menghidupkan TV. Kata-kata yang tak akan kutemukan balasan yang tepat.

Andai aku punya mesin untuk menjelma. Pasti akan aku ubah setengah atau bahkan seluruh ragaku jadi bunga meja agar bisa kau bawa kemana-mana. Sebab inginku selalu dekat denganmu, selalu ada tanpa pernah sedikitpun berjarak. Namun semenjak kepergianmu ke kota lain untuk kuliah, juga kepergianku yang malah lebih jauh untuk pergi bersekolah membuat kita sangat berjarak. Ratusan mil membuatku kehilanganmu. Jangankan ratusan mil, satu meter darimu saja aku merasa jauh.

Kini kau dekap tanganmu sendiri. Jam belum memunculkan malam berbintang. Sekarang masih satu setengah jam sebelum malam tiba. Tanganku tak bereaksi, udara dingin berembus. Ingin kubukakan jaket, ingin aku peduli namun rona matamu tak membutuhkannya. Engkau berakting sekuat yang kau bisa. Perempuan hebat.

Dua jam kita telah berlalu. Saatnya beradu dengan malam, dengan langit juga dengan cahaya-cahaya yang sudah sedari dua tahun lalu kau nobatkan jadi harapan.

“Selain bunga meja, aku juga mencintai bintang. Bintang mengilhamiku untuk selalu berdoa dan berusaha. Aku tak peduli jika harapanku luruh dihantam kegagalan. Selama aku masih bisa berharap. Segala yang luruh masih dapat kunikmati.” Kalimatmu kali ini lebih puitis. Eksistensiku disini seolah tak pernah ada. Hanya ada bunga meja dan bintang di duniamu. Lalu kau tempatkan aku di negeri sebelah mana?

Kalimatmu menyambar ingatanku. Aku ingat saat kau kecil nenekmu pergi dan kau tak punya siapa-siapa lagi kecuali ayahmu. Kau berjuang demi ayahmu. Tanganmu terbentuk sekuat baja hingga kau bisa menghancurkan segalanya. Namun menjadi terlalu kuat tak terlalu baik. Kau acuhkan bagianmu yang mudah rapuh saat tersentuh. Dan kau hanya berkecukupan oleh dirimu sendiri. Kau tak punya sahabat dekat. Kau hibur dirimu sendiri dengan fantasi.

Malam kita semakin beku. Lebih tepatnya kata-kata dan percakapan yang beku. Kita tak tinggal di negeri empat musim yang bersalju namun bisa kulihat tanganmu yang memucat putih bagai salju. Matamu bertatapan langsung dengan bintang. Doa-doa kau kuarkan seperti karbondioksida yang keluar lewat hidungmu dan kembali lagi kau hirup oksigen. Sebenarnya kau tak butuh aku disini. Jiwaku tak digubris, akulah yang abstrak engkaulah yang nyata.

Nanti setelah kau menghilang. Kubiarkan lagi tubuhmu bercengkerama dengan imajinasi. Pikiran yang melayang ingin bereinkarnasi sebagai makhluk lain. Maafkan aku yang belum mampu menjelma jadi bunga meja ataupun cahaya bintang yang mampu menggenapi kebahagiaanmu.

Untuk seseorang yang harus berhenti bersedih…

Kadang Aku Ingin

image

Kadang aku ingin melarikan diri entah dengan cara bagaimana
Agar bisa lepas dari dekapan kesedihan yang berlarut-larut tak pernah kelar
Kadang aku ingin menjelma jadi orang lain, sebab kulihat mereka lebih nyata berbahagia.
Kadang aku ingin menunjukkan tangisku ke semua manusia di bumi ini tak cuma diam-diam dalam kamar sambil mengusap air mata sendirian.
Kadang aku ingin lupa atau amnesia. Tak perlu lagi aku ingat kegagalanku yang bertubi-tubi atau takutku yang enggan pergi.

Aku takut ayahku pergi dan aku tak lagi memiliki alasan untuk hidup dan berjuang lagi.
Aku takut harapanku tak berkesempatan untuk terealisasi. Tak seperti manusia di sekitarku yang lebih dulu menyatakan mimpi.
Aku ingin lupa. Agar tak lagi kuingat sedih-sedih yang merambat di hari esok, lusa atau tahun-tahun yang akan datang.