Daffodil

image
Pinterest.com

Botol bekasmu terisi penuh air. Botol bening yang sengaja di pungut dari tempat sampah karena tampak cocok untuk vas Daffodil yang baru engkau beli kemarin sore. Bunga itu kau tempatkan di pinggir rakmu paling kanan. Satu-satunya tempat yang masih tersisa karena buku berjejeran penuh disana. Kau bilang kau tak suka bunga. Namun karena banyak kegagalan hinggap di hidupmu sengaja kau cari-cari inspirasi untuk bangkit lagi.
Setiap tempat, sahabat, saudara, psikolog bahkan pelukis di kota ini telah kau datangi untuk mencari semangat berkarir lagi. Pencarianmu tak berhasil. Engkau berhenti. Engkau begitu mahir bermimpi namun selalu dalam bila terjatuh sampai-sampai sulit menemukan tangga untuk naik ke atas lagi.

Suatu ketika kau mengantar ibumu pergi ke toko bunga. Untuk membeli bunga sebagai hadiah saudaramu yang baru saja menikah. Kau tak suka bunga, entah itu aromanya, warnanya, maupun bentuknya yang menakjubkan. Bagimu bunga adalah untuk mereka yang suka mendrama dan mencari-cari kebahagiaan. Atau untuk orang kesepian yang tak lagi punya sesuatu untuk dilakukan.
“Berkebunlah, siapa tahu bisa membangkitkan semangatmu lagi”
Saranku bahkan tak pernah sekalipun kau gubris. Mau berkebun apa, menanam apa. Memperbaiki mimpi saja engkau belum bisa. Pikiranmu bermetamorfosa jadi sungai dangkal saat engkau gagal. Dan bagimu aku ini adalah lautan tempatnya bermuara. Tak perlu berombak. Cukuplah tenang.

Toko bunga langganan ibumu dimiliki oleh kakek tua. Seperti seorang teman akrab, kakek tua itu selalu bercerita makna bunga kepada pembeli. Setiap bunga memiliki arti masing-masing. Bagimu semuanya hanya tentang bising. Lalu setangkai Daffodil diberikan untukmu. Awal yang baru katanya. Tak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu.
Kau pulang dengan bunga tergeletak di meja. Sebuah bunga yang dibiarkan layu. Aromanya yang wangi tak memikatmu untuk tersenyum apalagi tertawa. Kau sebut bunga racun. Jadi engkau ini masih belum berevolusi. Entah orang-orang menyebutnya apa.

Pernah suatu ketika kau kuberi buku tentang bunga. Buku yang setahun tak tersentuh. Bahkan sampai menguning di rak. Ada kisah tentang Daffodil disana. Sesuatu yang menarikmu untuk membacanya. Tentang mereinkarnasi mimpi. Setiap hal di dunia ini pasti pernah jatuh sebelum terbang. Jatuh lagi lalu terbang lagi. Bukankah demikian dinamisasi hidup.
Dan sampai saat ini engkau selalu bereuforia tentang perayaan tahun baru Imlek. Selalu kau beli confetti paling banyak untuk merayakannya. Tak lupa juga bertangkai-tangkai Daffodil untuk disemayamkan dalam botol bekas dari tempat sampah. Tak peduli sesuatu itu berasal dari mana. Asalkan ia indah dan membuatmu tersenyum. Dunia telah melahirkan ribuan kebahagiaan untukmu. Ternyata lautan yang tak perlu berombak berhasil membuatmu percaya tentang bunga.
Dan yang paling kau syukuri adalah tak perlu datang ke daerah Mediterania untuk membeli Daffodil. Kau cukup datang ke toko bunga langganan ibumu dan bercakap-cakap tentang makna bunga dengan kakek tua yang mendedikasikan hidupnya untuk berkebun.
.
.
Untuk seseorang yang mencintai Daffodil…
.
Tadi pagi seseorang bercerita pada saya tentang Daffodil. Kebetulan saya belum pernah punya Daffodil.  Dia bilang bunga penyambut musim semi. Bunga Daffodil diterjemahkan sebagai bunga keberuntungan di Prancis juga bunga tahun baru di Cina. Bunga yang berarti semangat untuk memulai sesuatu yang baru dan kelahiran musim semi.
Teruslah mencintai Daffodil…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s