Bunga Meja

image
Pinterest.com

Masih kuingat malam-malam kau lewat depan rumahku yang sepi. Lalu telepon berdering mengirimkan pesan bahwa kau pulang. Daun-daun meranggas di halaman depan seperti perasaan yang berjatuhan kali ini. Perasaanku tak merupa hujan namun berupa daun-daun jatuh.
Kerap juga kulihat foto-fotomu di Instagram, atau statusmu di Facebook. Aku diam-diam berprofesi jadi pengintai. Dan kau sasarannya. Engkau bukan alasanku bertanya-tanya tapi engkaulah alasanku mencintai semesta.

Wajahmu dulu sembab. Air mata kerap hinggap tanpa permisi. Mereka dengan sengaja membasahi pipi. Agar kau kenal dan mengerti jika hujan bisa saja terbit dari matamu yang sayu. Mata yang kehilangan warnanya.

Kali ini kau ajak aku menghampiri kedai di pinggir sungai. Dimana banyak manusia menghabisi kesedihannya juga ikut mengalirkan air matanya jadi air sungai. Supaya bisa bermuara ke samudra katanya. Sehingga mereka bisa berbagi kesedihan dengan ikan-ikan, karang laut, atau makhluk setengah hewan setengah tumbuhan.
Kau ajak aku kesini bukan untuk alasan itu. Di kedai yang cuma buka dari senja sampai tengah malam. Ini markas populer kita, tak ada kursi spesial ataupun alat-alat penyerang musuh. Kau duduk bersebelahan denganku namun tak dekat. Seperti ada tembok penghalang diantara kita. Jarak satu metermu membuatku gila.
Disini raut wajahmu yang sebelumnya sembab akan berubah jadi matahari. Akan ada dua matahari terlihat dari kedai ini. Satu dari raut wajahmu dan yang kedua matahari yang mulai menyisih ke kaki langit barat.

“Aku suka bunga meja”, percakapan kita dimulai, mulutmu membuka mengulurkan kata-kata.
“Kenapa?”
“Bunga meja memancarkan keindahan di kamarku. Satu-satunya bunga yang bisa kubawa kemana-mana. Sebab ia akan menetap di meja, dimanapun itu. Bunga meja akan kubawa sejauh apapun aku pergi.” Kata-katamu berhasil terulur sampai ke telingaku. Kata-kata itu merambat bagai aliran listrik yang mampu menghidupkan TV. Kata-kata yang tak akan kutemukan balasan yang tepat.

Andai aku punya mesin untuk menjelma. Pasti akan aku ubah setengah atau bahkan seluruh ragaku jadi bunga meja agar bisa kau bawa kemana-mana. Sebab inginku selalu dekat denganmu, selalu ada tanpa pernah sedikitpun berjarak. Namun semenjak kepergianmu ke kota lain untuk kuliah, juga kepergianku yang malah lebih jauh untuk pergi bersekolah membuat kita sangat berjarak. Ratusan mil membuatku kehilanganmu. Jangankan ratusan mil, satu meter darimu saja aku merasa jauh.

Kini kau dekap tanganmu sendiri. Jam belum memunculkan malam berbintang. Sekarang masih satu setengah jam sebelum malam tiba. Tanganku tak bereaksi, udara dingin berembus. Ingin kubukakan jaket, ingin aku peduli namun rona matamu tak membutuhkannya. Engkau berakting sekuat yang kau bisa. Perempuan hebat.

Dua jam kita telah berlalu. Saatnya beradu dengan malam, dengan langit juga dengan cahaya-cahaya yang sudah sedari dua tahun lalu kau nobatkan jadi harapan.

“Selain bunga meja, aku juga mencintai bintang. Bintang mengilhamiku untuk selalu berdoa dan berusaha. Aku tak peduli jika harapanku luruh dihantam kegagalan. Selama aku masih bisa berharap. Segala yang luruh masih dapat kunikmati.” Kalimatmu kali ini lebih puitis. Eksistensiku disini seolah tak pernah ada. Hanya ada bunga meja dan bintang di duniamu. Lalu kau tempatkan aku di negeri sebelah mana?

Kalimatmu menyambar ingatanku. Aku ingat saat kau kecil nenekmu pergi dan kau tak punya siapa-siapa lagi kecuali ayahmu. Kau berjuang demi ayahmu. Tanganmu terbentuk sekuat baja hingga kau bisa menghancurkan segalanya. Namun menjadi terlalu kuat tak terlalu baik. Kau acuhkan bagianmu yang mudah rapuh saat tersentuh. Dan kau hanya berkecukupan oleh dirimu sendiri. Kau tak punya sahabat dekat. Kau hibur dirimu sendiri dengan fantasi.

Malam kita semakin beku. Lebih tepatnya kata-kata dan percakapan yang beku. Kita tak tinggal di negeri empat musim yang bersalju namun bisa kulihat tanganmu yang memucat putih bagai salju. Matamu bertatapan langsung dengan bintang. Doa-doa kau kuarkan seperti karbondioksida yang keluar lewat hidungmu dan kembali lagi kau hirup oksigen. Sebenarnya kau tak butuh aku disini. Jiwaku tak digubris, akulah yang abstrak engkaulah yang nyata.

Nanti setelah kau menghilang. Kubiarkan lagi tubuhmu bercengkerama dengan imajinasi. Pikiran yang melayang ingin bereinkarnasi sebagai makhluk lain. Maafkan aku yang belum mampu menjelma jadi bunga meja ataupun cahaya bintang yang mampu menggenapi kebahagiaanmu.

Untuk seseorang yang harus berhenti bersedih…

Advertisements

3 thoughts on “Bunga Meja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s