Berlabuh

image
Pinterest.com

Aku adalah anak kecil yang penasaran kemana hujan itu akan berlabuh. Jatuh meresap di dalam tanah, tidakkah ia kesepian. Ia terus menyusup untuk menemukan kawannya yang lain. Kadang jika ia beruntung, ia akan kembali mengalir dan menemukan jalan menuju samudra. Jika tidak ia hanya akan menguap ke langit berkondensasi jadi awan untuk kemudian jatuh lagi.
Apakah hujan tak pernah merasa kesakitan tiap kali ia jatuh ke tanah. Berapa kilometer saja jarak yang ia tempuh untuk sampai ke bumi. Hujan adalah pengelana, ia lewati ranah-ranah mulai dari benua, samudra, pulau-pulau, kota-kota. Hingga ia kelelahan dan tak kuat menopang tubuhnya lalu jatuh satu-persatu ke bumi.

Kutahu hujan tak pernah takut untuk jatuh. Keyakinannya, suatu ketika ia akan menemukan tempat yang tepat untuk bermuara. Ia terus berlabuh melewati apa saja. Hujan cuma analogi yang klise. Telah banyak kudengar puisi-puisi, prosa-prosa, juga kisah-kisah tentang hujan. Aku tak bosan. Hanya saja aku tak akan seheboh dahulu kala saat rintik itu turun. Aku tak akan bernyanyi lagi.

Aku tak ingin menjadi hujan yang jatuh berkali-kali.

Advertisements

6 thoughts on “Berlabuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s