Secangkir Kopi di Surabaya

image
Pinterest.com

Wajahmu masih manis seperti dahulu. Postur tubuh yang mungil dan tetap natural tanpa polesan makeup. Hanya setipis usapan lipstik menempel di bibir agar kau tak terlihat sakit. Rambutmu yang panjang kini telah dipotong hingga sebahu. Warnanya sekarang sudah menggelap, tak lagi merah kecoklatan. Dulu engkau adalah perempuan berambut merah yang berkelana di hutan dan tak minum kopi.

Tak ada yang berubah darimu, hanya saja sekarang engkau bukan lagi perempuan yang menyukai hutan. Karena engkau pucat tak lagi berklorofil. Bagiku pucat berdefinisi sesuatu yang tak lagi berwarna, tak lagi bahagia. Aku melihat wajah yang tak lagi punya aroma. Dan benar, kesedihan telah lama menempel di punggungmu dan merupa beban yang kau bawa kemana-mana.

Lihat senyum itu. Ia seperti endapan kopi yang tak punya rasa atau hanya pahit. Cangkir itu tak lagi terisi cairan hitam yang manis. Yang cair kini adalah kesedihanmu menjelma jadi air mata. Dan aku paham bagaimana kau lupa bahagia karena hidupmu sekarang adalah perasaan minum kopi di pinggir jalan. Kau ingin kembali namun tak menemukan jalan. Kau ingin pulang tapi tak menemukan rumah.

Ingin sekali kuhampiri dudukmu yang cuma lima meter di dekatku. Di kafe milik perusahaan Amerika ini. Engkau datang setiap pulang sekolah. Ingin kukatakan “Jangan minum Kopi kalau memang tidak suka”. Sebab pada dasarnya memang Kopi punya dua sisi yakni manis dan pahit. Engkau akan terkesima saat mencecap manis. Namun menelan pahit, jangan dipaksa bila memang tidak bisa. Dan jangan berpikir bahwa pahit dapat berakhir manis karena sebenarnya kau butuh satu kilogram gula. Terlalu banyak gula cuma bikin kita diabetes.

Tanganmu baru saja mengusap tangis yang ingin kau tepis. Sudah seratus lima puluh empat hari engkau tinggal. Sudah seratus lima puluh empat hari harapanmu terbenam. Dan engkau berpikir Kopi mampu menyelamatkanmu. Mampu menyumbangkan nafas terakhirnya agar mimpimu kembali hidup. Namun harapanmu serupa endapan Kopi yang tak akan diseruput orang. Kau ingin beda dengan menikmati pahit namun kau tak bisa.

Jangan diteruskan. Kau kemasi buku di mejamu dan menaruhnya di tas. Sekali lagi kau usap gumpalan air di ekor matamu agar ia tak jatuh. Engkau bediri dan mulai berjalan menjauhi tempat dudukku juga aku. Jarak kita tak lagi lima meter. Kakimu terus berjalan menuju trotoar. Aku bahagia engkau tak berusaha mencicipi pahit di cangkirmu. Tinggalkan saja endapan Kopi itu. Engkau tak harus merasakan pahit. Lepaskan saja.

Advertisements

6 thoughts on “Secangkir Kopi di Surabaya

  1. “Lihat senyum itu. Ia seperti endapan kopi yang tak punya rasa atau hanya pahit. Cangkir itu tak lagi terisi cairan hitam yang manis. Yang cair kini adalah kesedihanmu menjelma jadi air mata. Dan aku paham bagaimana kau lupa bahagia karena hidupmu sekarang adalah perasaan minum kopi di pinggir jalan. Kau ingin kembali namun tak menemukan jalan. Kau ingin pulang tapi tak menemukan rumah.”

    Suka banget sama paragraf ini. Cuma ada satu yg aku “ga setuju”… Kopi pada dasarnya hanyalah pahit. Gula yang membuatnya manis. Maka diperlukan hati yang berani untuk minum kopi pahit… Yang sangat pahit.

    Keren Libi! Btw, nongkrong di “kafe amerika” di mana nih? hehehehehehe

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s