Mimpi dan Puisi

image

Kamu ingat rambutku yang panjang. Aku yang suka minum Teh di pagi hari dan menulis puisi untukmu. Aku ingat waktu itu hujan di akhir bulan Januari hingga suhu udara disini mencapai 19 derajat Celsius. Sedikit tak wajar karena biasanya suhu terendah disini hanya sampai 25 derajat Celsius. Dan saat itu dingin menyelimuti badan. Namun aku masih enggan menarik selimut untuk tidur. Jam sembilan pagi saat hujan sesekali dibawa angin melewati jendela.
Aku tidak lupa jika aku dulu seorang penulis puisi dan bercita-cita menjadi penyair di Indonesia. Ada lima buku kumpulan puisi yang telah kutulis sejak sekolah menengah pertama. Buku yang entah dimana saat ini. Waktu itu aku tahu bahwa puisi adalah dunia lain yang membuatku nyaman dan bertahan. Satu-satunya saluran untuk mengutarakan sedih, senang, sepi dan segala jenis perasaan yang ada di kepala.

Kamu ingat puisi yang aku bawa pulang. Puisi karanganmu yang tak sengaja kubawa berlalu. Dulu kita masih sama-sama amatiran saat berkarya. Berharap menjadi penulis muda yang sukses di Indonesia. Apa ada yang lebih indah dari dua orang yang berbakat sama bermimpi sama dan saling mencintai.
Tapi sekali lagi bahwa Charles Darwin tidak berbohong tentang teorinya. Manusia berevolusi. Kita akan berubah. Entah menuju kemajuan atau kemunduran. Dan aku berharap pada poin pertamalah aku berada sekarang.

Kamu lihat aku sekarang. Rambutku tinggal sebahu dan ingin selalu tampil milenial di depan banyak manusia. Aku tidak merubah apapun. Aku masih perempuan yang menulis untukmu. Bukan puisi, hanya cerita-cerita sederhana. Meski sekarang cita-cita kita beda. Kamu bukan penulis puisi amatiran lagi. Kamu telah berevolusi. Melangkah jauh di depanku. Aku tidak melihat apa-apa melainkan hanya bayanganmu yang menjauh dan tidak pernah menoleh.
Tapi lihatlah aku, masih perempuan yang sama. Yang mengagumi keberadaanmu dan mencintai karya-karyamu.

Iklan

7 thoughts on “Mimpi dan Puisi

  1. cukuplah rambutmu sebahu saja. jangan di pendekin lagi. nanti akan membuat banyak orang terperangah pangling memandangi sang pemilik mahkota kepala.

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s