Lepas

image

Langkahmu telah sampai. Tadi engkau setengah berlari. Napasmu sesekali panjang sesekali pendek. Hampir setiap hari engkau datang kesini. Aneka macam manusia memenuhi ruangan ini. Aneka macam manusia itu adalah mereka yang sedang menanti seseorang atau sedang menanti terbang. Aku tahu, engkau tak tahu masuk ke dalam klasifikasi yang mana. Aku ingin meyakinkanmu bahwa engkau tengah menantiku. Tapi aku ingin lepas dan engkau harus segera bebas.

Sesekali wajahmu menengok ke arah layar mirip televisi yang menempel pada atap.  Layar itu menampilkan jadwal pesawat akan terbang dan pesawat akan lepas landas. Engkau menghela napas. Sesungguhnya aku tahu engkau ingin lepas. Entah dengan cara bagaimana engkau harus segera bebas. Beberapa orang melewatimu yang sedang duduk di ruang tunggu. Sesekali juga engkau lihat wajah mereka yang tampil bahagia sekaligus mereka yang berduka. Lagi-lagi engkau tak mengerti engkau masuk kategori yang mana.

Sudah hampir tiga bulan ini engkau kemari. Mengharapkan aku datang dan engkau akan menyambutku dengan senyuman. Engkau bahkan berencana membuat pesta kecil di rumah dengan iringan lagu kesukaanku, makanan favorit serta lilin aromaterapi yang dulu sering kunyalakan saat pagi. Engkau rindu nyanyianku yang membangunkanmu tiap hari. Namun seluruh rencanamu belum terwujud hingga kini. Engkau masih menantiku hadir.

Beberapa kerabat memintamu berhenti. Namun tak sekalipun pernyataan mereka engkau gubris. Engkau masih percaya aku akan datang. Aku juga berharap demikian. Namun aku ingin lepas. Biarkan aku bebas.

Tiga jam lamanya engkau telah menanti. Aneka manusia di ruangan ini telah berganti. Aku tahu engkau belum ingin pulang. Harusnya ada kabar dariku yang setidaknya tiba di ponselmu. Sesekali engkau mengecek bila saja pesan itu tiba. Namun rangkaian kata-kata itu tidak pernah ada. Engkau masih percaya aku akan tiba. Entah kapanpun itu, aku akan tiba.

Engkau ingin menangis. Air di pelupuk matamu tidak bisa terbendung. Harusnya ada penjelasan logis tentang perpisahan ini. Batinmu berkata-kata, sebenarnya hatimu juga ingin melepasku. Namun engkau takut tak lagi bisa menatapku, mendengarkan kisah-kisahku. Engkau takut penantianmu hanyalah hal sia-sia yang dilakukan oleh manusia tidak waras. Menunggu kekasihnya yang pergi dan hilang. Dengan tabah saput itu engkau usap dengan punggung tanganmu yang mulai memucat.

Aku ingin bersuara. Entah bagaimana aku ingin menyapamu. Namun semua yang kubawa kini tinggallah kenangan. Engkau juga demikin. Engkau yakin bahwa aku masih ada meski tak lagi berupa. Tanganmu mengacak-acak rambutmu yang keemasan. Sudah tiga bulan ini tanganmu tak lagi mengusap rambut panjangku yang menggelap. Sudah lama engkau tak mendengar kisah-kisahku yang abstrak.

Saat langkahmu ingin pulang. Engkau kembali teringat langkahku yang pergi. Pikiranmu melayang. Pesawat yang kutumpangi terbang dan hilang. Tidak pernah sampai dan tidak pernah kembali. Engkau tak tahu apakah ragaku masih utuh. Namun engkau yakin jiwaku masih ada. Namun aku tak pernah bisa bersuara.

Tapi aku ingin lepas. Engkau juga harus bebas. Biarkan aku ambyar bersama udara. Akan kubiarkan engkau pergi dan lupa. Dunia mungkin memisahkan kita. Namun hati tidak pernah. Ialah tempat perasaanku dan perasaanmu bermuara. Jiwaku masih ada. Meski tak pernah mampu merangkulmu.
.
.
.
The city was on fire for us, we would have died for us, up in flames, cue the rain.
– Lea Michele

Advertisements

4 thoughts on “Lepas

  1. hiii kak libi…
    salam kenal saya hany, tulisan kakak bagus2 🙂
    kebetulan saya sdg melakukan penelitian (Skripsi) mengenai menulis . jika berkenan boleh minta email nya kak? untuk partisipasi pengisian kuisioner.
    terima kasih

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s