Dingin

7959132dd8b0a413ba8424bcf04ae938
Pinterest.com

Malammu mendingin,

Menjadi beku ketika salju mulai turun pelan-pelan dari langit. Udara di kotamu tinggal gumpalan oksigen yang sakit ketika dihirup. Engkau mungkin mampu menghembuskan udara, tapi aku tahu ada secercah harapan yang sengaja engkau simpan, tidak ingin lagi engkau hempaskan.

Dan di tempat itu engkau terdiam. Memikirkan kira-kira kalimat apa yang bisa digunakan untuk menyatakan maksud dengan tepat. Tanpa perlu ada tanya lagi yang mengikuti setelahnya. Lalu engkau akan mulai mencoret-coret buku sketsamu, memikirkan objek yang sempurna sebagai hadiah untukku meski engkau tahu aku selalu mencintai karyamu.

Pikiranmu selalu menghadirkan bayanganku. Mungkin perasaanmu sama persis seperti udara di bulan ini yang sakit ketika dihirup namun engkau tetap harus menghirup karena ialah alasanmu untuk tetap hidup.

Barangkali, akulah udara yang engkau hembuskan namun tetap kau tarik kembali. Barangkali, akulah dingin yang membuatmu merasa kesakitan lagi dan lagi.

.

.

Malang, 28 November 2017

 

Iklan

Bertanya pada Kedalaman

Deus sabe o que é melhor pra mim
Pinterest.com

Kisah-kisah di buku ini tidak pernah habis. Entah kapan akan terhenti. Lajunya waktu yang selalu menentukan latar, tokoh dan juga alurnya. Kisah ini kadang sedih kadang bahagia. Meski lebih sering menampilkan luka dan air mata.

Engkau ingin berdiskusi dengan suara alam. Bertanya mengenai akhir cerita yang telah kau baca sejak belasan tahun silam. Berteriak kepada hujan yang sesekali kau terobos untuk menemukan jawaban. Dan tibalah waktu ketika hujan telah berhenti dan engkau kembali pulang tanpa membawa apa-apa.

Sesekali ingin rasanya engkau membenam ke dalam laut. Bertanya pada kedalaman. Apakah ia menyimpan jawaban tentang akhir kisah-kisahmu. Sebab tak ada seorang pun yang berusaha menemui kedalaman untuk mencari tahu.  Tapi sistem kesadaran dalam otakmu masih berfungsi, engkau ingin menemukan jawaban tanpa perlu mati. Sekarang ataupun nanti.

Engkau tak mengerti mengenai akhirmu sendiri. Lebih sering engkau lihat berbagai jenis manusia hilir mudik melewati kehidupannya menggenggam kisah mereka. Dengan segenap senyuman, sekumpulan air mata dan juga tumpukan perjuangan yang menggunung tinggi. Dan engkau masih disini, pada titik yang sama dimana biasanya engkau menangis malam-malam agar tak ada seorang pun bertanya mengapa.

Kisah-kisah di bukumu pasti akan berakhir. Entah bergema sedih atau bahagia. Kembalikan kepada waktu yang mensistem dengan sedemikian rupa. Engkau biarkan kisah-kisah di bukumu bermakna meski tanpa mendapat jawaban apa-apa. Karena hidup semestinya bergulir seperti hujan yang menemui Bumi. Apakah engkau tahu, bahwa partikel hujan pun membutuhkan proses panjang sebelum dijatuhkan ke Bumi. Dan engkau memilih untuk terus berdiskusi dengan alam. Tanpa perlu menyerah. Sekarang.

Camomile

Aku rindu wangi teh yang engkau seduh sebelum matahari tiba di angkasa, tanpa gula dan hanya wangi yang mengudara. 

Aroma teh yang menguar saat langit masih gelap. Hampir tiga bulan ini tidak lagi kulihat engkau disini. Engkau tidak meninggalkan surat bahkan tidak ada sebaris pesan. Hanya kenangan yang engkau tinggal dan wangi parfummu yang masih melekat.

Setiap kali hujan, aku masih membayangkan tanganmu yang menengadah langit sambil merasakan jatuhnya hujan. Engkau akan berlari ke teras rumah sambil mendengar bisikan hujan. Suara alam paling merdu, untukmu.

Aku tidak tahu pasti apakah engkau masih mengejar mimpimu. Karena lebih sering engkau menangis dari pada berlari. 

Kenangan akanmu masih sering larut bersama teh panasku setiap senja. Aromamu masih kucium sama saat seperti hujan tiba. Engkau perempuan yang mencintai hujan yang ingin jatuh bersama tiap butir air dari langit. 

Aku tak pernah tahu apa engkau akan kembali, engkau bukan lagi perempuan hujan. Bukan lagi yang berlari ke teras rumah sambil bernyanyi. Namun aku masih disini, menyeduh teh dan berharap engkau kembali.