Camomile

Aku rindu wangi teh yang engkau seduh sebelum matahari tiba di angkasa, tanpa gula dan hanya wangi yang mengudara. 

Aroma teh yang menguar saat langit masih gelap. Hampir tiga bulan ini tidak lagi kulihat engkau disini. Engkau tidak meninggalkan surat bahkan tidak ada sebaris pesan. Hanya kenangan yang engkau tinggal dan wangi parfummu yang masih melekat.

Setiap kali hujan, aku masih membayangkan tanganmu yang menengadah langit sambil merasakan jatuhnya hujan. Engkau akan berlari ke teras rumah sambil mendengar bisikan hujan. Suara alam paling merdu, untukmu.

Aku tidak tahu pasti apakah engkau masih mengejar mimpimu. Karena lebih sering engkau menangis dari pada berlari. 

Kenangan akanmu masih sering larut bersama teh panasku setiap senja. Aromamu masih kucium sama saat seperti hujan tiba. Engkau perempuan yang mencintai hujan yang ingin jatuh bersama tiap butir air dari langit. 

Aku tak pernah tahu apa engkau akan kembali, engkau bukan lagi perempuan hujan. Bukan lagi yang berlari ke teras rumah sambil bernyanyi. Namun aku masih disini, menyeduh teh dan berharap engkau kembali.


Iklan

2 pemikiran pada “Camomile

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s