Sebuah Surat dari Rennes

Pinterest.com

Hujan pagi ini sekelebat hadir setelah tukang pos mengantar surat. Pukul 9.45 pagi suratmu sampai setelah jauh menyeberangi benua-benua. Perjalanan yang begitu jauh itu tentu tidak sia-sia karena telah sampai pada alamat yang tepat. Mungkin tidak terlalu masuk akal di era komunikasi yang super canggih ini jika masih ada beberapa manusia yang memutuskan untuk bertukar kabar melalui surat. Manusia-manusia itu memilih untuk menikmati prosesi mengirim surat yang magis dan dramatis. Bayangkan saja, menunggu suratmu datang memerlukan waktu sekitar sebulan, jika hari ini engkau memutuskan untuk menulis surat maka tiga puluh hari yang akan datang itu suratmu baru sampai ke tujuannya. Karena begitu lamanya menunggu surat akhirnya prosesi bertukar kabar ini menjadi lebih sakral dan berkesan.

Pagi ini setelah tukang pos membalikkan arah motor untuk kembali ke kantor pos. Aku tidak cepat-cepat membuka surat yang engkau kirimkan. Aku terlebih dahulu melangkahkan kaki ke markas favoritku dalam melakukan hal-hal ajaib, kamar. Satu-satunya dimensi ruang yang menghubungkan aku dengan kompleks kognitif yang selalu giat bekerja untuk berpikir, menulis, memutuskan hal bahkan prosesi sekali sebulan ini.

Surat darimu engkau bungkus rapi dengan amplop surat warna putih berornamen pohon Pinus. Aneh, bagiku perayaan Natal sudah terlewat jauh sekali bahkan aku tidak lagi mengingat apa saja yang aku lakukan ketika Natal. Ada kotak kecil di bagian bawah bertuliskan alamat pengirim yang tentu saja engkau tulis dengan tanganmu sendiri. Jantungku seolah memompa darah lebih cepat ketika aku memutuskan untuk membuka amplop.

Di dalam amplop, tidak ada yang spesial, hanya sebuah kertas dengan tulisan seperti surat pada umumnya. Yang berbeda hanya engkau sengaja menambahkan sebuah plastik berisikan dua lembar daun pohon Oak yang mengering. Aku menduga daun ini sudah engkau simpan sejak September tahun lalu ketika musim gugur menerpa kotamu. Aku bahagia engkau tidak lupa. Aku bahagia engkau mengingat-ingat percakapan tidak penting tentang kehidupanku.

Aku membaca suratmu perlahan. Hanya beberapa paragraf yang engkau tulis. Hanya berisi cerita-cerita biasa dan tentang daun Oak yang ikut serta di dalamnya. Aku membaca hingga kata terakhir tanpa terlewat. Aku membayangkan saat engkau menulis surat ini sebulan yang lalu tanpa perasaan apapun kecuali kebahagiaan.

Hari ini, aku tidak lagi mendengar mimpi-mimpimu. Aku tidak lagi mendengar cerita-cerita yang membuatku tertawa hingga lupa waktu. Hari ini engkau tidak lagi bermimpi untuk duduk di bawah Pohon Oak bersamaku sambil menikmati senja di Rennes. Hari ini kita telah berbeda.

Terakhir aku mengemasi suratmu dan mengembalikannya pada amplop. Aku membayangkan surat inilah yang terakhir aku terima. Tidak akan ada surat darimu bulan depan. Tidak akan ada surat darimu di tahun-tahun yang akan datang.

Di bawah Pohon Oak engkau dan aku akan duduk bersama

Membaur bersama senja,

Berguguran bersama daun-daun kering

Melukis mimpi pada kanvas, mematrinya pada semesta

Bersama Pohon Oak aku akan menerjang angin

Mengejar belukar awan, menunggu daun-daun semi dalam dingin

Di bawah pohon Oak engkau menunggu musim

Laju yang tak pernah tentu,

Suara-suara yang memanggilmu adalah perasaan rindu

Membuyar bersama taburan angin

Kata-kata darimu telah tergerai oleh waktu

Tidak ada kita yang tersisa

Hanya kertas-kertas kusam yang menua

Hanya rasa yang tinggal tanpa ada kuasa

P.S: Entah kenapa terinspirasi buat nulis karya fiksi ini setelah hampir sebulan ngga ada postingan baru di blog.

Iklan