Merangkum Senja dan Gelap

happily // ✧

Pandanganmu akan segera terfokus pada satu titik setibanya senja di cakrawala. Itulah yang berhasil aku simpulkan setelah sekian lama bersamamu. Bahkan sebelum ritual mengamati senja di mulai. Engkau terlebih dahulu menyiapkan coklat panas, roti kaleng, dan sebuah buku catatan yang selalu engkau bawa kemanapun.

Senja. Kata itu sekumpulan inspirasi yang membuatmu terbelenggu, pecah, ribut, berantakan hingga akhirnya menemukan ide di kepala. Entah sejak kapan, bagimu menyaksikan piringan matahari yang mulai hilang adalah salah satu mukjizat yang dikirim Tuhan. Lama sekali engkau berpikir sambil menelusuri langit yang berpadu antara biru, abu-abu, dan temaram matahari yang mulai terkikis dari horizon.

Langit kita mulai hitam, sekian lama kita merunut waktu hingga bisa mempertemukan senja dan gelap. Hari ini kita harus kembali dengan mimpi, dengan inspirasi, dengan arti menganggumi.

Aku telah mencintaimu sekian lama seperti kucintai diriku sendiri. Kita mungkin terbias oleh waktu, tapi aku ada, seperti senja yang rapuh digusur malam, seperti matahari yang mulai redup dari langit.

Hingga dua bait inspirasimu keluar. Aku percaya jika menulis adalah nyawa, dan alam adalah saksi bisu perjuanganmu. Termasuk senja dan gelap di dalamnya meski dua fenomena itu tidak terdeskripsi dengan lengkap di buku.

Sejak engkau menulis tiga tahun yang lalu. Engkau pergi mengajakku ke tempat yang otentik demi perjuangan mencari arti kehidupan. Meski sebenarnya yang kau cari adalah inspirasi untuk memunculkan baris per baris kata. Percayalah jika terkadang dia datang lewat hal-hal sederhana bukan hal yang mahal atau ekstra.

Engkau bercerita bahwa menulis adalah hal terbaik dari semesta. Sama seperti mencari jati diri. Ketika sesapan demi sesapan menandaskan coklat panas di cangkir itu, hingga roti di kaleng itu tinggal remahan. Kisahmu belum selesai.

Kita tidak gagal berevolusi, aku mengingat mimpimu menjadi Cosmologist yang bisa merangkum waktu lewat kalender kosmik. Tapi percayakah, bahwa engkau sesungguhnya tidak gagal. Engkau mampu merangkum senja dan gelap menjadi kalimat indah yang berhasil membuatku larut bersama seluruh tujuanmu.

Kita masih ada, lewat warna cerah di barat dan gelap di timur. Hanya waktu yang terus bergulir dan kita ikut mengalir. Tapi percayakah, tujuan kita bukan untuk abadi. Melainkan terus berkarya hingga mimpi ini bukan lagi mimpi.

Tiga baris pertamaku tertulis. Setidaknya tiga bait itu -dua darimu dan satu dariku- mulai terakumulasi menjadi selembar puisi. Entah mengapa tiga selalu menjadi angka sakral untuk memulai.

Merangkum senja dan gelap, bersama waktu yang berjalan.

Engkau memutuskan berhenti menyelesaikan karya ini dan mengajakku kembali pulang. Senja di langit telah habis. Tidak ada guratan mentari sama sekali menandakan malam telah tiba.

Esok kita akan kembali lagi. Untuk menuntaskan harapan ini. Agar perjalanan yang telah jauh ditempuh tidak sia-sia.

Kepada senja, datanglah dengan bahagia. Karena kita masih ada, menunggumu lindap berkejaran dengan gelap.

…………….

Malang,

29 April 2018,

Ketika senja tiba.

 

 

 

Iklan

It’s Not Your Job To Be Everything To Everyone.

YES!!!!!!!!!!!!!!!! It is the hardship of my life!!!!!!!!!!!!!!!
Pinterest.com

Bisa memahami orang lain pasti pernah jadi salah satu ekspektasi yang orang lemparkan ke kita. Tapi apa sebenarnya makna dari memahami itu sendiri. Melalui pengalaman pribadi dan studi yang berkaitan dengan psikologi saya mulai mengerti makna krusial dari Individual differences dan stigma yang selalu kita lemparkan ke orang-orang di sekitar kita.

Pada dasarnya semua manusia memang memiliki hidup yang berbeda mulai dari keluarga, masa kecil, pengalaman, kegagalan, kesedihan dan masih banyak hal lagi. Tapi kenapa setiap melihat orang lain melakukan sesuatu ada beberapa orang yang cenderung menganggap itu sebagai kesalahan. Mengapa tidak mencoba memahami latar belakang seseorang dulu lalu baru memberi saran. Mengapa ada beberapa orang secara otomatis langsung melabel buruk orang lain, otomatis menghakimi dan menghina.

Beberapa orang diciptakan dengan kapasitas berbeda. Ada orang dewasa dan matang serta bisa memahami orang lain dengan mudah. Ada yang tidak bisa memahami orang sama sekali. Anda mungkin salah satunya. Jika anda lebih pada sifat yang kedua tidak pernah kah terpikir bahwa orang lain pasti punya pertimbangan setiap melakukan hal, setiap orang punya pertimbangan dalam memilih. Dan kita dengan mudahnya langsung menghakimi begitu saja dan parahnya ada beberapa dari kita yang melakukan bullying pada orang tersebut.

Mengkaitkan dengan Teori Psikologi Individual Differences, memang setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda dalam kehidupannya oleh karena itu ada beberapa dari kita mungkin merespon stimuli dengan berbeda. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda jadi jika kita tidak bisa menyalahkan orang tersebut hanya karena keputusannya tidak sesuai dengan argumen kita apalagi jika keputusan tersebut tidak melanggar hak kita sama sekali.

Tapi mengapa kita begitu mudah menghakimi orang lain. Mungkin anda sering mendengar kutipan ini “Don’t judge a book by its cover”. Secara alamiah memang kita merespon lingkungan terutama lebih mudah merespon stimulus yang konkrit daripada yang abstrak. Kecenderungan menilai apa yang bisa kita lihat memang lebih besar dari pada hal abstrak seperti perasaan, suasana hati, dan hal yang tidak terlihat lain. Kita bisa melihat orang lain tertawa padahal belum tentu ia benar-benar bahagia, kita bisa melihat orang lain tersenyum padahal sebenarnya ia sedang sedih. Maka karena itu cobalah memahami orang lain karena mereka butuh dipahami, mereka butuh dihargai, dan mereka butuh didukung.

Lalu bagaimana menghadapi argumen orang yang tidak setuju pada keputusan kita. Kita tidak bisa menjadi segalanya bagi semua orang karena kapabilitas masing-masing manusia yang berbeda. Jika anda menemui teman yang selalu menghakimi keputusan anda padahal keputusan itu sudah sesuai dengan banyak pertimbangan. Anggap saja orang tersebut memang belum mature, karena dalam teori psikologi kognitif milik Jean Piaget, usia sesorang menentukan tingkat egosentrismenya, jadi semakin dewasa otomatis dia akan bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, tidak egois, serta mampu menempatkan diri. Namun karena usia tidak menentukan kedewasaan seseorang anggap saja orang tersebut memang belum sepenuhnya mature. Dan anda tidak perlu ambil pusing dalam menghadapi hal tersebut.

You can’t change how people think about you, so enough trying. Just live your life and be happy.

Malang, April 2018.