Tentang Bintang-bintang Yang Kau Duga Mampu Membawamu Pulang

“Aku lelah, jalan ini terlampau panjang”

“Sebentar lagi usai” kataku

Namun langkahmu menjauh memilih tempat yang gelap dan sepi sehabis diguyur hujan. Ditempat yang tidak mampu dikenali orang lain itu engkau menangis sejadi-jadinya.

Perasaan ini terlalu kaku. Aku tahu. Setiap perjalanan yang membuat kita gegabah, gelagapan, dan tak keruan. Kadang mencari makna hidup diperoleh dari hal-hal yang membuat kita berantakan. Tapi engkau tetap saja bertahan meski jalan ini sudah menjungkir-balikkanmu berkali-kali.

Bilang saja aku tidak mampu menandingi perasaanmu. Tak mampu menjangkau tangismu yang pecah tengah malam itu. Kecemasan ini saja yang terus engkau pelihara sampai akhir itu tiba. Namun aku tahu bahwa bukan akhir yang engkau harapkan. Melainkan sebuah penerimaan.

Apa masih mau begini?

Tentu harapmu tidak. Aku pun tidak mengerti mengapa memahami diri sendiri begitu sulit. Selintas pikiran-pikiran yang terus saja melayang di benakmu ingin engkau luapkan, teriakkan, lantangkan. Namun persepsimu, tak akan ada manusia yang benar-benar peduli.

Aku hanyalah suara dalam kepalamu yang kadang meminta untuk berdiam, menerima bukan berarti menyerah. Hanya potongan-potongan imajinasi abstrak yang sering membuatmu bahagia karena bertubi-tubi diterjang inspirasi. Yang kadang cuma hadir ketika tengah malam atau saat engkau membuka layar komputer dan mulai mengetik. 

Tapi aku nyata sebagai artefak ketidaksadaraan yang eksis dalam benakmu. 

Malam ini jalan kita resmi usai namun tangismu tengah malam itu tetap menderai. 

“Ada yang salah” Kataku.

Matamu tetap saja bersimbah air yang tak bisa lagi kau bendung. Sudah beberapa hari engkau tidak menangis. Sudah beberapa hari hidupmu membaik, mengapa malam ini kesedihan itu kembali menggerogoti pikiranmu?

Mungkin jalan ini tidak mampu membawa kita pulang. Harusnya kita memilih jalan lain. Kesalahan kita yang terus memilih dan berjalan di zona ini. Namun tak baik menyalahkan diri sendiri. Lupakan.

Catatan di taman yang sepi, tengah malam setelah diguyur hujan

Malang, 24 November 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s