Mereka yang Vulnerable dan Butuh Dukungan Sosial

Setahun lalu aku bergabung di sebuah organisasi di fakultasku. Semua berjalan baik-baik saja, bertemu orang baru, terkoneksi dengan beragam orang membuatku sadar setiap orang layak dijadikan teman. Awalnya semua baik, kami baik-baik saja, semua berjalan normal seperti seharusnya. Sampai suatu ketika saat waktu semakin berjalan ke depan, aku sering merasa lelah, capek, pusing sehabis berinteraksi dengan mereka. Awalnya aku pikir ini akan baik-baik saja karena cuma masalah kecil. Namun dibalik pengabaianku terhadap masalah ini kondisiku makin tidak baik. Hampir setiap malam sehabis rapat organisasi aku menangis, tidak bisa tidur, kepikiran sampai kadang lupa makan, terus berpikir untuk commit suicide dan sulit mengendalikan self-harm. Aku masih mencoba mengabaikan dan berkata pada diriku sendiri jika semua kesedihan ini akan berlalu. Masih mencoba menanamkan sense of coherence dalam pikiranku.

Memang perasaan ini berlalu namun setiap melihat mereka yang lebih unggul dan mendeklarasikan kelebihan-kelebihan mereka, aku merasa tidak baik-baik saja. Lingkungan sosialku selalu penuh tekanan dan memang aku menyadari setiap orang lahir dengan keunikan masing-masing. Berkali-kali aku menulis surat, catatan, reminder, latihan yoga, meditasi, dan banyak hal lainnya hanya sekedar meyakinkan kalau aku juga pantas. Berkali-kali mereka bilang jika aku tidak perlu merasa insecure karena aku juga berbakat meskipun berbeda dengan mereka. 

Aku memendam perasaan sedih ini dan lebih memilih tidak menunjukkan kepada orang lain. 

Tapi hari ini aku ingin bilang kalau aku memang tidak baik-baik saja tapi bukan berarti aku ingin menyerah.

Yang sebenarnya ingin aku katakan adalah setiap orang termotivasi untuk bergabung dengan komunitas, lingkungan sosial, ataupun sebuah organisasi terkadang bukan cuma untuk mencari pengalaman, atau mencapai prestasi. Beberapa orang seperti aku contohnya seringkali bergabung dengan beberapa kegiatan untuk mencari social support. Terkoneksi dengan orang baru, belajar menghargai, mendengar orang lain, bercerita adalah tujuanku.

Mungkin banyak orang di luar sana yang tidak mengira jika kata-kata yang mereka ucapkan mampu melukai orang lain bahkan kalimat sepele sekalipun. Beberapa orang di luar sana memiliki karakter yang vulnerable, fragile, insercure, dan overthinking seperti aku.

Mungkin terkesan aneh, setiap kali aku merasa sangat butuh bantuan aku datang ke konselor dan menceritakan apa yang terjadi. Beberapa kali berpikir untuk datang ke dokter dan ingin meminta obat namun belum sekalipun terlaksana. 

Saat kecemasanku kumat aku selalu merasa butuh dukungan. Merasa setiap hal bahkan hal paling sepele sekalipun membuat iritabilitas dan membuatku berpikir untuk bunuh diri. Namun ketika perasaanku sedang netral aku bisa dengan tenang mengendalikan keadaan ini. Aku selalu bersiap untuk kondisi terparah di hidupku namun ketika kondisi itu terjadi kadang aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku ingin bilang bahwa tidak ada yang salah. Organisasi, lingkungan sosial, atau orang-orang di sekitarku, mereka tidak salah. Pikiranku lah yang salah, my brain has set to be something error. Tapi organisasiku dan hubungan sosial di dalamnya adalah stressor. Yang membuat penyakitku ini berkali-kali kumat. Itulah mengapa sangat penting menjaga perkataan dan menanyai orang-orang di sekitar kita apakah mereka baik-baik saja. 

Kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh seseorang. Tapi kita bisa membantu mereka untuk terus menjalani hidup. Bentuk perhatian sekecil apapun yang kalian berikan untuk orang-orang dengan mental problem akan sangat membantu mereka untuk pulih.

Aku tidak malu sebagai seorang mahasiswa psikologi yang memiliki mental problem. Banyak orang juga merasakannya. Seperti yang dikatakan oleh Victor Frank, aku percaya bahwa mereka yang mampu bertahan hidup adalah mereka yang mencoba hidup dengan cara yang bermakna meskipun menghadapi keadaan yang sangat berat.

Iklan

6 pemikiran pada “Mereka yang Vulnerable dan Butuh Dukungan Sosial

  1. Sabar…..berfikirlah yg positif tentang diri anda, andapun bisa seperti mereka hanya saja anda kurang pd aja,untuk omongan yg menyakitkan jadikan pelajaran ,berarti anda kalo ngomong lebih terkontrol supaya tidak seperti mereka, supaya tidak melukai teman seorganisasi, kadang mereka gak sadar kkalo apa yg di ucapkan menyakitkan,

    Suka

  2. Semangat Lindaaa! Mungkin kamu perlu beberapa waktu untuk menenangkan diri dan menjauh sebentar dari lingkungan yang bisa jadi toxic seperti itu. Kamu berhak untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan juga, Lin. Kalo ada apa-apa, boleh bangettt cerita-cerita ke aku siapa tau aku bisa bantu. Sekali lagi semangat terus ya, Lin! :”)

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s