Bersama Secangkir Kopi dari Playa

Hasil gambar untuk secangkir kopi dari playa

Kukenal dari seorang teman yang berdomisili di Yogyakarta. Aku tidak mengerti sebelumnya, hingga akhirnya memutuskan untuk benar-benar jatuh cinta. Meski pernah muncul sebagai bagian dalam sebuah film layar lebar yang difavoritkan banyak orang. Pikiranku saat itu hanya tertuju pada teater ini, bukan film tersebut.

Cerita ini tentang sebuah pementasan yang ribuan kali kubaca kisahnya namun belum pernah kusaksikan. Ingin sekali, suatu saat datang menonton pertunjukan ajaib ini. Dikala bioskop bisa ditemukan di sudut mana saja dengan variasi film apa saja. Aku adalah salah satu manusia yang tidak memfavoritkan nonton film. Tapi pertunjukan teater ini membuatku jatuh cinta. Aku masih percaya bahwa setiap keunikan adalah sisi yang layak dicari dan dipuja.

Pertama kali diperkenalkan oleh Papermoon Puppet, sekelompok orang yang mendirikan pertunjukan teater boneka yang cerita pementasannya diambil dari kisah nyata. Ya, setidaknya aku telah membaca beberapa kisah pementasan teater mereka yang benar-benar menakjubkan. “Secangkir Kopi dari Playa”, merupakan pementasan tentang cinta, pengorbanan, dan keikhlasan. Perpaduan yang terlalu indah namun juga mengharukan.

Tentang seorang pemuda bernama Wi, mahasiwa Teknik Sipil UGM, yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya ke Moskow pada era Soekarno. Sebelumnya, ia mengikat janji untuk menikahi kekasihnya setelah tugas belajarnya di Rusia selesai. Namun takdir tidak selalu datang seperti yang diharapkan. Mimpi tersebut akhirnya terputus oleh kabar menyedihkan. Kewarganegaraannya mendadak dicabut pada masa orde baru karena dianggap pro komunis. Wi tidak lagi bisa pulang ke Indonesia bahkan untuk menghubungi keluarga atau pun kekasihnya. Empat puluh tahun berlalu, ia tetap memilih tidak menikah untuk menepati janji kepada sang kekasih.

Akhirnya ia berhasil pulang pada masa pemerintahan Gus Dur meski hanya beberapa hari. Kesempatan pulang itu ia habiskan untuk menemui keluarga dan berkeliling Jogja untuk mencari kekasih lamanya, dengan harapan mereka akan bertemu dan bersatu kembali.

Kisah ini benar terjadi, tentang dua manusia  memilih menjemput takdir mereka masing-masing. Wi memutuskan untuk tidak menikah sepanjang hidupnya. Sedang sang kekasih yang entah dimana telah memilih takdir untuk bersama lelaki lain.

Mungkin kalian bisa membaca kisah lengkapnya pada artikel-artikel lain. Kisah yang mengharukan. Akhirnya, kisah ini aku nobatkan sebagai kisah cinta paling legendaris yang membuat terpikat, melebihi kisah cinta yang lain. Belajar bahwa mencintai bukan hanya tentang kebahagiaan atau perasaan memiliki. Karena semestinya cinta bukanlah konsep yang egois. Cinta masih ada meski dua orang telah memilih menjemput takdir masing-masing. Entah kenapa aku masih percaya jika suatu saat akan menemukan seseorang yang setia seperti Pak Wi, tokoh dalam pementasan tersebut.

Setiap membahas mengenai teater boneka ini, aku membayangkan betapa estetiknya pementasan ini. Dengan lampu-lampu romantis dan latar yang dibuat sedemikian rupa. Sudah bisa dipastikan aku akan menangis di tengah jalannya pementasan.

Namun sebenarnya, Makna itulah yang kucari. Ketika penerimaan membingkai kisah cinta. Sebuah arti, bahwa kesederhanaan teater ini mampu menampilkan arti yang dalam dan berharga bagi beberapa orang. Aku termasuk diantaranya.

 

 

Catatan pertama di pagi yang gerimis

Malang, 01 Desember 2018

Iklan

2 pemikiran pada “Bersama Secangkir Kopi dari Playa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s