Katniss dan Cerita yang Terus Kukenang

img_0024“Aku ingin menjadi pemberani seperti Katniss”. Kalimat itu aku lantangkan kepada diriku sendiri. Berkali-kali. Sama seperti bukunya yang aku baca berulang-ulang dan kubawa kesana-kemari. Filmnya kutonton lebih dari sepuluh kali hingga temanku berkomentar “Apa enggak bosan?”

Sayangnya tidak ada alasan yang mampu kuberikan kepada temanku itu. Karena film dan buku itu aku percaya bahwa eksistensi keadilan benar adanya. Kini sudah lebih dari enam tahun sejak buku itu pertama kali terbit. Dan aku tidak pernah bosan.

Aku punya kebiasaan memeluk buku saat tertidur. Buku itu masih salah satu yang kupeluk dan selalu berada di atas meja. Berbeda dengan beberapa buku lain yang kukemasi dalam lemari. Hunger Games mulai jarang kuceritakan akhir-akhir ini. Tapi Katniss, akan selalu menjadi favoritku.

Katniss seorang gadis dari Distrik 12, sebuah wilayah kecil di Negara Panem. Wilayah yang identik dengan kemiskinan dan kelaparan. Negaranya sendiri dikuasai oleh Capitol yang mewah, sedangkan distrik-distrik lain di negara tersebut bekerja keras untuk menyuplai kebutuhan Capitol. Lalu Hunger Games, adalah sebuah prosesi yang dibuat oleh presiden untuk menakut-nakuti semua distrik agar selalu patuh dan tidak melakukan pemberontakan. Katniss pada akhirnya menggantikan adiknya maju ke Hunger Games. Tapi dengan seluruh perjuangannya ia berhasil menjadi seorang penggerak, memberontak, menjadi tokoh revolusi yang berhasil memerdekakan banyak orang. Barangkali inti ceritanya seperti itu.Baca selebihnya »

Iklan