Hidup dengan Borderline Personality Disorder, Seperti Apa?

Aku ingat, pertama kali merasakannya saat umurku 14 tahun dan bersekolah di sebuah SMP di kota kecil yang sekarang sudah aku tinggalkan. Hari-hariku saat itu adalah menimbang antara “hari ini akan jadi hari baik” atau “hari ini akan jadi hari buruk”. Circle yang sekarang sudah jauh aku tinggalkan ternyata aku sadari memang tidak pernah bisa aku lepaskan.

Aku pun enggan lagi mengingat ada hal-hal di masa lalu yang sangat menyakitkan, yang masih terjadi hingga sekarang. Setiap kali belajar mindfulness mungkin hanya setengah dari diriku yang mau menerimanya, mau berdamai, setengahnya lagi hanya berpura-pura tegar seolah semua baik-baik saja.

Keadaanku semakin memburuk, aku ingat ketika aku tidak bisa merespon hal-hal di lingkungan dengan baik. Kadang aku merasa orang-orang begitu baik seperti malaikat, namun sekali mereka melakukan kesalahan aku akan menganggapnya begitu jahat. Seringkali aku memutuskan hubungan pertemanan, tidak terhitung lagi berapa orang, berakhir menyalahkan diri sendiri karena begitu bodoh, merasa hampa, sedih berkepanjangan, melukai diri sendiri, dan bahkan yang masih kurasakan hingga saat ini adalah suicidal thought. 

Terhitung seminggu sudah aku menangis setiap kali bangun tidur, menanyakan mengapa masih bernyawa hari ini. Memikirkan kecemasan-kecemasan dari berbagai sudut.

Aku datang ke psikologku bulan lalu, diajari caranya mencari celah untuk sembuh, dua minggu tiga minggu berjalan aku merasa baik-baik saja. Yang kuingat, aku sudah tidak lagi melakukan tindakan impulsif karena moodku yang berubah-ubah. Namun kenyataannya aku masih melakukannya.

Setiap pagi aku menangis, menanyakan lagi “kenapa masih hidup hari ini”. Setengah dariku ingin sembuh, setengahnya ingin pergi dan tidak kembali lagi.

Bahkan meskipun sekarang aku memiliki komunitas yang bergerak untuk memupuk kesadaran tentang kesehatan mental, aku tidak merasa lebih baik. Sering aku berharap aku bisa secepatnya pergi dari dunia ini.

Sungguh, hidup sebagai pengidap Borderline Personality Disorder sangat tidak mudah. Meski sering aku baca mereka yang akhirnya sukses meskipun harus battling dengan mental illness tersebut. Menjalani hidup seperti ini sangat berat. Aku pun tidak hidup di lingkungan pertemanan yang buruk, banyak teman-teman supportif yang selalu mendukungku, yang bisa kurepotkan untuk menemani saat situasi buruk, yang mau mendengar ceritaku. Namun kukatakan sekali lagi, hidup dengan mental illness sangat tidak mudah. Stigma-stigma yang aku terima mungkin begitu banyak, dianggap moody, menyebalkan, jahat, atau hal-hal negatif lain. Orang-orang mungkin akan berpikir perilaku buruk yg aku lakukan hanyalah excuse dari mental illnes yang aku alami. Tapi sungguh, aku benar-benar tidak bisa mengontrol perilaku dan emosiku. Sedikitnya orang paham tentang Borderline membuatku tambah bingung, aku merasa mereka semua buruk dan tidak terlahir untuk memahami manusia lain.

Terkadang aku merasa menjadi orang paling jahat di dunia, merasa terisolasi, merasa diabaikan, merasa lebih baik mati daripada terus-menerus hidup. Sebagian dariku mungkin masih menganggap ada harapan kecil, ada harapan yang bisa kupegang. Setengah dariku masih berharap bisa tumbuh, separuhnya lagi percaya akan sembuh.

Dari ceritaku, aku hanya ingin bilang. Mungkin kita semua tidak pernah belajar, mungkin kita semua pura-pura buta. Namun orang-orang dengan mental illnes sepertiku memang ada. Meskipun aku tidak pernah tahu apakah aku benar-benar akan tumbuh, atau memang suatu saat akan sembuh. Namun kita semua bertanggung jawab, kita semua bisa mulai untuk peduli. Hari ini aku tidak tahu harus berharap apalagi, tapi semoga tidak ada orang yang mengalami hal sepertiku di luar sana.

2 pemikiran pada “Hidup dengan Borderline Personality Disorder, Seperti Apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s