Bersama Secangkir Kopi dari Playa

Hasil gambar untuk secangkir kopi dari playa

Kukenal dari seorang teman yang berdomisili di Yogyakarta. Aku tidak mengerti sebelumnya, hingga akhirnya memutuskan untuk benar-benar jatuh cinta. Meski pernah muncul sebagai bagian dalam sebuah film layar lebar yang difavoritkan banyak orang. Pikiranku saat itu hanya tertuju pada teater ini, bukan film tersebut.

Cerita ini tentang sebuah pementasan yang ribuan kali kubaca kisahnya namun belum pernah kusaksikan. Ingin sekali, suatu saat datang menonton pertunjukan ajaib ini. Dikala bioskop bisa ditemukan di sudut mana saja dengan variasi film apa saja. Aku adalah salah satu manusia yang tidak memfavoritkan nonton film. Tapi pertunjukan teater ini membuatku jatuh cinta. Aku masih percaya bahwa setiap keunikan adalah sisi yang layak dicari dan dipuja.Read More »

Iklan

Mereka yang Vulnerable dan Butuh Dukungan Sosial

Setahun lalu aku bergabung di sebuah organisasi di fakultasku. Semua berjalan baik-baik saja, bertemu orang baru, terkoneksi dengan beragam orang membuatku sadar setiap orang layak dijadikan teman. Awalnya semua baik, kami baik-baik saja, semua berjalan normal seperti seharusnya. Sampai suatu ketika saat waktu semakin berjalan ke depan, aku sering merasa lelah, capek, pusing sehabis berinteraksi dengan mereka. Awalnya aku pikir ini akan baik-baik saja karena cuma masalah kecil. Namun dibalik pengabaianku terhadap masalah ini kondisiku makin tidak baik. Hampir setiap malam sehabis rapat organisasi aku menangis, tidak bisa tidur, kepikiran sampai kadang lupa makan, terus berpikir untuk commit suicide dan sulit mengendalikan self-harm. Aku masih mencoba mengabaikan dan berkata pada diriku sendiri jika semua kesedihan ini akan berlalu. Masih mencoba menanamkan sense of coherence dalam pikiranku.

Memang perasaan ini berlalu namun setiap melihat mereka yang lebih unggul dan mendeklarasikan kelebihan-kelebihan mereka, aku merasa tidak baik-baik saja. Lingkungan sosialku selalu penuh tekanan dan memang aku menyadari setiap orang lahir dengan keunikan masing-masing. Berkali-kali aku menulis surat, catatan, reminder, latihan yoga, meditasi, dan banyak hal lainnya hanya sekedar meyakinkan kalau aku juga pantas. Berkali-kali mereka bilang jika aku tidak perlu merasa insecure karena aku juga berbakat meskipun berbeda dengan mereka. 

Aku memendam perasaan sedih ini dan lebih memilih tidak menunjukkan kepada orang lain. 

Tapi hari ini aku ingin bilang kalau aku memang tidak baik-baik saja tapi bukan berarti aku ingin menyerah.

Yang sebenarnya ingin aku katakan adalah setiap orang termotivasi untuk bergabung dengan komunitas, lingkungan sosial, ataupun sebuah organisasi terkadang bukan cuma untuk mencari pengalaman, atau mencapai prestasi. Beberapa orang seperti aku contohnya seringkali bergabung dengan beberapa kegiatan untuk mencari social support. Terkoneksi dengan orang baru, belajar menghargai, mendengar orang lain, bercerita adalah tujuanku.

Mungkin banyak orang di luar sana yang tidak mengira jika kata-kata yang mereka ucapkan mampu melukai orang lain bahkan kalimat sepele sekalipun. Beberapa orang di luar sana memiliki karakter yang vulnerable, fragile, insercure, dan overthinking seperti aku.

Mungkin terkesan aneh, setiap kali aku merasa sangat butuh bantuan aku datang ke konselor dan menceritakan apa yang terjadi. Beberapa kali berpikir untuk datang ke dokter dan ingin meminta obat namun belum sekalipun terlaksana. 

Saat kecemasanku kumat aku selalu merasa butuh dukungan. Merasa setiap hal bahkan hal paling sepele sekalipun membuat iritabilitas dan membuatku berpikir untuk bunuh diri. Namun ketika perasaanku sedang netral aku bisa dengan tenang mengendalikan keadaan ini. Aku selalu bersiap untuk kondisi terparah di hidupku namun ketika kondisi itu terjadi kadang aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku ingin bilang bahwa tidak ada yang salah. Organisasi, lingkungan sosial, atau orang-orang di sekitarku, mereka tidak salah. Pikiranku lah yang salah, my brain has set to be something error. Tapi organisasiku dan hubungan sosial di dalamnya adalah stressor. Yang membuat penyakitku ini berkali-kali kumat. Itulah mengapa sangat penting menjaga perkataan dan menanyai orang-orang di sekitar kita apakah mereka baik-baik saja. 

Kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh seseorang. Tapi kita bisa membantu mereka untuk terus menjalani hidup. Bentuk perhatian sekecil apapun yang kalian berikan untuk orang-orang dengan mental problem akan sangat membantu mereka untuk pulih.

Aku tidak malu sebagai seorang mahasiswa psikologi yang memiliki mental problem. Banyak orang juga merasakannya. Seperti yang dikatakan oleh Victor Frank, aku percaya bahwa mereka yang mampu bertahan hidup adalah mereka yang mencoba hidup dengan cara yang bermakna meskipun menghadapi keadaan yang sangat berat.

Tentang Bintang-bintang Yang Kau Duga Mampu Membawamu Pulang

“Aku lelah, jalan ini terlampau panjang”

“Sebentar lagi usai” kataku

Namun langkahmu menjauh memilih tempat yang gelap dan sepi sehabis diguyur hujan. Ditempat yang tidak mampu dikenali orang lain itu engkau menangis sejadi-jadinya.

Perasaan ini terlalu kaku. Aku tahu. Setiap perjalanan yang membuat kita gegabah, gelagapan, dan tak keruan. Kadang mencari makna hidup diperoleh dari hal-hal yang membuat kita berantakan. Tapi engkau tetap saja bertahan meski jalan ini sudah menjungkir-balikkanmu berkali-kali.

Bilang saja aku tidak mampu menandingi perasaanmu. Tak mampu menjangkau tangismu yang pecah tengah malam itu. Kecemasan ini saja yang terus engkau pelihara sampai akhir itu tiba. Namun aku tahu bahwa bukan akhir yang engkau harapkan. Melainkan sebuah penerimaan.

Apa masih mau begini?

Tentu harapmu tidak. Aku pun tidak mengerti mengapa memahami diri sendiri begitu sulit. Selintas pikiran-pikiran yang terus saja melayang di benakmu ingin engkau luapkan, teriakkan, lantangkan. Namun persepsimu, tak akan ada manusia yang benar-benar peduli.

Aku hanyalah suara dalam kepalamu yang kadang meminta untuk berdiam, menerima bukan berarti menyerah. Hanya potongan-potongan imajinasi abstrak yang sering membuatmu bahagia karena bertubi-tubi diterjang inspirasi. Yang kadang cuma hadir ketika tengah malam atau saat engkau membuka layar komputer dan mulai mengetik. 

Tapi aku nyata sebagai artefak ketidaksadaraan yang eksis dalam benakmu. 

Malam ini jalan kita resmi usai namun tangismu tengah malam itu tetap menderai. 

“Ada yang salah” Kataku.

Matamu tetap saja bersimbah air yang tak bisa lagi kau bendung. Sudah beberapa hari engkau tidak menangis. Sudah beberapa hari hidupmu membaik, mengapa malam ini kesedihan itu kembali menggerogoti pikiranmu?

Mungkin jalan ini tidak mampu membawa kita pulang. Harusnya kita memilih jalan lain. Kesalahan kita yang terus memilih dan berjalan di zona ini. Namun tak baik menyalahkan diri sendiri. Lupakan.

Catatan di taman yang sepi, tengah malam setelah diguyur hujan

Malang, 24 November 2018

Tentang Hujan, Jogja, dan Suara di Kepala

IMG_6025Hanya berjarak satu meter dari pinggiran trotoar dan kedai kopi. Tepat dibawah rindang pepohonan yang masih meneteskan air. Tapi hari itu Jogja hujan basah yang meninggalkan gelimang air di sekujur jalanan, menguarkan bau serupa magnet yang memikat hati. Sebelumnya aku tidak pernah sekehilangan ini.

Ada cerita yang selalu ingin kuungkit tapi gagal dilantangkan dengan suara. Payah sekali. Tapi berjalan di area Benteng Vredenburg senja itu. Aku tahu dan berani mengakui. Bajuku masih bekas hujan yang belum mengering, rambutku masih basah seperti sehabis keramas. Tapi perasaan ini saja mungkin yang basi.

Tiba-tiba aku memutuskan untuk duduk sebentar. Beraneka ragam penjual, turis, hingga pengunjung yang silih berganti datang. Mataku hanya menatap lampu-lampu jalanan yang mulai menyala karena memang hari sudah gelap. Dari aneka barang yang kubeli, satu tiket perjalanan pulang mengusikku. Salahkah jika kubilang aku ingin menetap, memutari kota Jogja, mendampar ke kedai unik, toko barang antik, toko minuman rempah-rempah atau bahkan ke museum-museum bersejarah. Salahkah jika kubilang aku tidak akan pernah mencintai kota tempatku kuliah dan bahkan merasa muak untuk kembali.

Hari itu aku berani mengakui. Tentang skenario hidup yang tergarap dengan baik mendatangkan muram dan kusam. Kakiku seperti beku, masih ingin menjelajah kota ini. Kuhabiskan lebih dari seperempat jam untuk duduk di trotoar dekat de javasche bank. Tapi malam itu hujan kembali mampir membasahi kota ini seolah memintaku untuk secepatnya kembali. Aku mulai berjalan di tengah hiruk-pikuk. Malam itu aku resmi pulang, menenteng sebuah janji untuk datang kesana lagi meski tidak pernah tahu kapan lagi bisa berkunjung.

Aku tidak pernah menyesal memilih Malang sebagai tempatku berkuliah. Karena aku lebih beruntung dari ribuan manusia di luar sana yang tidak mampu mencapai mimpinya untuk kuliah disini. Hanya saja kota ini terlalu kaku, kadang membuatku bosan, monoton. Terkadang hal-hal sederhana dan tampilan uniklah yang membuatku jatuh cinta.

Aku sadar sepenuhnya. Rindu  ini pasti terlewat. Tentang perasaan yang terlalu dramatis dan barangkali berlebihan. Tapi suara di kepala itu berhasil keluar. Mengkombinasikan kebahagiaan dan muram. Berkali-kali aku datang ke Jogja dan selalu berhasil lolos dari rasa rindu, tapi tidak hari itu. Setiap malam aku selalu memikirkan kapan bisa kembali bahkan hanya untuk sekedar menikmati hujan atau minum kopi.

 

Catatan singkat saat gerimis di Yogyakarta

10 November 2018.

 

Melupa

Jika malam ini rindu di hatimu masih bernyawa. Tolong bisikkan padanya untuk segera melupa. Jika namaku masih membuatmu berdebar ketika terdengar, katakan jika perasaan ini perlu berhenti. Sebab kebersamaan bukan tanda kebahagiaan. Dan engkau tahu bahwa hati kita telah memilih untuk jatuh kepada yang lain.

 

Kembali

Messy bun, hair, photography, chill, hipster, overalls, books, reading
Pinterest.com

Mungkin karena engkau memang terlahir sebagai tinggi sehingga kakiku pun sulit mengejarmu, tanganku tak sanggup merengkuhmu.

Tapi aku ingin kembali. Menuntaskan takdir dan pilihan yang masih abu-abu antara iya dan tidak.

Aku mengerti, bahwa pilihan layaknya kosmik yang akan terus mengembang. Akan berubah sepanjang perjalanan, tapi jika aku mampu memilih satu, pasti aku akan memilihmu.

Hari ini biarkan aku kembali. Sebentar saja, mungkin esok akan hilang lagi. Sebab pilihanku tidak mampu menetap sebagai imortalitas. Jadi biarkan aku bertahan untuk beberapa waktu ke depan hingga bosan.

Seperti katamu dulu, jangan mengikat terlalu erat karena setiap hal pasti akan terlepas. Jika memang jalan ini ditakdirkan untuk dimiliki, pasti aku akan kembali. Mari kita terbangkan lagi mimpi. Mari terus menulis fiksi, mengeringkan bunga, menulis surat, menatap senja, menanti Venus.

Hingga saatnya kita tersadar. Mimpi ini sudah menjadi milik kita.

 

Catatan singkat di bulan hujan, untuk hati yang terus memilih untuk menulis.

 

Mencari

Aku sudah lama menghidupkan hidup ini. Maju, terus bergerak, terus merangkak mencari makna yang sesungguhnya. Kegagalan demi kegagalan telah terlalui seperti angin yang begitu saja menerobos bumi. Kegagalan itu terkadang membuat gentar untuk maju. Membuat sungkan untuk tetap berjalan. Namun stagnan dan berhenti bukan pilihan yang bisa dikoleksi begitu saja.

Kadang hidup ini aneh. Mereka memintaku bersabar hingga kegagalan ini tergeser oleh waktu. Mereka bilang “kegagalan adalah bagian keberhasilan”. Terlalu mudah untuk diterjemahkan. Terlampau sulit untuk benar-benar dimaknai. Hingga saat ini aku belum berhasil menemukan kombinasi yang tepat untuk mengartikan kalimat itu.

Terkadang perjalanan terasa seperti sebuah eksperimen yang membutuhkan berkali-kali uji coba untuk menemukan hipotesis yang tepat. Sungguh ketika banyak hal yang memburai di kepala. Aku akan lupa makna hidup yang sebenarnya. Kegagalan membuatku takut bereksperimen. Kegagalan membuatku gentar mengambil resiko untuk mencari makna perjuangan yang sesungguhnya.

Tidak pernah ada teori yang tepat tentang hidup. Jika ada, mereka pasti sedang berhalusinasi. Hidup terlalu sukar untuk dikaitkan dengan teori. Hidup adalah persepsi yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi. Satu hal yang aku tahu.

Aku benci gagal. Mungkin satu dua kali tidak terlalu ketara. Tapi kegagalan yang bertubi-tubi membuat takut untuk bereksperimen lagi. Entah bagaimana cara mengobati luka karena gagal. Obat itu masih misteri panjang. Untukku.

Aku belajar untuk tidak takut. Belajar berpijak pada kenyataan bahwa terkadang perjalanan tidak semulus air yang mengalir menuju laut. Aku masih mencari titik kulminasi itu. Mencari makna hidup, mencari arti kegagalan yang selalu buat bungkam. Aku tahu. Hidup itu sulit, hidup itu tidak mudah, dan hidupku salah satu yang penuh kegagalan.