Mencari

Aku sudah lama menghidupkan hidup ini. Maju, terus bergerak, terus merangkak mencari makna yang sesungguhnya. Kegagalan demi kegagalan telah terlalui seperti angin yang begitu saja menerobos bumi. Kegagalan itu terkadang membuat gentar untuk maju. Membuat sungkan untuk tetap berjalan. Namun stagnan dan berhenti bukan pilihan yang bisa dikoleksi begitu saja.

Kadang hidup ini aneh. Mereka memintaku bersabar hingga kegagalan ini tergeser oleh waktu. Mereka bilang “kegagalan adalah bagian keberhasilan”. Terlalu mudah untuk diterjemahkan. Terlampau sulit untuk benar-benar dimaknai. Hingga saat ini aku belum berhasil menemukan kombinasi yang tepat untuk mengartikan kalimat itu.

Terkadang perjalanan terasa seperti sebuah eksperimen yang membutuhkan berkali-kali uji coba untuk menemukan hipotesis yang tepat. Sungguh ketika banyak hal yang memburai di kepala. Aku akan lupa makna hidup yang sebenarnya. Kegagalan membuatku takut bereksperimen. Kegagalan membuatku gentar mengambil resiko untuk mencari makna perjuangan yang sesungguhnya.

Tidak pernah ada teori yang tepat tentang hidup. Jika ada, mereka pasti sedang berhalusinasi. Hidup terlalu sukar untuk dikaitkan dengan teori. Hidup adalah persepsi yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi. Satu hal yang aku tahu.

Aku benci gagal. Mungkin satu dua kali tidak terlalu ketara. Tapi kegagalan yang bertubi-tubi membuat takut untuk bereksperimen lagi. Entah bagaimana cara mengobati luka karena gagal. Obat itu masih misteri panjang. Untukku.

Aku belajar untuk tidak takut. Belajar berpijak pada kenyataan bahwa terkadang perjalanan tidak semulus air yang mengalir menuju laut. Aku masih mencari titik kulminasi itu. Mencari makna hidup, mencari arti kegagalan yang selalu buat bungkam. Aku tahu. Hidup itu sulit, hidup itu tidak mudah, dan hidupku salah satu yang penuh kegagalan.

Iklan

Merangkum Senja dan Gelap

happily // ✧

Pandanganmu akan segera terfokus pada satu titik setibanya senja di cakrawala. Itulah yang berhasil aku simpulkan setelah sekian lama bersamamu. Bahkan sebelum ritual mengamati senja di mulai. Engkau terlebih dahulu menyiapkan coklat panas, roti kaleng, dan sebuah buku catatan yang selalu engkau bawa kemanapun.

Senja. Kata itu sekumpulan inspirasi yang membuatmu terbelenggu, pecah, ribut, berantakan hingga akhirnya menemukan ide di kepala. Entah sejak kapan, bagimu menyaksikan piringan matahari yang mulai hilang adalah salah satu mukjizat yang dikirim Tuhan. Lama sekali engkau berpikir sambil menelusuri langit yang berpadu antara biru, abu-abu, dan temaram matahari yang mulai terkikis dari horizon.

Langit kita mulai hitam, sekian lama kita merunut waktu hingga bisa mempertemukan senja dan gelap. Hari ini kita harus kembali dengan mimpi, dengan inspirasi, dengan arti menganggumi.

Aku telah mencintaimu sekian lama seperti kucintai diriku sendiri. Kita mungkin terbias oleh waktu, tapi aku ada, seperti senja yang rapuh digusur malam, seperti matahari yang mulai redup dari langit.

Hingga dua bait inspirasimu keluar. Aku percaya jika menulis adalah nyawa, dan alam adalah saksi bisu perjuanganmu. Termasuk senja dan gelap di dalamnya meski dua fenomena itu tidak terdeskripsi dengan lengkap di buku.

Sejak engkau menulis tiga tahun yang lalu. Engkau pergi mengajakku ke tempat yang otentik demi perjuangan mencari arti kehidupan. Meski sebenarnya yang kau cari adalah inspirasi untuk memunculkan baris per baris kata. Percayalah jika terkadang dia datang lewat hal-hal sederhana bukan hal yang mahal atau ekstra.

Engkau bercerita bahwa menulis adalah hal terbaik dari semesta. Sama seperti mencari jati diri. Ketika sesapan demi sesapan menandaskan coklat panas di cangkir itu, hingga roti di kaleng itu tinggal remahan. Kisahmu belum selesai.

Kita tidak gagal berevolusi, aku mengingat mimpimu menjadi Cosmologist yang bisa merangkum waktu lewat kalender kosmik. Tapi percayakah, bahwa engkau sesungguhnya tidak gagal. Engkau mampu merangkum senja dan gelap menjadi kalimat indah yang berhasil membuatku larut bersama seluruh tujuanmu.

Kita masih ada, lewat warna cerah di barat dan gelap di timur. Hanya waktu yang terus bergulir dan kita ikut mengalir. Tapi percayakah, tujuan kita bukan untuk abadi. Melainkan terus berkarya hingga mimpi ini bukan lagi mimpi.

Tiga baris pertamaku tertulis. Setidaknya tiga bait itu -dua darimu dan satu dariku- mulai terakumulasi menjadi selembar puisi. Entah mengapa tiga selalu menjadi angka sakral untuk memulai.

Merangkum senja dan gelap, bersama waktu yang berjalan.

Engkau memutuskan berhenti menyelesaikan karya ini dan mengajakku kembali pulang. Senja di langit telah habis. Tidak ada guratan mentari sama sekali menandakan malam telah tiba.

Esok kita akan kembali lagi. Untuk menuntaskan harapan ini. Agar perjalanan yang telah jauh ditempuh tidak sia-sia.

Kepada senja, datanglah dengan bahagia. Karena kita masih ada, menunggumu lindap berkejaran dengan gelap.

…………….

Malang,

29 April 2018,

Ketika senja tiba.

 

 

 

It’s Not Your Job To Be Everything To Everyone.

YES!!!!!!!!!!!!!!!! It is the hardship of my life!!!!!!!!!!!!!!!
Pinterest.com

Bisa memahami orang lain pasti pernah jadi salah satu ekspektasi yang orang lemparkan ke kita. Tapi apa sebenarnya makna dari memahami itu sendiri. Melalui pengalaman pribadi dan studi yang berkaitan dengan psikologi saya mulai mengerti makna krusial dari Individual differences dan stigma yang selalu kita lemparkan ke orang-orang di sekitar kita.

Pada dasarnya semua manusia memang memiliki hidup yang berbeda mulai dari keluarga, masa kecil, pengalaman, kegagalan, kesedihan dan masih banyak hal lagi. Tapi kenapa setiap melihat orang lain melakukan sesuatu ada beberapa orang yang cenderung menganggap itu sebagai kesalahan. Mengapa tidak mencoba memahami latar belakang seseorang dulu lalu baru memberi saran. Mengapa ada beberapa orang secara otomatis langsung melabel buruk orang lain, otomatis menghakimi dan menghina.

Beberapa orang diciptakan dengan kapasitas berbeda. Ada orang dewasa dan matang serta bisa memahami orang lain dengan mudah. Ada yang tidak bisa memahami orang sama sekali. Anda mungkin salah satunya. Jika anda lebih pada sifat yang kedua tidak pernah kah terpikir bahwa orang lain pasti punya pertimbangan setiap melakukan hal, setiap orang punya pertimbangan dalam memilih. Dan kita dengan mudahnya langsung menghakimi begitu saja dan parahnya ada beberapa dari kita yang melakukan bullying pada orang tersebut.

Mengkaitkan dengan Teori Psikologi Individual Differences, memang setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda dalam kehidupannya oleh karena itu ada beberapa dari kita mungkin merespon stimuli dengan berbeda. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda jadi jika kita tidak bisa menyalahkan orang tersebut hanya karena keputusannya tidak sesuai dengan argumen kita apalagi jika keputusan tersebut tidak melanggar hak kita sama sekali.

Tapi mengapa kita begitu mudah menghakimi orang lain. Mungkin anda sering mendengar kutipan ini “Don’t judge a book by its cover”. Secara alamiah memang kita merespon lingkungan terutama lebih mudah merespon stimulus yang konkrit daripada yang abstrak. Kecenderungan menilai apa yang bisa kita lihat memang lebih besar dari pada hal abstrak seperti perasaan, suasana hati, dan hal yang tidak terlihat lain. Kita bisa melihat orang lain tertawa padahal belum tentu ia benar-benar bahagia, kita bisa melihat orang lain tersenyum padahal sebenarnya ia sedang sedih. Maka karena itu cobalah memahami orang lain karena mereka butuh dipahami, mereka butuh dihargai, dan mereka butuh didukung.

Lalu bagaimana menghadapi argumen orang yang tidak setuju pada keputusan kita. Kita tidak bisa menjadi segalanya bagi semua orang karena kapabilitas masing-masing manusia yang berbeda. Jika anda menemui teman yang selalu menghakimi keputusan anda padahal keputusan itu sudah sesuai dengan banyak pertimbangan. Anggap saja orang tersebut memang belum mature, karena dalam teori psikologi kognitif milik Jean Piaget, usia sesorang menentukan tingkat egosentrismenya, jadi semakin dewasa otomatis dia akan bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, tidak egois, serta mampu menempatkan diri. Namun karena usia tidak menentukan kedewasaan seseorang anggap saja orang tersebut memang belum sepenuhnya mature. Dan anda tidak perlu ambil pusing dalam menghadapi hal tersebut.

You can’t change how people think about you, so enough trying. Just live your life and be happy.

Malang, April 2018.

Dua Tahun

Hari ini tepat dua tahun saya menggunakan WordPress sebagai media untuk menulis. Saya tidak ingat betul kenapa waktu itu saya memilih WordPress dan blog ini untuk menulis cerita-cerita fiksi saya. Ada beberapa hal yang saya ingat tapi tidak terlalu signifikan dan alasan-alasan simple lain yang membuat tertarik untuk mengulas kembali.

Beberapa tahun yang lalu, mungkin tepatnya tiga atau empat tahun lalu. Ada sebuah blog WordPress yang selalu saya kunjungi hampir setiap hari. Tulisan-tulisan yang dibuat pemilik blog itu selalu berhasil membuat saya jatuh cinta meskipun isinya hanya puisi-puisi singkat. Karena si penulis puisi tersebut selalu mencantumkan gambar dari Weheartit.com sebagai pelengkap, saya jadi ikut terbawa suasana karena gambar yang aesthetic dan tulisan yang bagus tersebut.

Beberapa tahun kemudian setelah menyelami tulisan-tulisan yang saya kagumi di blog itu, saya memutuskan untuk punya blog sendiri dan memilih WordPress. Saya bahkan ingat betul follower pertama saya di blog ini. Memulai menulis puisi singkat sama seperti blog yang saya kagumi adalah langkah awal saya mengisi blog ini. Waktu itu saya berharap tulisan saya akan sebagus blog yang saya kagumi tersebut. Tak lupa juga saya menambahkan gambar dari Weheartit.com sebagai pelengkap. Tujuannya simple, saya harap orang yang membaca tulisan saya akan ikut merasakan perasaan yang hadir saat menulisnya.

Awal-awal blog ini saya begitu bersemangat dalam menulis dan selalu punya waktu luang. Tulisan-tulisan amatir, abstrak atau bahkan yang tidak memiliki makna sekalipun sudah jadi bagian dari blog ini. Hari ini, atau beberapa bulan yang lalu saya bahkan sangat jarang menengok blog atau content yang ditulis pemilik blog lain. Sibuk kuliah dan kegiatan kepanitiaan lain membuat saya lupa mengurusi blog. Mungkin saya akan mempublish satu atau dua content saja dalam rentang waktu sebulan.

Tepatnya setahun yang lalu saya sudah memulai sebuah proyek tulisan yang rencananya ingin saya terbitkan dalam bentuk sebuah buku. Memang tidak setiap hari saya menulis, kadang seminggu sekali, dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Menyesuaikan waktu yang ada. Tapi saya berharap tahun ini atau tahun depan atau tahun-tahun yang akan datang buku tersebut bisa kalian baca dalam bentuk cetakan.

Malang, 17 Februari 2018.

 

 

Surut

2d7de121cec5f347f6f51d19c4283f08
Pinterest.com

Jiwamu pasti ikut bergerak bersama angin. Aku tahu, karena hidup adalah gelombang di lautan yang kadang pasang kadang surut. Menjadi air laut yang mengembang mengempis adalah kodratmu sebagai petarung. Kini engkau tak lagi takut tenggelam. Sekarang kau menjelma makhluk yang memiliki dua media pernapasan.

Matamu berkaca-kaca, tumpukan gelisah itu ingin jatuh perlahan menuju pipimu. Namun engkau tahan. Seolah linangan itu engkau hisap kembali ke matamu agar tidak jatuh. Engkau percaya linangan ini akan mengaburkanmu saat memandang dunia. Memutuskan untuk tidak menangis adalah pilihanmu menghadapi kehidupan.

Aku tidak terlalu tahu cerita-cerita apa yang kau tulis. Entah sedih entah bahagia atau campuran antara keduanya. Yang kutahu engkau tetap memilih tertawa meskipun disana ada beban yang kau seret sendirian. Karena engkau hebat, engkau mampu memikul apa saja meskipun terlihat berat.

Jiwamu sudah seirama dengan angin. Bahkan angin mengikuti pergerakanmu yang hilir mudik di udara. Aku mulai mengerti cerita-cerita yang kau tulis. Cerita abstrak yang tidak memiliki arti apapun kecuali perjuangan. Sekarang aku paham.

Engkau memilih terus bergerak, hingga pasang surut ombak tak bisa lagi mempermainkanmu.

Sebuah Surat dari Rennes

Pinterest.com

Hujan pagi ini sekelebat hadir setelah tukang pos mengantar surat. Pukul 9.45 pagi suratmu sampai setelah jauh menyeberangi benua-benua. Perjalanan yang begitu jauh itu tentu tidak sia-sia karena telah sampai pada alamat yang tepat. Mungkin tidak terlalu masuk akal di era komunikasi yang super canggih ini jika masih ada beberapa manusia yang memutuskan untuk bertukar kabar melalui surat. Manusia-manusia itu memilih untuk menikmati prosesi mengirim surat yang magis dan dramatis. Bayangkan saja, menunggu suratmu datang memerlukan waktu sekitar sebulan, jika hari ini engkau memutuskan untuk menulis surat maka tiga puluh hari yang akan datang itu suratmu baru sampai ke tujuannya. Karena begitu lamanya menunggu surat akhirnya prosesi bertukar kabar ini menjadi lebih sakral dan berkesan.

Pagi ini setelah tukang pos membalikkan arah motor untuk kembali ke kantor pos. Aku tidak cepat-cepat membuka surat yang engkau kirimkan. Aku terlebih dahulu melangkahkan kaki ke markas favoritku dalam melakukan hal-hal ajaib, kamar. Satu-satunya dimensi ruang yang menghubungkan aku dengan kompleks kognitif yang selalu giat bekerja untuk berpikir, menulis, memutuskan hal bahkan prosesi sekali sebulan ini.

Surat darimu engkau bungkus rapi dengan amplop surat warna putih berornamen pohon Pinus. Aneh, bagiku perayaan Natal sudah terlewat jauh sekali bahkan aku tidak lagi mengingat apa saja yang aku lakukan ketika Natal. Ada kotak kecil di bagian bawah bertuliskan alamat pengirim yang tentu saja engkau tulis dengan tanganmu sendiri. Jantungku seolah memompa darah lebih cepat ketika aku memutuskan untuk membuka amplop.

Di dalam amplop, tidak ada yang spesial, hanya sebuah kertas dengan tulisan seperti surat pada umumnya. Yang berbeda hanya engkau sengaja menambahkan sebuah plastik berisikan dua lembar daun pohon Oak yang mengering. Aku menduga daun ini sudah engkau simpan sejak September tahun lalu ketika musim gugur menerpa kotamu. Aku bahagia engkau tidak lupa. Aku bahagia engkau mengingat-ingat percakapan tidak penting tentang kehidupanku.

Aku membaca suratmu perlahan. Hanya beberapa paragraf yang engkau tulis. Hanya berisi cerita-cerita biasa dan tentang daun Oak yang ikut serta di dalamnya. Aku membaca hingga kata terakhir tanpa terlewat. Aku membayangkan saat engkau menulis surat ini sebulan yang lalu tanpa perasaan apapun kecuali kebahagiaan.

Hari ini, aku tidak lagi mendengar mimpi-mimpimu. Aku tidak lagi mendengar cerita-cerita yang membuatku tertawa hingga lupa waktu. Hari ini engkau tidak lagi bermimpi untuk duduk di bawah Pohon Oak bersamaku sambil menikmati senja di Rennes. Hari ini kita telah berbeda.

Terakhir aku mengemasi suratmu dan mengembalikannya pada amplop. Aku membayangkan surat inilah yang terakhir aku terima. Tidak akan ada surat darimu bulan depan. Tidak akan ada surat darimu di tahun-tahun yang akan datang.

Di bawah Pohon Oak engkau dan aku akan duduk bersama

Membaur bersama senja,

Berguguran bersama daun-daun kering

Melukis mimpi pada kanvas, mematrinya pada semesta

Bersama Pohon Oak aku akan menerjang angin

Mengejar belukar awan, menunggu daun-daun semi dalam dingin

Di bawah pohon Oak engkau menunggu musim

Laju yang tak pernah tentu,

Suara-suara yang memanggilmu adalah perasaan rindu

Membuyar bersama taburan angin

Kata-kata darimu telah tergerai oleh waktu

Tidak ada kita yang tersisa

Hanya kertas-kertas kusam yang menua

Hanya rasa yang tinggal tanpa ada kuasa

P.S: Entah kenapa terinspirasi buat nulis karya fiksi ini setelah hampir sebulan ngga ada postingan baru di blog.

Menemui Laut

sun goes
Pinterest.com

Aku ingin bertemu dengan laut. Menceritakan penat yang selama ini bungkam di kepala. Aku ingin bercerita mengenai medan kehidupan yang kadang tak semulus perjalanan ombak dari tengah samudera menuju ke tepiannya.

Aku ingin menemui laut. Sendirian atau barangkali dengan satu atau dua teman saja tanpa ada manusia lain. Aku ingin merasakan aroma lautan dan terpaan angin ketika senja sudah mulai mengambang di langit. Aku akan bercerita sambil menyaksikan matahari yang mulai menyisih ke barat seiring munculnya gulita.

Wahai laut, mengertilah. Kehidupanku lebih menyakitkan dari sekedar jatuh cinta kemudian patah hati. Cerita ini terlalu kompleks dan abstrak, kuharap engkau mengerti. Barangkali aku akan menghabiskan berjam-jam untuk berdiskusi denganmu tentang kehidupan.

Apa engkau akan memahami. Aku tengah berusaha berdamai dengan keadaan. Aku tidak putus asa. Tidak juga mencari celah untuk pergi dari keadaan ini. Hanya saja terkadang beban ini terlalu berat untuk dipikul sendirian. Aku tidak pernah membutuhkan orang lain, mungkin hanya kata-kata yang bisa menguatkan agar semua beban mampu terangkat.

Wahai laut, semoga aku bisa menemuimu sesegera mungkin. Agar semua cerita ini bukan hanya kolase yang bungkam di kepala. Tahukah engkau, aku ingin melebur bersama ombakmu yang menerjang lautan tanpa ketakutan. Aku ingin menjelma anginmu yang menyusuri udara tanpa takut tersesat. Aku ingin menjadi senjamu yang tidak takut pada perpisahan.

Wahai laut, semoga engkau tengah menantiku.