Tanyakan Pada Bintang

Tanyakan Pada Bintang

Bertahun-tahun, aku menyimpanmu sebagai mimpi. Baris-baris kutulis lirih sebagai kelopak cahaya yang akan mekar pada waktunya. Kenangan aku rajut satu persatu agar tak lepas dari ingatan. Sekian tahun aku berandai-andai menggapaimu lewat buih hujan, lewat gerimis riwis yang selalu aku tulis pada kertas. Karena bagiku engkaulah cahaya yang menerangi langkah ketika kakiku ibarat jalan-jalan kehilangan basah. Tahun sudah merupa musim kehilangan hujan.

Aku bercerita kepada gelap, remang yang menjelma nokturno. Tentang malam yang aku habiskan dengan membacamu, mempelajari gerak-gerikmu yang makin jauh. Namun selamanya engkau utuh. Tanyakan pada detak jam yang menghitung kehidupan. Engkau tak pernah lekang dari ingatan, satu detik pun tak pernah terlewatkan.

Tanyakan pada bintang apa yang ia katakan kepada langit sebelum hujan. Berhentikah ia menyakiti setelah lama menanti. Pena,kertas, dan kehidupan berceceran di meja. Menanti wajahmu terlukis megah pada langit setelah hujan reda. Tanyakan pada bintang tentang engkau yang aku rangkum dalam baris-baris harapan. Pernahkah engkau hilang, atau sekadar terlupakan.

Aku mencintaimu, lebih tebal dari lapisan barisfer, dan lebih rumit dari sekedar melewati labirin kata-kata. Barangkali seperti menanti cahaya ketika tahunku meruap musim-musim berselimut hujan. Tak ada bintang, cahaya menerangi ingatan yang merindu bisu. Namun aku tetap menulismu, sebagai baris-baris harapan yang kuyakini akan berpendar.