Dua Judul Lagu

Write.
Pinterest.com

Aku selalu mendengar dua judul lagu sebelum memulai menulis, atau bahkan terkadang lagu itu tetap kuputar saat aku sedang menulis. Bagiku, dua lagu itu sangat bermakna. Orang lain menganggapnya biasa saja tapi tidak untukku.

Barangkali dua judul yang selalu aku putar itu belum bisa dikatakan lagu, sebab hanya kombinasi berbagai alat musik tanpa dilengkapi lirik. Namun alunan nada itu seperti nyanyian sakral yang selalu aku putar dan sukses mendatangkan inspirasi ke kepala.

Hingga sekarang, sudah lebih dari satu tahun aku mendengar dua judul itu sebelum menulis. Ada perasaan yang terikat kuat ketika kombinasi itu terdengar. Mungkin perasaan ini bisa dikaitkan dengan sebuah riset psikologi yang menemukan bahwa hal-hal yang membuat rileks akan membuat otak kita terstimulasi.

Dua judul itu, mungkin bukan alunan nada yang selalu aku putar. Tapi aku selalu membutuhkannya setiap kali menulis.

Iklan

Dingin

7959132dd8b0a413ba8424bcf04ae938
Pinterest.com

Malammu mendingin,

Menjadi beku ketika salju mulai turun pelan-pelan dari langit. Udara di kotamu tinggal gumpalan oksigen yang sakit ketika dihirup. Engkau mungkin mampu menghembuskan udara, tapi aku tahu ada secercah harapan yang sengaja engkau simpan, tidak ingin lagi engkau hempaskan.

Dan di tempat itu engkau terdiam. Memikirkan kira-kira kalimat apa yang bisa digunakan untuk menyatakan maksud dengan tepat. Tanpa perlu ada tanya lagi yang mengikuti setelahnya. Lalu engkau akan mulai mencoret-coret buku sketsamu, memikirkan objek yang sempurna sebagai hadiah untukku meski engkau tahu aku selalu mencintai karyamu.

Pikiranmu selalu menghadirkan bayanganku. Mungkin perasaanmu sama persis seperti udara di bulan ini yang sakit ketika dihirup namun engkau tetap harus menghirup karena ialah alasanmu untuk tetap hidup.

Barangkali, akulah udara yang engkau hembuskan namun tetap kau tarik kembali. Barangkali, akulah dingin yang membuatmu merasa kesakitan lagi dan lagi.

.

.

Malang, 28 November 2017

 

Bertanya pada Kedalaman

Deus sabe o que é melhor pra mim
Pinterest.com

Kisah-kisah di buku ini tidak pernah habis. Entah kapan akan terhenti. Lajunya waktu yang selalu menentukan latar, tokoh dan juga alurnya. Kisah ini kadang sedih kadang bahagia. Meski lebih sering menampilkan luka dan air mata.

Engkau ingin berdiskusi dengan suara alam. Bertanya mengenai akhir cerita yang telah kau baca sejak belasan tahun silam. Berteriak kepada hujan yang sesekali kau terobos untuk menemukan jawaban. Dan tibalah waktu ketika hujan telah berhenti dan engkau kembali pulang tanpa membawa apa-apa.

Sesekali ingin rasanya engkau membenam ke dalam laut. Bertanya pada kedalaman. Apakah ia menyimpan jawaban tentang akhir kisah-kisahmu. Sebab tak ada seorang pun yang berusaha menemui kedalaman untuk mencari tahu.  Tapi sistem kesadaran dalam otakmu masih berfungsi, engkau ingin menemukan jawaban tanpa perlu mati. Sekarang ataupun nanti.

Engkau tak mengerti mengenai akhirmu sendiri. Lebih sering engkau lihat berbagai jenis manusia hilir mudik melewati kehidupannya menggenggam kisah mereka. Dengan segenap senyuman, sekumpulan air mata dan juga tumpukan perjuangan yang menggunung tinggi. Dan engkau masih disini, pada titik yang sama dimana biasanya engkau menangis malam-malam agar tak ada seorang pun bertanya mengapa.

Kisah-kisah di bukumu pasti akan berakhir. Entah bergema sedih atau bahagia. Kembalikan kepada waktu yang mensistem dengan sedemikian rupa. Engkau biarkan kisah-kisah di bukumu bermakna meski tanpa mendapat jawaban apa-apa. Karena hidup semestinya bergulir seperti hujan yang menemui Bumi. Apakah engkau tahu, bahwa partikel hujan pun membutuhkan proses panjang sebelum dijatuhkan ke Bumi. Dan engkau memilih untuk terus berdiskusi dengan alam. Tanpa perlu menyerah. Sekarang.

Camomile

Aku rindu wangi teh yang engkau seduh sebelum matahari tiba di angkasa, tanpa gula dan hanya wangi yang mengudara. 

Aroma teh yang menguar saat langit masih gelap. Hampir tiga bulan ini tidak lagi kulihat engkau disini. Engkau tidak meninggalkan surat bahkan tidak ada sebaris pesan. Hanya kenangan yang engkau tinggal dan wangi parfummu yang masih melekat.

Setiap kali hujan, aku masih membayangkan tanganmu yang menengadah langit sambil merasakan jatuhnya hujan. Engkau akan berlari ke teras rumah sambil mendengar bisikan hujan. Suara alam paling merdu, untukmu.

Aku tidak tahu pasti apakah engkau masih mengejar mimpimu. Karena lebih sering engkau menangis dari pada berlari. 

Kenangan akanmu masih sering larut bersama teh panasku setiap senja. Aromamu masih kucium sama saat seperti hujan tiba. Engkau perempuan yang mencintai hujan yang ingin jatuh bersama tiap butir air dari langit. 

Aku tak pernah tahu apa engkau akan kembali, engkau bukan lagi perempuan hujan. Bukan lagi yang berlari ke teras rumah sambil bernyanyi. Namun aku masih disini, menyeduh teh dan berharap engkau kembali.


Surat Buat Venus

Sudah sejak umur 14 tahun suka menulis surat buat Venus. Entah karena alasan yang mana. Venus salah satu bintang yang terang dan muncul paling awal. Dan karena saya salah satu orang yang kagum sama Astronomi. Hobi nulis surat ini terus saya lakukan sampai sekarang.

Venus seperti seorang teman. Meskipun tidak ada manifestasi nyata sebagai makhluk hidup. Tapi setiap ada momen yang berarti, pasti selalu saya bagikan ke Venus. Venus bintang favoritku dari kecil dan ia mengingatkanku pada ayah yang suka ngajak olah raga tiap pukul lima pagi, dan setiap memandang ke langit timur, selalu ada venus disana. 

Venus mungkin hanyalah salah satu hal absurd yang tiba-tiba melintas. Tapi setiap menulis surat, aku berharap suatu ketika bisa melihat Venus di Belanda. Melihatnya sambil minum secangkir coklat panas sambil menulis surat. Indah sekali. Suatu saat aku ingin membeli teropong supaya bisa melihat Venus lebih jelas lagi. Supaya bisa bermimpi lebih banyak lagi. 

Malang, 2017

Engkau Ada

Hei,

Aku merindukanmu, seperti gurun luas yang mendambakan hujan. Meski datangnya tak pernah berwaktu. Rindu seperti ranting yang mendamba tunas daun setelah ranggas. Tapi lihatlah, semua hanya butuh waktu.

Engkau lihat, aku mampu melihatmu diantara kelip lampu kota ketika malam, di tempat yang tinggi ketika seolah bintang dan lampu-lampu itu menyatu menyajikan sebuah pemandangan spektakuler. Dan aku ingat, engkau selalu menjadi tempatku kembali, untuk bermimpi.

Dan kini, aku disini. Kembali mengerahkan tenaga ekstra. Untuk tujuan yang berlipat ganda. Meski engkau bukan satu-satunya. Setidaknya engkau ada, bersama bayangan abstrak lain yang selalu ingin kurealisasikan.

Percayalah,

Engkau selalu ada, hanya saja terkadang aku lupa. Bahwa engkau juga mimpiku.

Bahwa engkau juga tujuanku.

Malang, 2017

Wish List

image
Pinterest.com

Netherlands,
Mendengar kata itu saja sudah bikin gemetar nggak keruan. Iya, ada sebuah wish list yang pengen saya wujudkan. Masih butuh waktu yang panjang memang. Tapi mimpi itu selalu ada, selalu terbayang-bayang setiap saat, bagaimana rasanya menikmati secangkir Teh sambil mengamati senja di Amsterdam, bagaimana rasanya mengunjungi kebun-kebun bunga disana saat musim semi tiba atau duduk di taman ketika daun-daun berguguran seperti sedang hujan.

Pasti dibutuhkan pengorbanan dan kerja keras untuk mendapat beasiswa kesana. Tapi mimpi itu, sekali lagi ingin saya cicil satu-persatu agar terasa ringan. Sedikit melangkah meskipun hanya sejengkal namun setidaknya ada perubahan posisi dan tidak stagnan di tempat saja.

Mimpi itu, akan saya wujudkan. Pasti.